UGMUGM

Jurnal KawistaraJurnal Kawistara

Perkembangan teknologi telah menggeser praktik dakwah dari ruang fisik menuju ruang digital dengan dinamika identitas yang lebih kompleks. Penelitian ini menyoroti fenomena politik nicknaming melalui studi kasus Dennis Lim, pendakwah Tionghoa muslim yang dikenal dengan sapaan “Koh Dennis. Dengan pendekatan kualitatif melalui netnografi dan wawancara mendalam, penelitian ini menganalisis bagaimana nickname digunakan sebagai strategi identitas, serta bagaimana audiens pembentukan memaknai simbolik penyemataan sapaan tersebut. Kerangka Communication Theory of Identity (Michael Hect) dipakai untuk memahami keterkaitan lapisan personal, relasional, dan komunal dalam konstruksi identitas dakwah digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan sapaan “Koh tidak sekadar label personal, tetapi berfungsi sebagai strategi branding yang memperkuat kedekatan, mengartikulasikan identitas secara otentik, serta menciptakan representasi komunal yang menantang dominasi etnis dalam ruang dakwah Islam. Secara praktis, nicknaming memungkinkan dakwah menjadi lebih inklusif, cair, dan mudah diakses, meski penerimaan publik tetap dipengaruhi oleh norma kultural serta legitimasi keagamaan yang berlaku.

Penelitian ini menegaskan bahwa penggunaan CTI membuka cara pandang baru untuk memahami praktik penamaan dalam dakwah digital.Lapisan personal, relasional, dan komunal ternyata saling terkait dalam membentuk otoritas religius yang lebih cair dan kontekstual.Dari sisi praksis, temuan ini menyoroti bagaimana strategi branding berbasis nickname dapat memperluas aksesibilitas dakwah sekaligus mendorong ruang interaksi yang lebih inklusif bagi audiens digital.Namun, efektivitas nicknaming ini tidak bersifat mutlak.Sebagian audiens justru menilai bahwa gaya populer yang dibawa Koh Dennis berpotensi mengurangi kesakralan dakwah dan melemahkan legitimasi yang biasanya ditopang oleh otoritas formal.

Berdasarkan temuan penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, penelitian lebih lanjut dapat mengeksplorasi bagaimana strategi nicknaming yang digunakan oleh pendakwah digital memengaruhi persepsi audiens terhadap kredibilitas dan keaslian pesan dakwah. Hal ini penting untuk memahami sejauh mana faktor personal branding dapat menggeser peran otoritas keagamaan tradisional. Kedua, penelitian dapat difokuskan pada analisis komparatif strategi nicknaming yang digunakan oleh pendakwah dari berbagai latar belakang etnis dan agama, untuk mengidentifikasi pola-pola representasi identitas yang berbeda. Ketiga, penelitian kualitatif mendalam dapat dilakukan untuk menggali pengalaman audiens dalam berinteraksi dengan pendakwah digital yang menggunakan nickname, dengan fokus pada bagaimana nickname tersebut memengaruhi rasa keterhubungan, kepercayaan, dan partisipasi dalam komunitas dakwah daring. Dengan menggabungkan ketiga saran ini, penelitian selanjutnya dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang dinamika identitas, komunikasi, dan otoritas dalam ekosistem dakwah digital yang terus berkembang.

  1. Politik Nicknaming dalam Dakwah Digital: Identitas dan Efektivitas Komunikasi Koh Dennis di Media Sosial... doi.org/10.22146/kawistara.111562Politik Nicknaming dalam Dakwah Digital Identitas dan Efektivitas Komunikasi Koh Dennis di Media Sosial doi 10 22146 kawistara 111562
Read online
File size928.21 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test