UIN SUSKAUIN SUSKA

Jurnal AgroteknologiJurnal Agroteknologi

Perkecambahan biji aren ditandai dengan munculnya jaringan berbentuk spons yang disebut apokol, yang menembus kulit biji keras dan dapat muncul pada beberapa posisi pada biji yang berkecambah. Belum ada laporan penelitian yang membahas hubungan antara posisi apokol dengan fenologi perkecambahan biji aren. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari hubungan antara posisi apokol dengan pertumbuhan bibit aren serta keragaman genetiknya. Penelitian menggunakan percobaan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan, masing‑masing diulang lima kali. Empat perlakuan adalah posisi apokol: A (apokol di tengah‑kanan), B (apokol di tengah‑kiri), C (apokol di kiri‑bawah), dan D (apokol di kanan‑bawah). Hasil menunjukkan waktu munculnya coleoptile paling cepat, yaitu 40 hari setelah transplantasi, pada posisi apokol tengah‑kanan. Secara morfologi tidak terdapat perbedaan signifikan pada pertumbuhan bibit aren antar posisi apokol. Namun, analisis marker Simple Sequence Repeat (SSR) mengungkapkan adanya keragaman genetik di antara bibit; bibit dengan posisi apokol tengah‑kanan membentuk klaster pertama, sedangkan klaster kedua terdiri dari posisi apokol kiri‑tengah, kanan‑bawah, dan kiri‑bawah.

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa posisi apokol dalam proses perkecambahan benih aren tidak mempengaruhi pertumbuhan kecambah aren secara morfologi namun secara molekuler terdapat keragaman genetik di antara kecambah aren tersebut, dengan jarak genetik antara apokol yang diamati berkisar 0.Perbedaan munculnya posisi apokol pada perkecambahan benih masih belum diketahui.Informasi ini dapat dijadikan sebagai langkah awal pendalaman fenologi perkecambahan benih aren dan deteksi dini kualitas tanaman aren untuk mendapatkan varietas unggul.

Saran penelitian lanjutan dapat difokuskan pada tiga arah utama. Pertama, dilakukan studi lanjutan untuk menguji apakah posisi apokol mempengaruhi fase pertumbuhan selanjutnya, seperti perkembangan akar sekunder dan produksi buah, dengan merancang percobaan yang memantau tanaman hingga fase matang dan menggunakan ukuran pertumbuhan yang lebih detail. Kedua, perlu dilakukan analisis molekuler yang lebih mendalam menggunakan marker DNA tambahan, seperti AFLP atau SNP, untuk memetakan hubungan antara posisi apokol dan variasi genetik secara lebih resolusi, sehingga dapat mengidentifikasi gen‑gen yang berperan dalam respon germinasi. Ketiga, disarankan melakukan percobaan variasi kondisi lingkungan, misalnya suhu, kelembaban, dan perlakuan kimia (misalnya hormon gibberelin), untuk mengetahui bagaimana faktor‑faktor tersebut berinteraksi dengan posisi apokol dalam mempengaruhi laju perkecambahan dan kualitas bibit, sehingga dapat dikembangkan protokol skarifikasi yang optimal untuk peningkatan produktivitas aren. Penelitian-penelitian tersebut diharapkan dapat memperluas pemahaman tentang fenologi perkecambahan aren dan memberikan dasar ilmiah bagi pemuliaan varietas unggul.

Read online
File size458.8 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test