UNMUSUNMUS

MUSTEK ANIM HAMUSTEK ANIM HA

Shock absorber belakang merupakan komponen penting dalam sistem suspensi sepeda motor yang berfungsi untuk meredam getaran dan menjaga kestabilan kendaraan. Kegagalan struktural pada komponen ini dapat terjadi apabila tegangan dan defleksi yang timbul melebihi batas yang diizinkan oleh material. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan karakteristik tegangan dan defleksi pada shock absorber belakang model tabung dan non tabung yang digunakan pada sepeda motor Honda Beat FI. Analisis dilakukan menggunakan metode elemen hingga (Finite Element Method/FEM) melalui perangkat lunak SolidWorks Simulation. Model tiga dimensi dari kedua desain shock absorber dikembangkan dan diberi pembebanan statik sebesar 800 N yang merepresentasikan kondisi operasi normal. Sifat material diasumsikan homogen dan isotropik. Simulasi dilakukan untuk mengevaluasi tegangan Von Mises, regangan, perpindahan total (displacement), serta faktor keamanan guna menilai performa struktural. Hasil simulasi menunjukkan bahwa tegangan Von Mises maksimum terjadi pada area dudukan bawah pada kedua desain. Shock absorber model tabung menghasilkan tegangan maksimum sebesar 465,78 MPa dan displacement maksimum sebesar 1,6951 mm, sedangkan shock absorber model non tabung menghasilkan tegangan maksimum sebesar 448,19 MPa dengan displacement sebesar 1,7983 mm. Analisis perbandingan menunjukkan bahwa shock absorber model tabung memiliki defleksi yang lebih rendah dan respons struktur yang lebih stabil dibandingkan desain non tabung. Kedua model masih berada dalam batas aman pengoperasian, namun area dudukan bawah diidentifikasi sebagai bagian paling kritis. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam optimalisasi dan pengembangan sistem suspensi sepeda motor dengan keandalan struktural yang lebih baik.

Berdasarkan hasil simulasi, tegangan maksimum pada kedua desain shock absorber terkonsentrasi pada dudukan bawah, yang merupakan titik transfer utama gaya dari lengan ayun ke struktur suspensi.Kondisi ini terjadi karena dudukan bawah menerima gaya tekan terbesar serta mengalami konsentrasi tegangan akibat perubahan geometri, khususnya pada daerah transisi antara penampang silinder dan lubang dudukan.Fenomena konsentrasi tegangan pada area sambungan ini sejalan dengan teori mekanika material, di mana diskontinuitas geometri berperan signifikan dalam meningkatkan nilai tegangan lokal.Hasil perbandingan menunjukkan desain tabung menghasilkan tegangan maksimum sedikit lebih tinggi dibandingkan desain non tabung.Namun demikian, desain non tabung justru menunjukkan defleksi dan regangan yang lebih besar.Perbedaan ini mengindikasikan bahwa desain tabung memiliki kekakuan struktural yang lebih tinggi, yang memungkinkan distribusi beban lebih efektif sehingga deformasi yang terjadi relatif lebih kecil.Sebaliknya, desain non tabung yang memiliki konstruksi lebih sederhana dan hanya mengandalkan satu tabung utama cenderung menerima beban secara langsung, sehingga menghasilkan deformasi elastis yang lebih besar meskipun nilai tegangan maksimum tidak jauh berbeda.Dari sudut pandang performa struktural, hasil ini menunjukkan adanya trade-off antara kekakuan dan fleksibilitas.Struktur yang lebih kaku, seperti pada desain tabung, mampu membatasi defleksi dan regangan, yang berpotensi meningkatkan stabilitas dan umur pakai komponen.Sementara itu, desain non tabung yang lebih fleksibel dapat memberikan respons redaman yang lebih besar, tetapi dengan konsekuensi meningkatnya displacement dan regangan pada area kritis.Evaluasi faktor keamanan menunjukkan bahwa kedua desain masih berada dalam batas aman terhadap tegangan luluh material, dengan nilai minimum faktor keamanan berada di sekitar dudukan bawah.Meskipun demikian, area ini tetap menjadi zona kritis yang berpotensi mengalami kelelahan material dalam kondisi pembebanan berulang.Untuk pengembangan desain selanjutnya perlu difokuskan pada optimalisasi dudukan bawah, misalnya melalui penambahan fillet radius, peningkatan ketebalan lokal, atau pemilihan material dengan kekuatan luluh yang lebih tinggi, guna meningkatkan keandalan struktural shock absorber secara keseluruhan.

Untuk penelitian lanjutan, dapat dilakukan analisis lebih mendalam mengenai pengaruh desain shock absorber terhadap performa suspensi secara keseluruhan. Studi ini dapat mencakup evaluasi karakteristik redaman, respons frekuensi, dan kenyamanan pengendara. Selain itu, penelitian dapat diperluas dengan mempertimbangkan pengaruh material dan geometri yang berbeda pada performa struktural shock absorber. Dengan demikian, penelitian lanjutan dapat memberikan kontribusi lebih luas dalam pengembangan sistem suspensi sepeda motor yang lebih optimal dan nyaman.

  1. Design and Analysis of Base Valve of Twin Tube Dampers | Scientific.Net. design analysis base valve twin... doi.org/10.4028/scientific.net/AMM.852.504Design and Analysis of Base Valve of Twin Tube Dampers Scientific Net design analysis base valve twin doi 10 4028 scientific AMM 852 504
  2. Structural and Stress Analysis of NACA0012 Wing Using SolidWorks | IIETA. structural stress analysis... iieta.org/journals/mmep/paper/10.18280/mmep.110820Structural and Stress Analysis of NACA0012 Wing Using SolidWorks IIETA structural stress analysis iieta journals mmep paper 10 18280 mmep 110820
  3. Design and analysis of newly developed two-wheeler shock absorber helical spring - IOPscience. design... iopscience.iop.org/article/10.1088/1742-6596/2601/1/012025Design and analysis of newly developed two wheeler shock absorber helical spring IOPscience design iopscience iop article 10 1088 1742 6596 2601 1 012025
  4. Design and Material Analysis of a Suspension System in Scooter by using Finite Element Analysis Method... journals.asianresassoc.org/index.php/irjmt/article/view/173Design and Material Analysis of a Suspension System in Scooter by using Finite Element Analysis Method journals asianresassoc index php irjmt article view 173
Read online
File size692.54 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test