UINUIN

Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal (PBSJ)Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal (PBSJ)

Ikan belanak (Chelon planiceps) merupakan ikan pelagis kecil yang hidup di perairan pantai dangkal. Jenis ikan ini banyak hidup di area pesisir pantai Desa Lembo Kabupaten Konawe Utara. Ikan belanak merupakan sumber minyak ikan yang mengandung asam lemak tak jenuh yang bermanfaat bagi kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkarakterisasi sifat fisiko-kimia dan menentukan profil asam lemak minyak ikan belanak yang merupakan sumber minyak ikan yang mengandung asam lemak tak jenuh yang bermanfaat bagi kesehatan seperti omega-3 (ω-3). Kandungan asam lemak tak jenuh pada minyak ikan antara lain asam linoleate (C18:3 ω-3), asam eikosaepentanoat atau EPA (C20:5 ω-3), asam dokosaheksaetaenoat atau DHA (C22:6 ω-3). Adapun omega-3 yang lebih dominan dalam minyak ikan adalah DHA dan EPA. Proses refluks digunakan untuk memisahkan daging ikan belanak sehingga menghasilkan minyak ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak ikan belanak memiliki karakteristik fisikokimia yang berbeda yang meliputi bilangan asam, bilangan peroksida, bilangan iodium dan bilangan penyabunan dengan nilai secara berturut-turut 0,81 mg KOH/g, 8,30 meqO2/g, 50,98 I2/100 g dan 109,07 mg KOH/g. Profil asam lemak minyak ikan Belanak didominasi oleh asam palmitat, asam cis-9-oleat dan DHA dengan kandungan omega-3 total sebesar 7,56%. Berdasarkan hasil pengujian, minyak ikan belanak dapat dijadikan sebagai minyak makan berdasarkan standar SNI dan IFOS.

Minyak ikan belanak berpotensi sebagai minyak makan yang efektif.Hasil karakterisasi fisikokimia seperti bilangan asam, peroksida, iodium serta penyabunan memenuhi kriteria keberterimaan sebagai minyak makan.Minyak ikan belanak memiliki konsentrasi asam lemak jenuh yang lebih tinggi daripada asam lemak tak jenuh.

Berdasarkan hasil penelitian ini, terdapat beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dilakukan untuk mengembangkan pemahaman dan pemanfaatan minyak ikan belanak secara lebih optimal. Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh metode ekstraksi yang berbeda terhadap profil asam lemak dan kualitas minyak ikan belanak, dengan tujuan untuk mengidentifikasi metode ekstraksi yang paling efektif dalam mempertahankan kandungan omega-3 dan meminimalkan kerusakan oksidatif. Kedua, penelitian tentang potensi minyak ikan belanak sebagai bahan baku fortifikasi pangan perlu dilakukan, dengan fokus pada penentuan dosis optimal dan formulasi produk pangan yang tepat agar dapat meningkatkan kandungan omega-3 dalam makanan sehari-hari. Ketiga, penelitian mengenai pengaruh penambahan antioksidan alami terhadap stabilitas minyak ikan belanak selama penyimpanan perlu dilakukan, dengan tujuan untuk memperpanjang umur simpan minyak ikan dan menjaga kualitasnya. Dengan menggabungkan ketiga saran penelitian ini, diharapkan dapat diperoleh informasi yang komprehensif mengenai potensi minyak ikan belanak sebagai sumber omega-3 yang berkelanjutan dan bermanfaat bagi kesehatan masyarakat.

  1. AUTHENTICATION OF SPRAGUE DAWLEY RATS (RATTUS NORVEGICUS) FAT WITH GC-MS (GAS CHROMATOGRAPHY-MASS SPECTROMETRY)... doi.org/10.22159/jap.2021v13i2.40130AUTHENTICATION OF SPRAGUE DAWLEY RATS RATTUS NORVEGICUS FAT WITH GC MS GAS CHROMATOGRAPHY MASS SPECTROMETRY doi 10 22159 jap 2021v13i2 40130
  2. IPB University. ipb university pengumuman web maintenance harap lagi team doi.org/10.24156/jikk.2020.13.3.289IPB University ipb university pengumuman web maintenance harap lagi team doi 10 24156 jikk 2020 13 3 289
  3. Effect of Traditional Drying Methods on Proximate Composition, Fatty Acid Profile, and Oil Oxidation... onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/gch2.202000007Effect of Traditional Drying Methods on Proximate Composition Fatty Acid Profile and Oil Oxidation onlinelibrary wiley doi 10 1002 gch2 202000007
Read online
File size371.44 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test