UIN SUSKAUIN SUSKA

Jurnal PeternakanJurnal Peternakan

Efisiensi reproduksi merupakan faktor utama yang menentukan produktivitas pada sapi potong, dan kinerja reproduksi sangat dipengaruhi oleh Body Condition Score (BCS). Penelitian ini bertujuan untuk menilai kinerja reproduksi sapi Ongole crossbred (PO) berdasarkan hubungan antara BCS, Service per Conception (S/C), dan Calving Interval (CI) di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli–Agustus 2022 dengan metode deskriptif. Sampel purposif sebanyak 377 ekor sapi PO dipilih, dan data diperoleh melalui wawancara petani, observasi langsung, serta data sekunder dari lembaga peternakan setempat. BCS dievaluasi menggunakan sistem penilaian Skotlandia/Kanada, sedangkan nilai S/C dan CI diambil dari catatan inseminasi. Hasil menunjukkan rata-rata BCS PO sebesar 2,65±0,18, menandakan kondisi tubuh tipis hingga sedang. Nilai rata-rata S/C adalah 2,16±0,25, yang mengindikasikan diperlukan lebih dari dua kali inseminasi untuk mencapai kehamilan. Rata-rata CI tercatat 429,8±15,4 hari, melebihi interval ideal 12 bulan. Analisis regresi memperlihatkan hubungan negatif antara BCS dengan S/C dan CI, menunjukkan bahwa kondisi tubuh yang lebih baik meningkatkan hasil reproduksi. Kesimpulannya, BCS berpengaruh besar terhadap keberhasilan reproduksi PO di Deli Serdang, sehingga perbaikan manajemen nutrisi dan reproduksi diperlukan untuk meningkatkan produktivitas ternak.

Kinerja reproduksi sapi Ongole crossbred (PO) di Kabupaten Deli Serdang dipengaruhi signifikan oleh Body Condition Score (BCS), dengan nilai rata-rata BCS 2,65 yang menunjukkan kondisi tubuh tipis hingga sedang dan berhubungan dengan Service per Conception (S/C) tinggi (2,16) serta interval kawin (CI) yang panjang (429,8 hari).Korelasi negatif antara BCS dengan S/C dan CI menegaskan bahwa BCS merupakan indikator biologis kesiapan reproduksi, dimana sapi dengan cadangan energi lebih baik membutuhkan lebih sedikit inseminasi dan memiliki interval kawin yang lebih pendek.Oleh karena itu, perbaikan manajemen nutrisi, seperti pemberian pakan tambahan pada periode kritis (gestasi akhir dan postpartum) serta peningkatan kualitas pakan, sangat diperlukan untuk meningkatkan kondisi tubuh dan efisiensi reproduksi pada sistem peternakan kecil.

Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki pengaruh suplementasi pakan berbasis energi tinggi selama fase akhir kehamilan dan awal postpartum terhadap peningkatan BCS serta penurunan Service per Conception pada sapi PO di sistem peternakan kecil; selanjutnya, studi longitudinal yang mengintegrasikan variabel manajemen reproduksi seperti deteksi estrus yang akurat, keterampilan inseminator, dan kualitas semen dapat mengevaluasi kontribusi faktor-faktor eksternal terhadap variabilitas S/C dan CI selain BCS; terakhir, penelitian komparatif antara sapi PO yang dikelola dengan strategi pakan tradisional versus pendekatan nutrisi presisi (misalnya, penggunaan feedlot dengan formulasi khusus) dapat menilai dampak strategi nutrisi modern terhadap interval kawin, tingkat kelahiran, dan profitabilitas usaha peternakan dalam jangka panjang.

  1. DOI Name 10.36103 Values. doi name values home handbook factsheets faqs resources users members area... doi.org/10.36103DOI Name 10 36103 Values doi name values home handbook factsheets faqs resources users members area doi 10 36103
  2. The Correlation of Body Condition Score (BCS) to Lust Value in Friesian Holstein Crosbred Dairy Cows... doi.org/10.25047/jipt.v9i1.6305The Correlation of Body Condition Score BCS to Lust Value in Friesian Holstein Crosbred Dairy Cows doi 10 25047 jipt v9i1 6305
  3. Pregnancy of Simmental-Ongole crossbreed (SimPO) cows inseminated with frozen semen from Simmental and... publikasi.polije.ac.id/jipt/article/view/4451Pregnancy of Simmental Ongole crossbreed SimPO cows inseminated with frozen semen from Simmental and publikasi polije ac jipt article view 4451
Read online
File size457.36 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test