UMWUMW

Jurnal MediLab Mandala WaluyaJurnal MediLab Mandala Waluya

Diabetes Melitus adalah suatu keadaan dimana kadar gula darah lebih tinggi dari normal atau hiperglikemia karena tubuh tidak dapat mensekresi atau menggunakan hormon insulin secara cukup. Salah satu penyakit yang sering menyertai penderita diabetes Melitus adalah Hipertensi. Pada DM Tipe 2 terjadi hiperglikemia yang cenderung menimbulkan stres oksidatif yang memicu auto oksidasi glukosa sehingga terbentuk ROS (Reactive Oxygen Spesies), oksigen radikal akan merusak DNA inti sehingga proses glikolisis terganggu dan menyebabkan munculnya jalur AGE dan meningkatkan kadar IL-6 penyebab kerusakan vaskuler. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui adanya Interleukin-6 (IL–6) pada pasien diabetes Melitus tipe II yang hipertensi dan non hipertensi. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Populasi penelitian ini adalah seluruh penderita Diabetes Melitus tipe II yang menjalani perawatan inap dan perawatan jalan di Puskesmas Puuwatu Kota Kendari sebanyak 6 orang. Populasi tersebut kemudian dijadikan sebagai sampel. Usia tertinggi pasien DM Tipe II yang non hipertensi adalah 86 tahun dengan kadar glukosa 330 mg/dl serta tekanan darah 120/80 mm/Hg sedangkan yang usia terendah 45 tahun dengan kadar glukosa 245 mg/dl serta tekanan darah 110/90. Usia tertinggi pasien DM Tipe II yang hipertensi adalah 63 tahun dengan kadar glukosa 235 mg/dl serta tekanan darah 130/90 mm/Hg sedangkan yang usia terendah 46 tahun dengan kadar glukosa 249 mg/dl serta tekanan darah 140/100. Hasil pemeriksaan interleukin-6 pada pasien DM tipe 2 yang mengalami hipertensi dan non hipertensi dinyatakan negatif. Untuk penelitian selanjutnya pemeriksaan interleukin 6 pada penderita DM yang hipertensi dan non hipertensi perlu dilakukan dengan menggunakan metode ELISA dan menggunakan sampel dengan jumlah yang lebih banyak.

Dari hasil penelitian, tidak terdeteksi interleukin‑6 pada pasien diabetes melitus tipe II baik yang hipertensi maupun non‑hipertensi dengan metode PCR.Hasil ini menunjukkan bahwa pada sampel kecil yang diuji, IL‑6 tidak hadir atau berada di bawah batas deteksi.Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan metode ELISA dengan jumlah sampel yang lebih besar untuk menilai secara lebih akurat keberadaan IL‑6 pada populasi tersebut.

Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki prevalensi kadar serum IL‑6 pada kelompok yang lebih besar dengan menggunakan metode ELISA, sehingga dapat menguji korelasi antara tingkat IL‑6 dan kontrol glukosa pada pasien diabetes tipe II yang hipertensi maupun non‑hipertensi. Selain itu, studi dapat mengevaluasi pengaruh terapi anti‑inflamasi, seperti antagonis reseptor IL‑6, terhadap tekanan darah dan sensitivitas insulin pada pasien diabetes dengan hipertensi, untuk mengetahui apakah penurunan IL‑6 berkontribusi pada perbaikan metabolik. Selanjutnya, penelitian longitudinal dapat memantau perubahan marker stres oksidatif (ROS, AGE) dan ekspresi IL‑6 pada penderita diabetes selama periode waktu tertentu, guna menilai apakah pola perubahan tersebut dapat memprediksi komplikasi vaskuler di masa depan. Semua ide penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang peran IL‑6 dalam patofisiologi diabetes dan hipertensi, serta membuka peluang intervensi klinis yang lebih efektif.

Read online
File size332.31 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test