IDID

JAMSIJAMSI

Pengakuan batik sebagai bagian kebudayaan bangsa Indonesia mendorong setiap daerah untuk mengembangkan ciri khas batik daerahnya. Sanggar Batik Tapak Dara, telah berdiri sejak 8 tahun yang lalu di Kelurahan Meteseh Kecamatan Tembalang Kota Semarang telah mengembangkan batik yang bercorak lingkungan disekitar kehidupan dan budaya mereka. Namun demikian sampai saat ini belum berkembang baik terutama pewarnaan yang masih kurang menarik. Proses pengolahan batik dan pewarnaan belum dikuasai dengan baik. Walaupun kemahiran membatik sudah dikuasi cukup baik namun jika tidak disertai pewarnaan yang menarik akan mengalami kesulitan dalam pemasarannya. Dari permasalahan di atas, maka perlu dilakukan penyuluhan dan pelatihan tentang pembuatan pewarna alami. Bahan yang digunakan adalah kulit kayu mahoni. Kulit kayu mahoni diekstraksi dengan menggunakan aquades sebagai pelarut dan akan menghasilkan ekstrak berbentuk cair dan berwarna merah kecoklatan yang dapat digunakan sebagai pewarna alami kain batik. Metode yang digunakan adalah analisis varians (analysis of variance) atau ANOVA 2 sisi. Pewarna alami yang dihasilkan tersebut dapat diaplikasikan pada kain batik. Penggunaan pewarna alami lebih ramah lingkungan daripada pewarna sintetis, namun memiliki kelemahan antara lain warna tidak stabil dan keseragaman warna yang kurang baik, Pewarna alami dari bahan kulit kayu mahoni berbentuk cair dan berwarna merah kecoklatan. Pada akhir program para peserta sudah mengetahui teknik pewarnaan yang benar serta dapat mengaplikasikan pada kain batik secara mandiri.

Ekstraksi kulit kayu mahoni dengan aquades menghasilkan pewarna alami yang dapat diaplikasikan pada kain batik.Penggunaan pewarna alami lebih ramah lingkungan dibandingkan pewarna sintetis, meskipun memiliki kekurangan dalam stabilitas dan keseragaman warna.Kegiatan pengabdian masyarakat ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta Sanggar Batik Tapak Dara dalam pembuatan pewarna alami secara mandiri.

Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengoptimalkan proses ekstraksi kulit kayu mahoni, misalnya dengan variasi pelarut atau metode ekstraksi yang berbeda, guna meningkatkan konsentrasi pigmen dan stabilitas warna yang dihasilkan. Kedua, studi komparatif perlu dilakukan untuk membandingkan efektivitas kulit kayu mahoni dengan sumber pewarna alami lainnya yang tersedia di wilayah Semarang, untuk menemukan alternatif pewarna yang lebih unggul dari segi kualitas dan ketersediaan. Ketiga, penelitian mengenai penggunaan bahan pengikat warna (mordan) alami sebagai pengganti bahan kimia sintetis perlu dilakukan, untuk meningkatkan ketahanan luntur warna batik dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan industri batik yang berkelanjutan dan ramah lingkungan di Kelurahan Meteseh dan sekitarnya.

  1. Pemanfaatan Kulit Kayu Mahoni sebagai Pewarna Alami Kain Batik di Kelurahan Meteseh Kecamatan Tembalang... doi.org/10.54082/jamsi.262Pemanfaatan Kulit Kayu Mahoni sebagai Pewarna Alami Kain Batik di Kelurahan Meteseh Kecamatan Tembalang doi 10 54082 jamsi 262
Read online
File size485.29 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test