FDIKJOURNAL UINMAFDIKJOURNAL UINMA

KOMUNITASKOMUNITAS

Desa menjadi tempat yang nyaman untuk tinggal karena masih terlihat indah dan udara segar. Komunitas urban yang asalnya berasal dari desa bahkan berbondong‑bondong meninggalkan desa mereka untuk mencari penghasilan. Tinggal lama di kota menyebabkan kebosanan bagi komunitas urban dan mereka merindukan desa yang pernah mereka tinggali. Desa wisata menjadi salah satu cara bagi komunitas urban untuk melepaskan kerinduan tersebut. Desa wisata sengaja dirancang sebagai tempat wisata dengan konsep kehidupan pedesaan secara umum. Dalam proses pengembangan pariwisata pedesaan, seluruh elemen desa harus dibangun, termasuk generasi muda. Saat ini, banyak pemuda yang tidak peduli terhadap desa masing‑masing, padahal generasi muda merupakan harapan untuk kearifan lokal selanjutnya. Bagaimana peran generasi muda dalam membangun desa wisata? Tujuannya adalah untuk mengetahui sejauh mana peran generasi muda dalam membangun desa wisata beserta berbagai masalah yang dihadapi generasi muda. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologis. Peneliti berupaya memahami peran generasi muda dalam mengembangkan desa wisata serta masalah‑masalah yang dihadapi mereka, dan menelusuri proses menuju terbentuknya desa wisata.

Pemuda berperan penting dalam pemberdayaan dan pengembangan Desa Wisata Brayut, melanjutkan inisiatif yang tidak bergantung pada kebijakan pemerintah namun didasarkan pada penilaian mendalam terhadap potensi tradisional dan alam desa.Kolaborasi antara generasi muda dan Ketua Desa, Bapak Sudarmadji, berhasil mengatasi komunikasi yang kurang antara kelompok usia dalam pelaksanaan acara seperti Ngayogjazz dan menjaga keberlanjutan kegiatan budaya serta edukasi mingguan.Oleh karena itu, peningkatan kesadaran dan pengetahuan pemuda mengenai potensi alam dan budaya lokal menjadi kunci untuk mempertahankan keberlangsungan ekonomi dan identitas desa.

Penelitian selanjutnya dapat mengkaji perbandingan peran generasi muda dalam pembangunan desa wisata di beberapa desa di Yogyakarta untuk mengetahui apakah temuan pada Desa Brayut dapat digeneralisasi ke konteks lain. Selanjutnya, diperlukan studi longitudinal dengan pendekatan campuran (mixed‑methods) yang menilai dampak program pemberdayaan yang dipimpin oleh pemuda terhadap peningkatan pendapatan, partisipasi sosial, dan pelestarian budaya di desa wisata. Penelitian juga dapat mengeksplorasi bagaimana penggunaan teknologi digital dan media sosial dapat memperkuat keterlibatan pemuda serta mempromosikan desa wisata secara lebih efektif, termasuk analisis strategi pemasaran digital yang paling berhasil. Selain itu, penting untuk meneliti hambatan struktural yang dihadapi generasi muda, seperti akses pendidikan, sumber daya finansial, dan dukungan kebijakan, sehingga dapat dirumuskan rekomendasi kebijakan yang lebih tepat. Akhirnya, penelitian kualitatif yang melibatkan perspektif kelompok usia berbeda—muda, dewasa, dan lansia—dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang dinamika intergenerasional dalam pengelolaan desa wisata.

Read online
File size1.9 MB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test