STIKESMITRAADIGUNASTIKESMITRAADIGUNA

Jurnal Kesehatan dan PembangunanJurnal Kesehatan dan Pembangunan

Pemberian ASI di dunia masih rendah. Berdasarkan data dari United Nations Childrens Fund (UNICEF, 2015) hanya 39% bayi di bawah usia 6 bulan yang mendapatkan ASI di seluruh dunia. Manajemen laktasi merupakan penatalaksanaan yang dibutuhkan sebagai penunjang keberhasilan pada proses menyusui yang dilakukan oleh ibu, ayah, dan keluarga. Bila manajemen laktasi tidak terlaksana maka akan berdampak penurunan pemberian ASI sehingga bisa berdampak pada peningkatan angka gizi buruk dan gizi kurang yang beresiko pada peningkatan kematian bayi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui informasi secara mendalam mengenai pengalaman ibu dengan manajemen laktasi. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Informan dalam penelitian ini berjumlah 3 orang informan yang terdiri dari 2 orang ibu nifas yang menyusui bayinya sebagai informan utama dan 1 orang bidan sebagai informan kunci. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi terhadap Informan 1; Ny.H selalu memberikan asupan ASI saja kepada bayinya sambil digendong dan berbaring, bayi Ny.H tampak menyusu dengan kuat dan terlelap tidur setelah menyusui. Ny.H tidak pernah memeras ASI, tidak pernah melakukan penyimpanan dan tidak pernah mencairkan ASI. Sedangkan Ny.L selalu memberikan asupan ASI kepada bayinya sambil digendong dan jika lelah ia akan menyusui sambil berbaring, bayi Ny.L tampak menyusu dengan kuat dan terlelap tidur setelah menyusui, terkadang Ny.L melakukan perlekatan dengan cara mendekatkan puting susu ke mulut bayi. Ny.L tidak pernah memeras ASI karena ASI nya sudah keluar sehingga ia tidak pernah melakukan penyimpanan dan tidak pernah mencairkan ASI. Saran diharapkan para tenaga Kesehatan khususnya bidan dapat lebih meningkatkan lagi promosi kesehatan tentang manajemen laktasi kepada ibu sedini mungkin, mulai dari masa kehamilan, persalinan dan post partum sehingga dapat meningkatkan kualitas dan cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi.

Hasil wawancara dan observasi menunjukkan bahwa kedua informan ibu nifas secara konsisten melakukan menyusui bayi, baik dengan metode menggendong maupun berbaring.H melakukan menyusui sambil menggendong atau berbaring serta dapat melakukan pemijatan dan penekanan payudara selama menyusui.L juga menyusui dengan posisi menggendong atau berbaring, melakukan pemijatan payudara, dan menggunakan teknik perlekatan dengan mendekatkan puting susu ke mulut bayi.

Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki efektivitas program edukasi manajemen laktasi terstruktur yang disampaikan melalui media WhatsApp terhadap peningkatan pemberian ASI eksklusif pada ibu nifas di Palembang, dengan mengukur perubahan pengetahuan, sikap, dan tingkat keberhasilan menyusui. Selain itu, diperlukan studi dengan desain campuran (kuantitatif‑kualitatif) dan sampel yang lebih besar serta melibatkan beberapa pusat kesehatan untuk membandingkan variasi praktik menyusui dan hasil laktasi antar daerah. Selanjutnya, penting pula untuk mengeksplorasi pengaruh kepercayaan budaya dan dukungan keluarga terhadap manajemen laktasi serta keberhasilan pemberian ASI, baik di lingkungan pedesaan maupun perkotaan, sehingga dapat mengidentifikasi faktor‑faktor sosial yang memperkuat atau menghambat praktik menyusui. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi kebijakan yang lebih tepat sasaran serta materi edukasi yang adaptif terhadap kebutuhan dan kondisi ibu. Dengan demikian, cakupan ASI eksklusif dapat ditingkatkan secara berkelanjutan. Selain itu, analisis longitudinal selama enam bulan pasca melahirkan akan memberikan insight tentang keberlanjutan praktik menyusui dan faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan ibu secara komprehensif.

Read online
File size221.71 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test