UmriUmri

Photon: Jurnal Sain dan KesehatanPhoton: Jurnal Sain dan Kesehatan

Salah satu kelemahan dari plastik Polietilen tereftalat (PET) yang digunakan sebagai kemasan minuman adalah terjadinya migrasi monomer-monomer berupa formaldehid dan asetaldehid selama penyimpanan. Dari hasil penelitian terhadap beberapa jenis minuman dengan kemasan PET yang beredar di Kodya Pekanbaru menunjukkan terjadinya peningkatan kandungan formaldehid dalam minuman selama penyimpanan. Kandungan formaldehid dalam minuman yoghurt yang disimpan sampai 70 hari adalah 1,488 mg/L dan dalam HDPE 3,250 mg/l, minuman berkarbonat 2,31 mg/l dan air mineral 0,27 mg/l yang disimpan selama 30 hari dalam keadaan terpapar matahari. Penyimpanan minuman yoghurt, dan minuman berkarbonat setelah 50 hari telah melebihi NAB yang ditetapkan oleh tiga lembaga organisasi di PBB yaitu ILO, UNEP serta WHO yaitu 1 mg/L yang diperbolehkan. sedangkan air mineral masih berada dibawah standar.

Berdasarkan hasil penelitian terhadap kandungan formaldehid terhadap minuman yoghurt, minuman berkarbonat dan air mineral dapat disimpulkan, pertama, adanya migrasi formaldehid dari kemasan kedalam minuman selama penyimpanan.Kedua, untuk minuman yoghurt dan minuman berkarbonat penyimpanan sampai 50 hari formaldehid belum terdeteksi.Ketiga, untuk minuman dalam wadah PET pada penyimpanan 60 hari kandungan formaldehid dalam yoghurt 1,488 mg/l, minuman berkarboonat 2,33mg/l, yoghurt dalam HDPE 3,25 mg/l.Kandungan telah melebihi batas ambang ditetapkan oleh tiga lembaga organisasi di PBB yaitu ILO, UNEP serta WHO yaitu 1 mg/L yang boleh masuk ke dalam tubuh manusia.

Berdasarkan penelitian ini, terdapat beberapa arah studi lanjutan yang dapat dikembangkan. Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh jenis minuman terhadap tingkat migrasi formaldehid dari kemasan PET, dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti pH, kandungan gula, dan jenis bahan pengawet yang digunakan. Hal ini penting untuk memahami mekanisme interaksi antara minuman dan kemasan, sehingga dapat dikembangkan strategi untuk meminimalkan migrasi. Kedua, penelitian dapat difokuskan pada pengembangan kemasan alternatif yang lebih aman, misalnya dengan menggunakan bahan biodegradable atau dengan melapisi kemasan PET dengan bahan penghambat migrasi. Ketiga, perlu dilakukan studi komparatif mengenai dampak kesehatan dari konsumsi minuman kemasan PET yang mengandung residu formaldehid, dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti dosis, durasi paparan, dan kerentanan individu.

Read online
File size332.48 KB
Pages4
DMCAReport

Related /

ads-block-test