PNLPNL
Jurnal TeknologiJurnal TeknologiIndonesia sebagai negara kepulauan memiliki peran strategis dalam perdagangan global yang sangat bergantung pada transportasi laut. Sektor maritim menjadi tulang punggung distribusi energi dan logistik nasional, sehingga kebutuhan akan bahan bakar kapal yang efisien dan ramah lingkungan semakin meningkat. Dalam konteks ini, industri pengolahan minyak dan gas memegang peranan penting dalam memastikan ketersediaan bahan bakar yang memenuhi standar internasional. Sejak diberlakukannya regulasi International Maritime Organization (IMO) 2020, batas kandungan sulfur dalam bahan bakar kapal diturunkan secara signifikan dari 3,50% m/m menjadi maksimal 0,50% m/m. Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi emisi sulfur oksida (SOx) yang berkontribusi terhadap pencemaran udara dan dampak kesehatan global. Implementasi regulasi ini mendorong kilang minyak di seluruh dunia untuk melakukan penyesuaian produksi, termasuk optimalisasi blending bahan bakar rendah sulfur (low sulfur fuel oil/LSFO). Berbagai penelitian menunjukkan bahwa proses blending merupakan pendekatan yang fleksibel dan ekonomis dalam menghasilkan bahan bakar dengan spesifikasi tertentu tanpa investasi besar pada unit desulfurisasi baru. Studi menunjukkan bahwa blending residu dan distilat dengan proporsi yang tepat dapat mengontrol parameter seperti viskositas, densitas, dan kandungan sulfur. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa pendekatan berbasis optimasi matematis dan simulasi dapat meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menjaga stabilitas produk. Di sisi lain, tantangan utama dalam blending bahan bakar adalah kompatibilitas antar komponen, stabilitas campuran, serta pengendalian sifat fisikokimia seperti viskositas dan pour point. Penelitian oleh Wang et al. menegaskan bahwa ketidakcocokan komponen dapat menyebabkan terjadinya sedimentasi dan asphaltene precipitation yang berdampak pada kualitas bahan bakar. Oleh karena itu, pemilihan komponen blending harus mempertimbangkan interaksi kimia dan sifat termodinamika masing-masing fraksi.
Berdasarkan hasil penelitian optimasi formulasi blending Marine Fuel Oil Low Sulfur (MFO-LS), dapat disimpulkan bahwa komposisi blending sangat berpengaruh terhadap pemenuhan spesifikasi bahan bakar sesuai standar International Maritime Organization (IMO) 2020.Dari empat variasi formulasi yang diuji, blending 3 merupakan formula optimum yang mampu memenuhi seluruh parameter kritis, meliputi viskositas kinematik sebesar 87 mm²/s, pour point 24°C, flash point 66°C, serta kandungan sulfur sebesar 0,2% m/m yang berada di bawah batas maksimum 0,50% m/m.Permasalahan pada formulasi awal, yaitu tingginya pour point pada blending 1 dan blending 2, menunjukkan pentingnya keseimbangan antara komponen residu dan distilat dalam proses blending.Penambahan komponen seperti kerosene, LVGO, dan HVGO terbukti efektif dalam memperbaiki sifat alir dan kestabilan bahan bakar.Selain itu, pemanfaatan HVGO dalam kisaran 5–10% volume dapat digunakan sebagai alternatif strategis tanpa menurunkan kualitas produk.Dari aspek operasional dan ekonomis, formulasi optimum mampu meningkatkan pemanfaatan short residue hingga 40%, sehingga memberikan nilai tambah terhadap produk bernilai rendah menjadi bahan bakar yang memenuhi standar internasional.Reformulasi ini juga berdampak positif terhadap efisiensi pembakaran, pengurangan emisi, serta potensi penghematan energi pada sistem pemanasan bahan bakar.Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi praktis dalam pengembangan strategi blending yang optimal, adaptif terhadap regulasi global, dan aplikatif pada kondisi aktual kilang.
Berdasarkan hasil penelitian, berikut adalah saran penelitian lanjutan: Pertama, perlu dilakukan studi lebih lanjut mengenai pengaruh komposisi blending yang berbeda terhadap stabilitas dan kompatibilitas bahan bakar, terutama dalam jangka waktu penyimpanan yang lebih lama. Kedua, penelitian dapat fokus pada pengembangan model matematis yang lebih canggih untuk optimasi blending, dengan mempertimbangkan interaksi kompleks antar sifat fisikokimia bahan bakar. Ketiga, studi kasus kilang di Indonesia dapat dieksplorasi lebih dalam untuk memahami tantangan operasional dan ekonomis yang spesifik, serta mengembangkan strategi blending yang sesuai dengan kondisi lokal.
| File size | 365.07 KB |
| Pages | 6 |
| DMCA | Report |
Related /
PROSPECTPUBLISHINGPROSPECTPUBLISHING Program Nona Nori merupakan sebuah inisiatif pemberdayaan masyarakat pesisir yang berfokus pada pemanfaatan potensi lokal berupa rumput laut di Desa Tablolong,Program Nona Nori merupakan sebuah inisiatif pemberdayaan masyarakat pesisir yang berfokus pada pemanfaatan potensi lokal berupa rumput laut di Desa Tablolong,
UNPUNP Secara umum, perencanaan inspeksi pipa lebih menantang dibandingkan jenis peralatan lain di industri, terutama karena kurangnya regulasi yang mengaturSecara umum, perencanaan inspeksi pipa lebih menantang dibandingkan jenis peralatan lain di industri, terutama karena kurangnya regulasi yang mengatur
PIP SEMARANGPIP SEMARANG Sebagai komponen utama dalam mesin induk yang harus dijaga performa dan melaksanakan perawatan yang sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. KarenaSebagai komponen utama dalam mesin induk yang harus dijaga performa dan melaksanakan perawatan yang sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Karena
PIP SEMARANGPIP SEMARANG Pertumbuhan biota laut juga dapat menyempitkan diameter pipa, meningkatkan tekanan, dan merusak struktur bangunan yang terpapar langsung dengan air lautPertumbuhan biota laut juga dapat menyempitkan diameter pipa, meningkatkan tekanan, dan merusak struktur bangunan yang terpapar langsung dengan air laut
PIP SEMARANGPIP SEMARANG Kartini Samudra sedang berlabuh di Kalimantan untuk proses pemuatan, terdeteksi suara tidak normal pada genset diesel no. 3. Keputusan diambil untuk melakukanKartini Samudra sedang berlabuh di Kalimantan untuk proses pemuatan, terdeteksi suara tidak normal pada genset diesel no. 3. Keputusan diambil untuk melakukan
UMBUMB Berdasarkan pengujian metalografi, setelah proses tempa panas, baja laterit A588-1%Ni memiliki mikrostruktur seperti ferit-perlit. Kemudian, setelah perlakuanBerdasarkan pengujian metalografi, setelah proses tempa panas, baja laterit A588-1%Ni memiliki mikrostruktur seperti ferit-perlit. Kemudian, setelah perlakuan
POLRAFPOLRAF Penelitian ini merancang dan membangun mesin yang menggabungkan fungsi perajang dan pemarut dalam satu perangkat, dengan menggerakkannya menggunakan motorPenelitian ini merancang dan membangun mesin yang menggabungkan fungsi perajang dan pemarut dalam satu perangkat, dengan menggerakkannya menggunakan motor
POLRAFPOLRAF Kebutuhan service bagi sepeda motor menjadi kebutuhan rutin yang harus dilakukan oleh penggunanya. Kerusakan ban menjadi permasalahan penting bagi pengendaraKebutuhan service bagi sepeda motor menjadi kebutuhan rutin yang harus dilakukan oleh penggunanya. Kerusakan ban menjadi permasalahan penting bagi pengendara
Useful /
PNLPNL ) serta serai wangi (Cymbopogon nardus) terhadap karakteristik dan aktivitas antibakteri pembersih lantai alami. Metode ekstraksi yang dipakai adalah maserasi) serta serai wangi (Cymbopogon nardus) terhadap karakteristik dan aktivitas antibakteri pembersih lantai alami. Metode ekstraksi yang dipakai adalah maserasi
PROSPECTPUBLISHINGPROSPECTPUBLISHING Penelitian menggunakan kerangka Triple Bottom Line (3P) – Planet, People, Profit – untuk menganalisis dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi dari kolaborasiPenelitian menggunakan kerangka Triple Bottom Line (3P) – Planet, People, Profit – untuk menganalisis dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi dari kolaborasi
PROSPECTPUBLISHINGPROSPECTPUBLISHING Program SALAM KAWASI PT TBP telah membuktikan diri sebagai model pemberdayaan yang efektif, yang menekankan kesesuaian dengan kebutuhan lokal, partisipasiProgram SALAM KAWASI PT TBP telah membuktikan diri sebagai model pemberdayaan yang efektif, yang menekankan kesesuaian dengan kebutuhan lokal, partisipasi
UNEJUNEJ 105, menunjukkan ketidaksesuaian penting antara regulasi nasional dan standar internasional. Ditemukan inkonsistensi antara Kode Ketenagakerjaan 2019 yang105, menunjukkan ketidaksesuaian penting antara regulasi nasional dan standar internasional. Ditemukan inkonsistensi antara Kode Ketenagakerjaan 2019 yang