LINTASBUDAYANUSANTARALINTASBUDAYANUSANTARA

Jurnal Kajian Budaya dan HumanioraJurnal Kajian Budaya dan Humaniora

Pada awal abad ke-20 terjadi beberapa gerakan sosial di Kabupaten Bandung, khususnya di Ciparay, Banjaran, dan Majalaya serta di desa-desa sekitarnya. Gerakan sosial ini ternyata melibatkan Sarekat Islam. Penelitian difokuskan untuk mencari jawaban mengapa terjadi gerakan sosial di daerah pedesaan tersebut. Dengan menggunakan metode sejarah kritis yang terdiri atas empat tahap yaitu heuristik, kritik eksternal dan internal, interpretasi serta historiografi dapat dinarasikan peristiwa-peristiwa gerakan sosial yang terjadi. Dan dengan pendekatan menggunakan teori Perilaku Kolektif dari Neil J. Smelser dapat dijelaskan mengapa dan bagaimana gerakan sosial di Ciparay, Banjaran, dan Majalaya serta di desa-desa sekitarnya dapat terjadi. Menurut Teori Perilaku Kolektif yang berdasarkan Value added theory, dapat disimpulkan bahwa ada enam faktor yang menyebabkan mengapa gerakan sosial sebagai salah satu bentuk perilaku kolektif dapat terjadi.

Analisis dengan menggunakan Teori Perilaku Kolektif Smelser berhasil menjelaskan bahwa gerakan sosial di Kabupaten Bandung pada awal abad ke-20 dipicu oleh kombinasi faktor struktural, termasuk pengaruh pendidikan Barat dan munculnya kelas intelektual, serta peran organisasional Sarekat Islam.Pertumbuhan signifikan jumlah anggota Sarekat Islam menciptakan ketegangan struktural yang memperkuat mobilisasi massa, sementara penyebaran kepercayaan mistik tentang Ratu Adil menambah dimensi ideologis gerakan.Dengan demikian, enam faktor yang diidentifikasi melalui kerangka Value‑Added Theory merupakan penyebab utama terjadinya perilaku kolektif tersebut.

Penelitian lanjutan dapat memperluas kajian dengan membandingkan dinamika gerakan sosial di Kabupaten Bandung dengan daerah lain di Jawa Barat yang juga mengalami transformasi pendidikan Barat pada awal abad ke‑20, sehingga dapat menguji apakah pola enam faktor Smelser bersifat umum atau khusus wilayah. Selanjutnya, pemanfaatan data arsip digital untuk melakukan analisis jaringan sosial anggota Sarekat Islam dapat memberikan gambaran kuantitatif mengenai struktur hubungan antar tokoh, tingkat keterhubungan, dan peran sentralitas dalam proses mobilisasi, yang selama ini belum terexplorasi secara sistematis. Akhirnya, fokus pada peran gender, khususnya kontribusi perempuan dalam gerakan tersebut, dapat mengungkap dimensi sosio‑kultural yang terabaikan; penelitian kualitatif yang menggabungkan sumber lisan dan dokumen pribadi dapat menilai sejauh mana partisipasi perempuan memengaruhi strategi dan hasil gerakan sosial pada masa itu.

Read online
File size214.86 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test