UNMUNM

Jurnal Psikologi Pendidikan dan KonselingJurnal Psikologi Pendidikan dan Konseling

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman individu dalam meregulasi emosi melalui media Artificial Intelligence, khususnya ChatGPT, sebagai tempat curhat. Pendekatan yang digunakan adalah fenomenologi dengan tiga partisipan perempuan berusia 17–27 tahun, yang diwawancarai secara daring. Analisis data dilakukan menggunakan metode fenomenologi interpretatif. Hasil penelitian mengungkap tiga tema utama: trauma masa lalu, expressive suppression, dan makna ChatGPT. ChatGPT dipersepsikan sebagai ruang aman dan bebas penghakiman, yang berkontribusi pada peningkatan resiliensi dan kesejahteraan emosional partisipan serta berperan dalam mengubah strategi regulasi expressive expression yang dimiliki menjadi cognitive appraisal pada partisipan. Temuan ini menyoroti potensi AI dalam mendukung inovasi digital di bidang kesehatan mental sehingga membantu merubah bentuk regulasi emosi yang negatif menjadi lebih adaptif, khususnya bagi individu dari keluarga broken home.

Penelitian ini menunjukkan bahwa Generasi Z perempuan dari keluarga tidak utuh dapat meregulasi emosi mereka dengan memanfaatkan ChatGPT sebagai wadah yang aman untuk menyalurkan emosi, mendapatkan validasi, dan menemukan makna positif di balik pengalaman negatif melalui reappraisal kognitif.Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa ChatGPT tidak hanya berfungsi sebagai alat digital, tetapi juga sebagai teman reflektif yang mendukung proses pemahaman diri dan pertumbuhan psikologis.Secara teoritis, temuan ini memperluas teori regulasi emosi dan teori keterikatan dengan menunjukkan peran ChatGPT dalam mencapai kesejahteraan psikologis.

Berdasarkan temuan penelitian ini, terdapat beberapa arah penelitian lanjutan yang menarik untuk dieksplorasi. Pertama, penelitian selanjutnya dapat menginvestigasi efektivitas ChatGPT dalam meregulasi emosi pada kelompok demografis lain, seperti pria atau kelompok usia yang berbeda, untuk memahami apakah pola dan mekanisme yang sama berlaku secara universal. Kedua, penting untuk meneliti lebih lanjut tentang potensi dampak jangka panjang penggunaan ChatGPT terhadap kesehatan mental, termasuk kemungkinan ketergantungan atau efek samping negatif lainnya. Ketiga, penelitian dapat difokuskan pada pengembangan intervensi berbasis AI yang lebih personal dan adaptif, yang disesuaikan dengan kebutuhan individu dan konteks spesifik mereka, dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti tingkat trauma masa lalu atau gaya regulasi emosi yang dominan. Dengan menggabungkan ketiga saran ini, diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang peran AI dalam mendukung kesehatan mental dan kesejahteraan emosional, serta membuka jalan bagi pengembangan solusi inovatif yang dapat menjangkau berbagai lapisan masyarakat.

  1. Adverse childhood experiences and repetitive negative thinking in adulthood: A systematic review - Mansueto... onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/cpp.2590Adverse childhood experiences and repetitive negative thinking in adulthood A systematic review Mansueto onlinelibrary wiley doi 10 1002 cpp 2590
Read online
File size673.11 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test