UNILAUNILA

Jurnal Sylva LestariJurnal Sylva Lestari

Sampah menjadi salah satu permasalahan utama di Sei Sembilang, sebuah dusun yang terletak di kawasan Taman Nasional Berbak-Sembilang. Kawasan ini sulit dijangkau dan, hingga kini, belum ada sistem pengelolaan sampah yang efektif. Pengelolaan sampah tidak dapat dipisahkan dari keterlibatan laki‑laki dan perempuan; oleh karena itu, dibutuhkan model pengelolaan sampah yang dapat menyesuaikan dengan kepentingan masyarakat serta peran gender. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model pengelolaan sampah berbasis gender yang memadai untuk mengatasi permasalahan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode campuran sekuensial penjelas. Data kuantitatif dianalisis melalui tiga tahap: penyuntingan, pemkodean, dan tabulasi dalam tabel serta diagram. Data kualitatif dianalisis secara deskriptif melalui tiga tahap, yaitu reduksi, presentasi, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan dan sikap masyarakat, baik laki‑laki maupun perempuan, cukup tinggi, namun tidak disertai perilaku yang memadai. Perempuan cenderung memiliki tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku yang lebih tinggi dibandingkan laki‑laki. Model pengelolaan sampah yang dapat dikembangkan adalah model pengelolaan sampah terintegrasi yang dapat menampung semua lapisan masyarakat. Model ini membagi peran antara masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta. Dalam model tersebut, perempuan memiliki peran yang lebih signifikan dalam pemisahan sampah dan pemanfaatan sampah plastik menjadi produk kerajinan. Sementara laki‑laki memegang peran dalam pengangkutan dan pemrosesan sampah plastik menjadi bahan baku plastik bernilai ekonomi.

Pengetahuan dan sikap masyarakat Sei Sembilang Hammer cukup tinggi, namun perilaku pengelolaan sampah masih rendah akibat lokasi geografis yang sulit diakses dan kurangnya fasilitas pengelolaan sampah.Perempuan memiliki tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku yang lebih tinggi dibandingkan laki‑laki, berkat tanggung jawab domestic yang menuntut perhatian terhadap kebersihan lingkungan.Model pengelolaan sampah berbasis gender yang dikembangkan merupakan model terintegrasi yang melibatkan semua lapisan masyarakat sekaligus membagi peran antara masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta.Dalam model tersebut, perempuan berperan penting dalam pemisahan sampah dan pemanfaatan sampah plastik menjadi produk kerajinan, sedangkan laki‑laki bertugas pengangkutan dan pemrosesan sampah plastik menjadi bahan baku plastik bernilai ekonomi.

Melakukan penelitian lanjutan untuk mengevaluasi efektivitas pelatihan peningkatan kapasitas perempuan dalam produksi kerajinan berbahan dasar sampah plastik, sehingga dapat meningkatkan pendapatan komunitas sekaligus menurunkan volume sampah di dusun; meneliti potensi pengembangan infrastruktur pengumpulan dan pengolahan sampah, seperti pembuatan tempat pembuangan akhir terkelola dan fasilitas pemilihan sampah, untuk menyalurkan kebiasaan pengelolaan sampah berkelanjutan; serta menjajaki model kemitraan masyarakat‑pemerintah‑sektor swasta berbasis platform digital yang memfasilitasi aliran informasi, pemantauan, dan insentif bagi peserta pengelolaan sampah, guna memperkuat partisipasi dan transparansi dalam pengelolaan sampah komunitas.

  1. Gerakan Ekofeminisme Dalam Pemberdayaan Perempuan Pengolah Limbah (Studi Kasus Komunitas Pengolah Limbah... doi.org/10.29303/resiprokal.v1i1.4Gerakan Ekofeminisme Dalam Pemberdayaan Perempuan Pengolah Limbah Studi Kasus Komunitas Pengolah Limbah doi 10 29303 resiprokal v1i1 4
  2. "Pengetahuan dan Perilaku Ibu Rumah Tangga dalam Pengelolaan Sampah Pla" by Ririn Setyowati... scholarhub.ui.ac.id/kesmas/vol7/iss12/6Pengetahuan dan Perilaku Ibu Rumah Tangga dalam Pengelolaan Sampah Pla by Ririn Setyowati scholarhub ui ac kesmas vol7 iss12 6
Read online
File size857.96 KB
Pages18
DMCAReport

Related /

ads-block-test