UNAIRUNAIR

Indonesian Journal of Health Administration (Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia)Indonesian Journal of Health Administration (Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia)

Komentar ini membahas keputusan strategis Indonesia untuk berpindah dari wilayah kerja WHO Asia Tenggara (SEARO) ke wilayah Pasifik Barat (WPRO), yang disetujui secara resmi dalam Sidang Majelis Kesehatan Dunia ke-78 pada Mei 2025. Langkah ini menunjukkan bahwa Indonesia ingin lebih aktif menentukan arah kerja sama kesehatan globalnya, sekaligus mengungkap adanya ketimpangan kekuasaan dan keterbatasan dalam sistem regional WHO. Artikel ini juga membandingkan pengalaman Indonesia dengan negara-negara lain seperti Mongolia dan Israel yang pernah melakukan perpindahan serupa. Dari sini, disimpulkan bahwa sistem pembagian wilayah WHO perlu disesuaikan agar lebih adil, fleksibel, dan memberi ruang suara yang setara bagi semua negara anggota.

Keputusan Indonesia untuk berpindah dari SEARO ke WPRO merupakan langkah strategis dalam diplomasi kesehatan global, menantang logika geografis regionalisme WHO dan menandai era baru tata kelola kesehatan global yang lebih beragam dan asertif.Perpindahan ini diharapkan membawa dampak struktural dan normatif bagi sistem kesehatan Indonesia, mendorong inovasi serta memerlukan penyesuaian institusional dan koordinasi.Secara global, langkah Indonesia menyoroti keterbatasan regionalisme WHO yang ada, menekankan pentingnya reformasi struktur dan prinsip normatif demi responsivitas, keadilan, dan kerendahan hati dalam menghadapi ancaman kesehatan global masa depan.

Untuk memperkaya pemahaman kita tentang dinamika tata kelola kesehatan global, ada beberapa arah penelitian lanjutan yang sangat menjanjikan. Pertama, akan sangat menarik untuk menganalisis secara mendalam bagaimana negara-negara kekuatan menengah di luar kasus Indonesia — misalnya di Afrika atau Amerika Latin — menyikapi atau memanfaatkan struktur regional WHO yang ada. Penelitian ini dapat mengeksplorasi strategi diplomasi kesehatan mereka, apakah mereka juga menghadapi ketimpangan kekuasaan serupa, dan bagaimana mereka berusaha untuk menegaskan agensi atau pengaruhnya di tengah dinamika institusional yang kompleks. Studi komparatif semacam ini dapat mengungkap pola-pola universal atau kekhasan regional dalam interaksi negara anggota dengan sistem WHO. Kedua, perlu dilakukan evaluasi empiris yang lebih rinci mengenai dampak konkret dari perpindahan keanggotaan regional, seperti yang dilakukan Indonesia, terhadap hasil kesehatan dan pola kerja sama transnasional. Misalnya, bagaimana perubahan afiliasi ini secara langsung mempengaruhi akses terhadap sumber daya, pengembangan kebijakan nasional yang selaras dengan standar global, atau bahkan respons terhadap krisis kesehatan lintas batas? Mempelajari studi kasus negara-negara seperti Mongolia atau Israel dengan metodologi yang lebih kuat dapat memberikan bukti konkret tentang manfaat atau kendala dari langkah strategis semacam ini. Terakhir, dengan mempertimbangkan kritik terhadap regionalisme WHO yang kaku, sebuah penelitian dapat fokus pada perancangan model regional WHO yang lebih adaptif dan fleksibel untuk masa depan. Ide ini bukan hanya tentang reformasi struktural, tetapi bagaimana konsep wilayah dapat diperbarui untuk mengatasi ancaman kesehatan modern seperti pandemi, dampak perubahan iklim, atau integrasi teknologi kesehatan digital, mungkin dengan struktur yang lebih fungsional atau berbasis isu daripada sekadar geografis. Penelitian ini bisa melibatkan skenario berbeda atau studi desain untuk menciptakan kerangka kerja yang lebih responsif dan adil bagi semua negara anggota.

Read online
File size223.11 KB
Pages5
DMCAReport

Related /

ads-block-test