UNISMUHUNISMUH

Otoritas : Jurnal Ilmu PemerintahanOtoritas : Jurnal Ilmu Pemerintahan

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) semakin diakui sebagai instrumen strategis untuk memperkuat tata kelola publik dan memajukan pembangunan berkelanjutan, khususnya di negara berkembang seperti Vietnam. Dalam sektor konstruksi, yang dicirikan oleh risiko lingkungan dan sosial yang tinggi, integrasi CSR sebagian besar masih bersifat sukarela, dengan penegakan peraturan yang terbatas dan sistem pemantauan yang lemah. Kesenjangan institusional ini menciptakan urgensi untuk menyelidiki bagaimana CSR berkontribusi terhadap efektivitas tata kelola lokal, terutama dalam konteks transformasi digital yang sedang berlangsung. Studi ini menguji dampak dimensi CSR terhadap efektivitas tata kelola lokal di sektor konstruksi Vietnam menggunakan 110 observasi berbasis survei dari perusahaan, pejabat pemerintah, dan ahli yang dikumpulkan antara tahun 2022 dan 2024. Pendekatan kuantitatif diterapkan, termasuk Cronbachs Alpha, korelasi Pearson, dan regresi linier berganda menggunakan SPSS 26.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua komponen CSR hukum dan etika secara signifikan meningkatkan efektivitas tata kelola, dengan tanggung jawab tersebut memberikan pengaruh yang lebih kuat daripada dimensi ekonomi dan filantropis. Kebaruan penelitian ini terletak pada penempatan CSR sebagai mekanisme tata kelola pelengkap daripada sekadar kewajiban perusahaan. Studi ini menyumbangkan bukti empiris pada literatur yang terbatas mengenai CSR dan tata kelola publik dalam konteks pembangunan dan menawarkan wawasan yang relevan dengan kebijakan untuk memperkuat kerangka hukum, meningkatkan koordinasi multi-pemangku kepentingan, dan mempromosikan praktik bisnis yang etis untuk hasil tata kelola yang berkelanjutan.

Studi ini menunjukkan bahwa kontribusi CSR terhadap efektivitas tata kelola lokal di sektor konstruksi bersifat kondisional dan tidak merata, sangat bergantung pada bagaimana CSR dioperasionalkan—apakah sebagai kewajiban kepatuhan atau mekanisme penciptaan nilai substansial.Lingkungan regulasi yang cenderung bersifat sukarela dan terfragmentasi menyebabkan dimensi kepatuhan lebih dominan, membatasi potensi transformatif CSR dan menyoroti perlunya koherensi kelembagaan yang lebih mendalam.Oleh karena itu, diperlukan reformasi regulasi dan pergeseran paradigma menuju pendekatan tata kelola yang peka konteks, didukung oleh kerangka hukum yang jelas, keterlibatan multi-pemangku kepentingan, dan integrasi CSR dalam pengawasan tata kelola lokal untuk menciptakan nilai publik yang berkelanjutan.

Melihat hasil penelitian yang menunjukkan bahwa tidak semua dimensi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) secara merata berkontribusi pada persepsi efektivitas tata kelola lokal, penelitian lanjutan dapat fokus pada beberapa area krusial. Pertama, penting untuk menyelidiki lebih dalam bagaimana mekanisme penilaian dan pelaporan CSR di tingkat daerah dapat disempurnakan. Tujuannya adalah agar kontribusi perusahaan yang kurang terlihat, seperti penciptaan lapangan kerja atau inisiatif lingkungan yang lebih luas, dapat diukur dan diakui secara efektif, sehingga sejalan dengan persepsi pemerintah dan masyarakat tentang tata kelola yang baik. Penelitian ini dapat mengidentifikasi indikator-indikator baru yang lebih komprehensif atau mengembangkan kerangka pelaporan yang menggabungkan aspek kepatuhan dan pengembangan berkelanjutan. Kedua, perlu diteliti sejauh mana kualitas kelembagaan lokal, termasuk tingkat transparansi dan kapasitas digital pemerintah daerah, berperan sebagai faktor moderasi atau mediasi. Ini untuk memahami bagaimana faktor-faktor tersebut dapat memperkuat hubungan antara inisiatif CSR yang bersifat etis dan filantropis dengan hasil efektivitas tata kelola di sektor konstruksi. Pertanyaan yang bisa dieksplorasi adalah apakah lingkungan kelembagaan yang lebih kuat dapat mendorong pengakuan terhadap nilai-nilai CSR yang lebih kompleks di luar kepatuhan semata. Ketiga, pendekatan kualitatif dapat memberikan wawasan berharga untuk memahami perbedaan persepsi antar pemangku kepentingan. Studi kasus yang melibatkan wawancara mendalam dengan pejabat pemerintah, perwakilan perusahaan konstruksi, dan anggota komunitas dapat mengungkap prioritas serta ekspektasi mereka terhadap praktik CSR. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi dimensi-dimensi CSR mana yang dianggap paling relevan dan efektif dari berbagai sudut pandang, guna membentuk strategi tata kelola yang lebih inklusif dan berkelanjutan bagi sektor konstruksi di masa depan.

  1. Transparency of Public Decision‐Making: Towards Trust in Local Government? - Grimmelikhuijsen... onlinelibrary.wiley.com/doi/10.2202/1944-2866.1024Transparency of Public DecisionyAAAaMaking Towards Trust in Local Government Grimmelikhuijsen onlinelibrary wiley doi 10 2202 1944 2866 1024
Read online
File size728.93 KB
Pages18
DMCAReport

Related /

ads-block-test