LLDIKTI12LLDIKTI12

KAMBOTI: Jurnal Sosial dan HumanioraKAMBOTI: Jurnal Sosial dan Humaniora

Perkembangan media modern dan digital telah mengubah cara institusi sosial direpresentasikan dan diperdebatkan di ruang publik. Media tidak lagi menjadi saluran informasi netral, melainkan arena makna yang dibentuk oleh kekuasaan simbolik. Di Indonesia, pesantren memiliki legitimasi moral dan otoritas simbolik yang kuat. Namun, mereka dapat menjadi rentan ketika berhadapan dengan logika industri media yang didorong oleh sensasionalisme dan ekonomi perhatian. Kontroversi antara Trans7 dan Pondok Pesantren Lirboyo pada tahun 2025, yang dipicu oleh program Xpose Uncensored, menggambarkan ketegangan antara nilai-nilai agama yang sakral dan praktik media kontemporer. Studi ini menganalisis konflik tersebut menggunakan teori Pierre Bourdieu, dengan fokus pada konsep medan, habitus, modal simbolik, dan kekuasaan simbolik. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode studi pustaka, dengan analisis konten dan teoritis. Temuan menunjukkan bahwa konflik ini bukan hanya masalah teknis penyiaran, tetapi perjuangan simbolik antara dua medan sosial yang berbeda. Media beroperasi berdasarkan logika pasar dan visibilitas, sedangkan pesantren berakar pada norma moral dan kesakralan ruang. Reaksi publik menunjukkan bahwa pesantren memiliki modal simbolik yang kuat, yang memungkinkan mereka untuk melakukan perlawanan dan negosiasi di arena media.

Konflik antara Trans7 dan Pondok Pesantren Lirboyo tidak dapat direduksi menjadi kesalahan teknis penyiaran atau miskomunikasi editorial.Konflik ini merupakan pertarungan simbolik antara dua institusi yang berada dalam medan berbeda, dengan modal, habitus, dan logika yang tidak sepenuhnya sejalan.Media sebagai medan modern bekerja di bawah tekanan pasar, rating, dan visibilitas, sedangkan pesantren sebagai medan tradisional bertumpu pada nilai adab, kesakralan ruang, dan otoritas moral yang dibangun melalui legitimasi historis serta transmisi keilmuan yang panjang.Artikel ini menegaskan bahwa Lirboyo merupakan pusat produksi modal simbolik yang kuat dalam masyarakat Indonesia.Modal tersebut terakumulasi melalui kharisma kiai, tradisi sanad, dan pengakuan kolektif atas nilai-nilai pesantren.Namun, dalam konteks media modern, modal simbolik ini rentan direkonstruksi melalui praktik representasi visual yang cenderung sensasional dan simplifikatif.Melalui kerangka teori Pierre Bourdieu, konflik ini dipahami sebagai relasi kuasa simbolik, di mana media berusaha memproduksi definisi realitas di ruang publik.Ketika definisi tersebut bertentangan dengan habitus dan doxa komunitas pesantren, muncul perlawanan simbolik untuk mempertahankan otoritas makna.Mobilisasi alumni dan respons publik menunjukkan bahwa pesantren tidak pasif, melainkan memiliki modal sosial dan simbolik yang efektif untuk menjaga legitimasi dan batas-batas kulturalnya.Konflik ini merefleksikan ketegangan yang lebih luas antara nilai keagamaan tradisional dan logika industri media modern, sehingga menuntut kesadaran dialogis demi menjaga kohesi sosial.

Untuk penelitian lanjutan, dapat diusulkan studi yang menyelidiki strategi komunikasi publik pesantren dalam era digital, termasuk pengembangan keterampilan literasi media dan kemampuan bernegosiasi dengan institusi media. Penelitian ini dapat mengeksplorasi bagaimana pesantren dapat mempertahankan otoritas simboliknya di tengah perubahan struktur kekuasaan di ruang publik yang semakin termediatisasi. Selain itu, studi tentang implikasi teknologi digital dalam konflik simbolik juga dapat menjadi fokus penelitian, dengan menganalisis bagaimana perkembangan teknologi digital berfungsi sebagai akselerator konflik simbolik dan bagaimana media dapat meningkatkan sensitivitas etis dalam produksi konten untuk menghindari distorsi makna. Terakhir, penelitian tentang redefinisi etika jurnalistik dalam masyarakat multikultural dan religius seperti Indonesia dapat menjadi arah studi yang menarik, dengan mempertimbangkan pemahaman mendalam terhadap konteks kultural dan batas-batas sakral komunitas yang direpresentasikan.

  1. Analisis Framing dan Etika Penyiaran terhadap Representasi Pesantren dalam Tayangan Xpose Uncensored... journal.appisi.or.id/index.php/konsensus/article/view/1257Analisis Framing dan Etika Penyiaran terhadap Representasi Pesantren dalam Tayangan Xpose Uncensored journal appisi index php konsensus article view 1257
  2. Media Literacy and the Challenge of New Information and Communication Technologies: The Communication... tandfonline.com/doi/abs/10.1080/10714420490280152Media Literacy and the Challenge of New Information and Communication Technologies The Communication tandfonline doi abs 10 1080 10714420490280152
  3. Social Space and Symbolic Power on JSTOR. social space symbolic power jstor jstor.org/stable/202060?origin=crossrefSocial Space and Symbolic Power on JSTOR social space symbolic power jstor jstor stable 202060 origin crossref
  4. The Mediatization of Society. society skip main content personal library account click journals nordicom... doi.org/10.1515/nor-2017-0181The Mediatization of Society society skip main content personal library account click journals nordicom doi 10 1515 nor 2017 0181
  5. The mediatisation of religion: Theorising religion, media and social change: Culture and Religion: Vol... tandfonline.com/doi/abs/10.1080/14755610.2011.579719The mediatisation of religion Theorising religion media and social change Culture and Religion Vol tandfonline doi abs 10 1080 14755610 2011 579719
Read online
File size377.43 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test