UINSATUUINSATU
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu KeislamanEpistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu KeislamanThis article discusses the politics of a local Sufi group (tarekat) in Indonesia, the Shiddiqiyyah. It addresses the locality of Shiddiqiyah tarekat and its politics during the New Order Indonesia and following the fall of the regime. It is argued that the Shiddiqiyah, a local tarekat with its roots in East Java and later successfully welcoming national reputation, is an example of a tarekat that utilizes nationalistic slogan to expand its influence as well as to protect the tarekat from heretic accusation. Through a series of intensive fieldwork, the article argues that the Shiddiqiyyah has successfully maintained ideological patronage to the New Order Indonesia through nationalistic slogan which has been a core value of the group. The doctrine of nationalism has been translated in Sufi and Javanese idioms and become fundamental doctrine of the Shiddiqiyyah.
The Shiddiqiyyah exemplifies a local Sufism in Indonesia, uniquely blending Sufi teachings with Javanese mysticism.The tarekat strategically adopted a nationalistic stance, initially as a survival mechanism against external criticism and later as a means to promote moderate Islamic understanding.This adaptation demonstrates the Shiddiqiyyahs ability to navigate complex socio-political landscapes and maintain its relevance in contemporary Indonesia.
Based on the study of the Shiddiqiyyah tarekat, future research could explore the evolving relationship between Sufi groups and the Indonesian state in the post-New Order era, examining how these groups negotiate their autonomy and influence within a more democratic framework. Furthermore, a comparative study of different local tarekats across Indonesia could reveal common strategies and unique adaptations in response to varying socio-political contexts. Finally, investigating the role of the Shiddiqiyyah in countering radical Islamic narratives and promoting religious tolerance would provide valuable insights into the potential of Sufism as a force for moderation and social cohesion in Indonesia, particularly in light of increasing religious polarization.
| File size | 1.78 MB |
| Pages | 24 |
| DMCA | Report |
Related /
UINSATUUINSATU Budaya ilmiah mulai dari tradisi penelitian, tradisi penerjemahan, tradisi membaca hingga habitus ilmiah sangat diperlukan dalam mewujudkan masa keemasanBudaya ilmiah mulai dari tradisi penelitian, tradisi penerjemahan, tradisi membaca hingga habitus ilmiah sangat diperlukan dalam mewujudkan masa keemasan
SHARIAJOURNALS UINJAMBISHARIAJOURNALS UINJAMBI Data menunjukkan bahwa meskipun siswa merasa aturan tersebut dipahami dengan baik, mereka tidak terlibat secara aktif dalam proses interpretasi atau dialogData menunjukkan bahwa meskipun siswa merasa aturan tersebut dipahami dengan baik, mereka tidak terlibat secara aktif dalam proses interpretasi atau dialog
SANGADJIMEDIAPUBLISHINGSANGADJIMEDIAPUBLISHING UMK di Indonesia sering menghadapi tantangan dalam memanfaatkan strategi pemasaran modern, terutama dalam hal penggunaan media sosial dan alat pemasaranUMK di Indonesia sering menghadapi tantangan dalam memanfaatkan strategi pemasaran modern, terutama dalam hal penggunaan media sosial dan alat pemasaran
IAIN SUIAIN SU Masuk dalam kategori kitabiyat menurutnya perempuan Hindu, Budha dan sejenisnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pandangan Hasbi Ash-Shiddieqy tentangMasuk dalam kategori kitabiyat menurutnya perempuan Hindu, Budha dan sejenisnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pandangan Hasbi Ash-Shiddieqy tentang
LENTERANUSALENTERANUSA Pelatihan teknologi dan pemeriksaan kesehatan gratis berhasil meningkatkan keterampilan, kesadaran kesehatan, dan produktivitas kerja masyarakat. IntegrasiPelatihan teknologi dan pemeriksaan kesehatan gratis berhasil meningkatkan keterampilan, kesadaran kesehatan, dan produktivitas kerja masyarakat. Integrasi
IAIN SUIAIN SU Imam al‑Nawawî menekankan bahwa seorang pendidik harus memperhatikan etika personal, etika akademik dalam kegiatan ilmiah, dan etika dalam mengajar.Imam al‑Nawawî menekankan bahwa seorang pendidik harus memperhatikan etika personal, etika akademik dalam kegiatan ilmiah, dan etika dalam mengajar.
UINUIN Label halal sendiri memberikan keuntungan bagi pelaku usaha seperti meningkatkan kepercayaan konsumen, meraih pasar pangan halal global, meningkatkan marketabilityLabel halal sendiri memberikan keuntungan bagi pelaku usaha seperti meningkatkan kepercayaan konsumen, meraih pasar pangan halal global, meningkatkan marketability
UINUIN Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bahwa teori al-maslahah telah teraplikasikan dalam norma kriminalisasi UUPK. Dapat disimpulkan pula bahwa adanyaDari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bahwa teori al-maslahah telah teraplikasikan dalam norma kriminalisasi UUPK. Dapat disimpulkan pula bahwa adanya
Useful /
IAIN MADURAIAIN MADURA Sehubungan dengan hal itu, dalam usaha mencapai kesempurnaan ibadah kepada Allah SWT, faktor thayyib yang meliputi kebersihan, kesucian, kehalalan, keberkahan,Sehubungan dengan hal itu, dalam usaha mencapai kesempurnaan ibadah kepada Allah SWT, faktor thayyib yang meliputi kebersihan, kesucian, kehalalan, keberkahan,
SHARIAJOURNALS UINJAMBISHARIAJOURNALS UINJAMBI Ketiadaan Dewan Pengawas Syariah (DPS) serta persyaratan audit syariah yang eksplisit membatasi efektivitas regulasi. Studi ini merekomendasikan rekonstruksiKetiadaan Dewan Pengawas Syariah (DPS) serta persyaratan audit syariah yang eksplisit membatasi efektivitas regulasi. Studi ini merekomendasikan rekonstruksi
SHARIAJOURNALS UINJAMBISHARIAJOURNALS UINJAMBI At least 137 notaries have been implicated in criminal cases, with the majority involving document forgery, fraud, and embezzlement, while the regulationAt least 137 notaries have been implicated in criminal cases, with the majority involving document forgery, fraud, and embezzlement, while the regulation
UINUIN Pemahaman ini dilatarbelakangi oleh pengertian yang sudah biasa dipahami oleh orang Arab bahwa walad itu adalah anak laki-laki. Pemahaman ini didukungPemahaman ini dilatarbelakangi oleh pengertian yang sudah biasa dipahami oleh orang Arab bahwa walad itu adalah anak laki-laki. Pemahaman ini didukung