KYADIRENKYADIREN

Pulchra Lingua: A Journal of Language Study, Literature & LinguisticsPulchra Lingua: A Journal of Language Study, Literature & Linguistics

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan dan makna simbolik tradisi Molelase (raba perut) pada masyarakat suku Tialo di Desa Tomini, Kabupaten Parigi Moutong. Tradisi ini merupakan ritual doa dan perlindungan bagi ibu hamil serta janin pada usia kehamilan tujuh bulan agar proses persalinan berjalan lancar. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, pencatatan, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat sebelas simbol utama dalam prosesi Molelase, yaitu: (1) daun awar-awar, (2) daun kunyit, (3) daun andong hijau, (4) daun andong merah, (5) daun cocor bebek, (6) tali daun lontar, (7) ayam betina hitam, (8) uang koin, (9) lilin dan korek, (10) pisau, serta (11) beras putih. Secara simbolik, perangkat tersebut merepresentasikan permohonan perlindungan dari roh jahat, kekuatan fisik dalam persalinan, pencerahan hidup, serta harapan keberkahan rezeki bagi sang anak di masa depan. Ritual ini ditegaskan sebagai identitas budaya yang berfungsi menjaga keselamatan generasi mendatang suku Tialo.

Berdasarkan hasil penelitian mengenai pelaksanaan prosesi dan makna simbolik dalam tradisi Molelase di kalangan masyarakat suku Tialo di Desa Tomini, Kabupaten Parigi Moutong (sebuah studi semiotik), dapat ditarik beberapa kesimpulan.Pertama, mengenai pelaksanaan prosesi Molelase, ibu hamil mempersiapkan bahan dan peralatan yang diperlukan, kemudian diserahkan kepada dukun adat untuk digunakan dalam ritual.Prosesi awal melibatkan penempatan lima jenis daun di perut, yaitu daun awar-awar (longe lombonuge), daun kunyit (longe unite), daun andong hijau (longe tabalang meido), dan daun andong merah (longe tabalang megange).Dukun adat kemudian mengikat perut dengan tali daun lontar (longe lelange).Selanjutnya, dukun memotong tali dengan pisau sambil berdoa untuk ibu hamil.Setelah itu, ibu hamil digosok menggunakan bulu ayam hitam dan koin di beberapa bagian tubuhnya.tindakan ini bertujuan untuk menjamin keselamatan ibu.Seluruh tradisi Molelase bertujuan untuk melindungi ibu hamil dan bayi selama proses persalinan di masa depan.Kedua, makna simbolik yang terkandung dalam prosesi Molelase sangat terkait dengan perlindungan spiritual.Elemen-elemen yang berfungsi sebagai perlindungan bagi ibu hamil dan janin terhadap roh jahat meliputi daun awar-awar, daun kunyit, daun andong, daun cocor bebek, pisau, dan ayam hitam.Tali daun lontar berfungsi sebagai penguat dan pelindung selama persalinan.Lilin dan korek melambangkan penerangan dan pencerahan.Koin berfungsi sebagai pembawa keberuntungan dan rezeki.Beras putih melambangkan kesucian dan kebersihan, yang dianggap membawa berkah kehidupan.

Saran penelitian lanjutan: 1. Mengkaji lebih lanjut pengaruh tradisi Molelase terhadap kesehatan fisik dan mental ibu hamil serta janin. 2. Meneliti bagaimana tradisi Molelase dapat menjadi sarana pendidikan bagi generasi muda dalam memahami dan menghargai budaya lokal. 3. Menganalisis dampak tradisi Molelase terhadap pemeliharaan dan pelestarian lingkungan alam di sekitar Desa Tomini.

  1. The Symbolic Meaning of the Molelase (Belly Rubbing) Traditional Procession Among the Tialo Ethnic Group... doi.org/10.58989/plj.v4i2.78The Symbolic Meaning of the Molelase Belly Rubbing Traditional Procession Among the Tialo Ethnic Group doi 10 58989 plj v4i2 78
  2. Satwika : Jurnal Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial. pergeseran prosesi makna tradisi merti dusun... doi.org/10.22219/satwika.v6i2.21503Satwika Jurnal Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial pergeseran prosesi makna tradisi merti dusun doi 10 22219 satwika v6i2 21503
Read online
File size405.56 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test