POLTEKKES SMGPOLTEKKES SMG

Midwifery and Nursing ResearchMidwifery and Nursing Research

Latar belakang: Sekitar 5 hingga 10% anak diperkirakan mengalami keterlambatan perkembangan. Data mengenai kejadian pasti keterlambatan perkembangan umum masih tidak pasti, namun diperkirakan sekitar 1–3% anak di bawah usia 5 tahun mengalami keterlambatan tersebut. Menurut data profil kesehatan Aceh tahun 2021, terdapat 10.350 kelahiran hidup. Mengingat tingginya jumlah kelahiran, sangat penting memberikan stimulasi dini pada masa pertumbuhan untuk mencegah terjadinya keterlambatan perkembangan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuasi‑eksperimental dengan dua kelompok, menggunakan pendekatan pre‑test dan post‑test. Sampel terdiri atas 34 bayi berusia 2–11 bulan, dengan 17 bayi mendapat pijat bayi dan senam bayi, serta 17 bayi sebagai kelompok kontrol. Hasil: Penelitian menunjukkan perbedaan signifikan dalam perkembangan motorik bayi berusia 2–11 bulan sebelum dan sesudah menerima pijat bayi serta senam bayi (p = 0,000 < 0,05). Demikian pula, terdapat perbedaan signifikan dalam perkembangan motorik pada kelompok kontrol (p = 0,000 < 0,05). Selain itu, terdapat perbedaan perkembangan motorik antara kelompok pijat‑senam dan kelompok kontrol (p = 0,000 < 0,05). Kesimpulan: Pijat bayi dan senam bayi memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap perkembangan motorik bayi. Oleh karena itu, bayi yang menerima stimulasi melalui pijat bayi dan senam bayi menunjukkan peningkatan yang lebih signifikan dalam perkembangan motorik dibandingkan bayi yang tidak menerima stimulasi.

Penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan dalam perkembangan motorik bayi usia 2–11 bulan yang menerima pijat bayi dan senam bayi dibandingkan sebelum intervensi (p < 0,05).Perbedaan serupa juga terlihat pada kelompok kontrol, namun nilai p tetap signifikan (p < 0,05).Secara keseluruhan, pijat bayi dan senam bayi memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap peningkatan perkembangan motorik dibandingkan bayi yang tidak menerima stimulasi.

Penelitian lanjutan dapat menyelidiki apakah terdapat perbedaan signifikan dalam respons motorik bayi antara jenis kelamin ketika diberikan pijat bayi dan senam bayi, dengan menguji sampel yang seimbang secara gender dan mengontrol faktor usia. Selanjutnya, studi dapat mengevaluasi pengaruh kombinasi antara pemberian ASI eksklusif dan intervensi pijat serta senam bayi terhadap percepatan perkembangan motorik, menggunakan desain kohort prospektif untuk membandingkan kelompok yang menyusui eksklusif dengan yang tidak. Penelitian juga dapat meneliti bagaimana usia ibu (di bawah atau di atas 35 tahun) serta status kerja (ibu rumah tangga vs ibu bekerja) memoderasi efektivitas pijat dan senam bayi, dengan analisis multivariat untuk mengidentifikasi faktor‑faktor yang memperkuat atau melemahkan hasil intervensi. Selain itu, penelitian dapat memperluas variabel keluarga dengan mengkaji pengaruh urutan kehadiran anak (anak pertama, kedua, dst.) dan jumlah saudara terhadap respons motorik terhadap stimulasi, sehingga memberikan gambaran holistik tentang dinamika keluarga. Akhirnya, kombinasi semua faktor tersebut dapat diintegrasikan dalam model prediktif yang membantu praktisi kesehatan merancang program stimulasi motorik yang disesuaikan dengan karakteristik demografis dan sosial ekonomi masing‑masing keluarga.

  1. HUBUNGAN PIJAT BAYI DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK BAYI USIA 1 - 12 BULAN DI DESA PUNDUNGSARI BULU SUKOHARJO... doi.org/10.37831/jik.v3i1.41HUBUNGAN PIJAT BAYI DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK BAYI USIA 1 12 BULAN DI DESA PUNDUNGSARI BULU SUKOHARJO doi 10 37831 jik v3i1 41
  2. Keterampilan Motorik Kasar Anak Usia Dini Ditinjau Dari Jenis Kelamin | JAPRA (Jurnal Pendidikan Raudhatul... doi.org/10.15575/japra.v3i1.8106Keterampilan Motorik Kasar Anak Usia Dini Ditinjau Dari Jenis Kelamin JAPRA Jurnal Pendidikan Raudhatul doi 10 15575 japra v3i1 8106
Read online
File size434.45 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test