POLTEKKES JOGJAPOLTEKKES JOGJA
KIAKIAPernikahan dini masih menjadi masalah serius di Indonesia, terutama di daerah pedesaan seperti Kecamatan Cibalong, Tasikmalaya. Meskipun telah dilakukan upaya nasional, kurangnya pendidikan kesehatan reproduksi yang terstruktur dan berbasis sekolah berkontribusi terhadap tingginya angka pernikahan di bawah umur. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi pendidikan dalam meningkatkan pengetahuan remaja tentang pernikahan dini. Penelitian pra-eksperimental dengan desain pretest-posttest satu kelompok dilakukan dari Oktober hingga November 2024 di SMPN 1 Cibalong, Tasikmalaya, Indonesia. Sebanyak 132 siswa kelas IX dipilih menggunakan sampling purposive. Intervensi terdiri dari sesi pendidikan berbasis sekolah selama 60 menit yang berfokus pada definisi, penyebab, risiko, dampak, dan pencegahan pernikahan dini, yang disampaikan melalui presentasi multimedia dan diskusi kelompok. Pengetahuan dinilai menggunakan kuesioner yang telah divalidasi dengan 20 item sebelum dan satu minggu setelah intervensi. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon signed-rank dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Sebelum intervensi, 38,64% siswa memiliki tingkat pengetahuan rendah, 29,55% sedang, dan 31,82% tinggi. Pasca-intervensi, 87,12% memiliki pengetahuan tinggi, 12,88% sedang, dan tidak ada yang tetap berada di kategori rendah. Perbaikan yang signifikan diamati pada semua indikator pengetahuan pernikahan dini, termasuk pemahaman, penyebab, risiko, pencegahan, dampak, dan faktor-faktor yang berkontribusi (p = 0,000). Temuan ini mengonfirmasi bahwa pendidikan kesehatan reproduksi yang ditargetkan dan berbasis sekolah secara efektif meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja tentang pernikahan dini. Pendekatan ini yang hemat biaya dan dapat diterapkan secara luas dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah dan dapat berfungsi sebagai strategi pencegahan pernikahan dini di daerah berisiko tinggi.
Penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi pendidikan berbasis sekolah secara signifikan meningkatkan pengetahuan remaja tentang pernikahan dini di SMPN 1 Cibalong, Tasikmalaya.Proporsi siswa dengan tingkat pengetahuan tinggi meningkat secara mencolok dari 31,82% sebelum intervensi menjadi 87,12% setelahnya, dengan semua indikator pengetahuan seperti pemahaman, penyebab, risiko, dampak, dan pencegahan pernikahan dini menunjukkan perbaikan yang signifikan.Temuan yang signifikan (p < 0,001) ini menekankan efektivitas sesi pendidikan yang ditargetkan dalam meningkatkan kesadaran remaja tentang konsekuensi kesehatan, psikososial, dan hukum dari pernikahan dini.Hasil ini menekankan pentingnya mengintegrasikan pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif ke dalam kurikulum sekolah, terutama di daerah di mana pernikahan dini masih prevalen.Dengan memberikan informasi yang akurat, sekolah dapat memainkan peran kritis dalam membentuk sikap dan perilaku sehat yang mendukung penundaan dan pengambilan keputusan yang terinformasi tentang pernikahan.Inisiatif masa depan harus bertujuan untuk memperluas intervensi ini melalui program multi-sesi, melibatkan partisipasi masyarakat yang lebih luas, dan menilai hasil perilaku jangka panjang.Penelitian lebih lanjut menggunakan desain terkendali dan populasi remaja yang beragam disarankan untuk memperkuat dasar bukti dan menginformasikan kebijakan nasional tentang pendidikan kesehatan reproduksi remaja.
Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk mengembangkan intervensi pendidikan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan, dengan melibatkan lebih banyak sesi dan melibatkan partisipasi masyarakat yang lebih luas. Selain itu, penelitian longitudinal dengan periode follow-up yang lebih lama diperlukan untuk mengevaluasi keberlanjutan peningkatan pengetahuan dan hasil perilaku, seperti niat untuk menunda pernikahan. Penelitian perbandingan antara berbagai mode pengiriman, seperti pendidikan sebaya, platform kesehatan seluler, dan intervensi yang dipimpin guru, dapat membantu mengidentifikasi strategi yang paling efektif untuk populasi remaja yang berbeda. Akhirnya, studi kualitatif yang mengeksplorasi persepsi siswa tentang pendidikan pernikahan dini akan memberikan wawasan yang lebih dalam tentang keyakinan budaya, hambatan, dan faktor pendorong yang mempengaruhi efektivitas program.
| File size | 441.14 KB |
| Pages | 11 |
| DMCA | Report |
Related /
POLTEKKES JOGJAPOLTEKKES JOGJA Anemia pada remaja perempuan sering dipicu oleh perdarahan menstruasi, yang dapat memicu penurunan kadar hemoglobin (Hb) dan rasa sakit menyakitkan (dysmenorrhea).Anemia pada remaja perempuan sering dipicu oleh perdarahan menstruasi, yang dapat memicu penurunan kadar hemoglobin (Hb) dan rasa sakit menyakitkan (dysmenorrhea).
POLTEKKES JOGJAPOLTEKKES JOGJA Studi ini menekankan kompleksitas pengasuhan ibu dalam hubungannya dengan stunting pada bayi di lingkungan perkotaan berpenghasilan rendah.meskipun komitmenStudi ini menekankan kompleksitas pengasuhan ibu dalam hubungannya dengan stunting pada bayi di lingkungan perkotaan berpenghasilan rendah.meskipun komitmen
POLTEKKES JOGJAPOLTEKKES JOGJA Metode belajar melalui permainan terbukti efektif, seperti yang diterapkan pada Bambi Activity Tools yang merangsang berbagai aspek perkembangan pada anakMetode belajar melalui permainan terbukti efektif, seperti yang diterapkan pada Bambi Activity Tools yang merangsang berbagai aspek perkembangan pada anak
POLTEKKES JOGJAPOLTEKKES JOGJA Kehamilan berisiko tinggi dapat berdampak pada ibu dan bayinya seperti keguguran, berat lahir rendah, prematur, dan anemia. Oleh karena itu, upaya pencegahanKehamilan berisiko tinggi dapat berdampak pada ibu dan bayinya seperti keguguran, berat lahir rendah, prematur, dan anemia. Oleh karena itu, upaya pencegahan
POLTEKKES JOGJAPOLTEKKES JOGJA Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok kurma meningkatkan hemoglobin rata‑rata 0,965 g/dL (p = 0,001), sementara kelompok kue kacang hijau meningkatHasilnya menunjukkan bahwa kelompok kurma meningkatkan hemoglobin rata‑rata 0,965 g/dL (p = 0,001), sementara kelompok kue kacang hijau meningkat
POLTEKKES JOGJAPOLTEKKES JOGJA Rose aromatherapy significantly reduces labor pain during the first active phase of labor. These findings support its use as a complementary interventionRose aromatherapy significantly reduces labor pain during the first active phase of labor. These findings support its use as a complementary intervention
POLTEKKES JOGJAPOLTEKKES JOGJA Analisis statistik menggunakan korelasi Spearman untuk menentukan hubungan antara indikator gizi dan kejadian anemia. Hasil menunjukkan adanya hubunganAnalisis statistik menggunakan korelasi Spearman untuk menentukan hubungan antara indikator gizi dan kejadian anemia. Hasil menunjukkan adanya hubungan
POLTEKKES JOGJAPOLTEKKES JOGJA Selain itu, jumlah kunjungan ANC rata‑rata di kelompok intervensi mencapai empat kali, dibandingkan tiga kali di kelompok kontrol (p=0,001). Kesimpulannya,Selain itu, jumlah kunjungan ANC rata‑rata di kelompok intervensi mencapai empat kali, dibandingkan tiga kali di kelompok kontrol (p=0,001). Kesimpulannya,
Useful /
POLBANGTANBOGORPOLBANGTANBOGOR Penelitian ini bertujuan mengukur efektivitas serta faktor-faktor yang memengaruhi penggunaan metode demonstrasi cara dalam pengendalian hama tikus padaPenelitian ini bertujuan mengukur efektivitas serta faktor-faktor yang memengaruhi penggunaan metode demonstrasi cara dalam pengendalian hama tikus pada
POLTEKKES JOGJAPOLTEKKES JOGJA Desain quasi-eksperimental pretest-posttest diterapkan dengan melibatkan 51 peserta premenopause yang dipilih melalui sampling purposif di wilayah pelayananDesain quasi-eksperimental pretest-posttest diterapkan dengan melibatkan 51 peserta premenopause yang dipilih melalui sampling purposif di wilayah pelayanan
POLTEKKES JOGJAPOLTEKKES JOGJA 01) and, although modest in magnitude, may provide meaningful relief, especially when integrated into a comprehensive labour management plan. Future research01) and, although modest in magnitude, may provide meaningful relief, especially when integrated into a comprehensive labour management plan. Future research
POLTEKKES JOGJAPOLTEKKES JOGJA Namun, tantangan sosial‑ekonomi dan keterbatasan akses informasi dapat menghambat penerapan perilaku sehat, meskipun sikap positif sudah ada. Oleh karenaNamun, tantangan sosial‑ekonomi dan keterbatasan akses informasi dapat menghambat penerapan perilaku sehat, meskipun sikap positif sudah ada. Oleh karena