ISQIISQI

Raqib: Jurnal Studi IslamRaqib: Jurnal Studi Islam

Pendidikan Islam memiliki peran sentral dalam membentuk karakter dan mengembangkan potensi manusia secara utuh, terutama dalam upaya mencapai tujuan hidup sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi. Meski telah mengalami berbagai perubahan sejak era kolonial hingga masa kemerdekaan, pendidikan Islam di Indonesia masih menghadapi tantangan, termasuk dikotomi pendidikan, kurikulum, serta manajemen yang sering kali dianggap kurang konsisten dan kurang memiliki arah jelas. Dengan pendekatan rekonstruksionisme, yang mengutamakan perubahan sistem pendidikan agar relevan dengan kondisi sosial dan budaya modern, upaya reformasi pendidikan Islam dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan mendasar ini. Di era society 5.0, ketika dunia fisik dan virtual semakin terhubung melalui teknologi IoT dan kecerdasan buatan, pendidikan Islam dihadapkan pada peluang sekaligus tantangan baru. Era ini menuntut transformasi metode pengajaran yang tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi, tetapi juga mempertahankan nilai-nilai moral dan karakter. Tulisan ini bertujuan menilai kesiapan pendidikan Islam dalam menghadapi era society 5.0 dengan pendekatan rekonstruksionisme sebagai paradigma baru untuk mengoptimalkan akses informasi dan menyelaraskan pendidikan dengan kebutuhan zaman.

Rekonstruksionisme dalam pendidikan Islam menawarkan pendekatan yang inovatif dan adaptif dalam menghadapi tantangan akses informasi di era digital, dengan menekankan pemikiran kritis dan pembelajaran kontekstual untuk membantu peserta didik mengevaluasi informasi secara bijak.Penerapannya memerlukan pengembangan literasi digital yang komprehensif dalam kurikulum agar siswa menjadi konsumen informasi yang kritis dan bertanggung jawab tanpa mengabaikan nilai-nilai Islam.Selain itu, strategi inklusif melalui kolaborasi antara sekolah, komunitas, dan pemangku kepentingan diperlukan untuk memperluas akses pendidikan dan memperkuat relevansi pendidikan Islam di tengah masyarakat yang terus berubah.

Pertama, perlu diteliti bagaimana model kurikulum berbasis rekonstruksionisme dapat dirancang secara spesifik untuk mengintegrasikan teknologi digital dengan pendidikan karakter Islam di tingkat sekolah menengah, agar siswa mampu menghadapi disinformasi di media sosial. Kedua, perlu dikaji efektivitas pelatihan literasi digital bagi guru pendidikan agama Islam dalam konteks daerah terpencil, untuk memahami hambatan struktural dan menyusun pendekatan pelatihan yang lebih inklusif. Ketiga, penting untuk mengeksplorasi peran kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan komunitas lokal dalam membangun ekosistem pendidikan Islam yang mendukung pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab, termasuk pembuatan konten agama yang sejalan dengan nilai-nilai Islam. Penelitian-penelitian ini dapat dilanjutkan dalam bentuk studi lapangan di berbagai jenis lembaga pendidikan, baik formal maupun nonformal, untuk memastikan relevansi temuan. Pendekatan kualitatif seperti studi kasus dapat digunakan untuk mendalami pengalaman peserta didik dan pendidik dalam menavigasi informasi digital. Selain itu, model pembelajaran hybrid yang menggabungkan tatap muka dan daring perlu dievaluasi efektivitasnya dalam membangun ketahanan identitas keagamaan. Fokus pada daerah dengan akses teknologi terbatas dapat mengungkap strategi adaptasi yang inovatif. Hasil penelitian ini akan membantu merumuskan kebijakan pendidikan Islam yang lebih responsif terhadap dinamika digital. Dengan begitu, pendidikan Islam tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga menjadi agen perubahan sosial yang progresif. Temuan dari penelitian lanjutan ini dapat menjadi dasar untuk menyusun modul pelatihan guru dan panduan pengembangan kurikulum nasional.

Read online
File size284.94 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test