PELNIPELNI

Jurnal Keperawatan Degeneratif PelniJurnal Keperawatan Degeneratif Pelni

Anak usia prasekolah sering mengalami tahap perkembangan pada keterampilan motorik halus yang kurang maksimal. Pada tahap perkembangan anak dengan rentang usia 3-6 tahun sangat penting untuk meningkatkan aktivitas keterampilan motorik halus yang melibatkan kemampuan fisik dengan jari-jemari serta koordinasi antara tangan dan mata. Salah satu metode yang efektif untuk ini adalah melalui kegiatan meronce yang menggunakan sedotan dan tali yang sudah ditempelkan sesuai pola roncean berdasarkan urutannya. Penelitian ini bertujuan menerapkan intervensi bermain meronce dalam meningkatkan keterampilan motorik halus pada anak usia prasekolah di Tk Bina Insan Kabupaten Tangerang. Metode penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan melibatkan 2 tahap responden anak usia prasekolah yang mengalami perkembangan kategori belum berkembang dan mulai berkembang. Intervensi dilakukan dengan bermain meronce menggunakan sedotan dengan durasi 15 menit setiap hari selama 3 hari. Pengukuran dilakukan menggunakan lembar Check list motorik halus dan SOP meronce pada saat pretest dan posttest. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor keterampilan motorik halus pada kategori mulai berkembang menjadi berkembang sesuai harapan. Perubahan terjadi pada kedua responden dengan responden I meningkat dari hasil skor 25% dengan kategori belum berkembang menjadi hasil skor 62,5% dengan kategori berkembang sesuai harapan, responden II meningkat dari hasil skor 37,5% dengan kategori mulai berkembang menjadi hasil skor 62,5% dengan kategori berkembang sesuai harapan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kegiatan bermain meronce menggunakan sedotan dan tali meningkatkan keterampilan motorik halus pada anak usia prasekolah. Penelitian ini dapat dijadikan alternative oleh orang tua maupun guru dalam meningkatkan keterampilan motorik halus.

Karakteristik responden pada penelitian ini yaitu responden I jenis kelamin perempuan berusia 6 tahun 3 bulan, responden II jenis kelamin perempuan berusia 4 tahun 9 bulan.Perkembangan keterampilan motorik halus pada 2 responden sebelum dilakukan intervensi kegiatan meronce dengan keterangan Responden I dengan hasil score 43,7% dikatakan mulai berkembang.Responden II mendapat hasil score 37,5% dikatakan mulai berkembang.Keterampilan motorik halus pada 2 responden setelah dilakukan intervensi kegiatan meronce menggunakan sedotan mengalami peningkatan.Responden I mendapat score 75% dengan keterangan berkembang sesuai harapan.Responden II dengan score 62,5% dengan keterangan berkembang sesuai harapan.Terdapat dari hasil perhitungan bahwa adanya perbedaan yang dialami oleh responden sebelum dan setelah dilakukan intervensi keiatan meronce menggunakan sedotan.

Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi dampak penggunaan bahan alami seperti daun atau ranting sebagai alternatif dari sedotan dan tali dalam kegiatan meronce, untuk melihat apakah bahan tersebut memberikan efek serupa atau lebih baik dalam meningkatkan motorik halus. Selain itu, penelitian bisa mengkaji efektivitas penggunaan teknologi seperti aplikasi interaktif berbasis gambar untuk memperkaya stimulasi motorik halus pada anak prasekolah, terutama dalam konteks pembelajaran jarak jauh. Terakhir, penelitian lanjutan juga bisa membandingkan kegiatan meronce dengan aktivitas motorik halus lainnya, seperti melipat kertas atau memasak sederhana, untuk menentukan metode mana yang paling efektif dalam meningkatkan koordinasi mata-tangan dan kemandirian anak prasekolah.

  1. KAJIAN TENTANG POLA ASUH ORANGTUA TERHADAP PERILAKU ANAK USIA DINI | Yapalalin | Jurnal Ilmiah Cahaya... ejournal.unkhair.ac.id/index.php/cahayapd/article/view/2111KAJIAN TENTANG POLA ASUH ORANGTUA TERHADAP PERILAKU ANAK USIA DINI Yapalalin Jurnal Ilmiah Cahaya ejournal unkhair ac index php cahayapd article view 2111
Read online
File size366.3 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test