UGMUGM

Berkala Ilmiah BiologiBerkala Ilmiah Biologi

Melinjo (Gnetum gnemon L.) merupakan satu-spesies dari genus Gnetum yang mudah tumbuh dan dibudidayakan terutama di Jawa. Selain itu, tumbuhan ini juga bernilai ekonomis tinggi. Namun, kajian taksonomi dan reproduksinya jarang dilakukan, terutama pada kajian polennya. Polen dapat digunakan untuk kedua kajian tersebut dikarenakan memiliki morfologi, dan anatomi yang bervariasi, serta sebagai penghasil gamet jantan. Sehingga perlu dilakukan penelitian terkait struktur morfologi polen melinjo, dan fertilitasnya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mempelajari karakter morfologis polen melinjo melalui mikroskop cahaya, dan Scanning Electron Microscopy, serta mempelajari fertilitasnya. Penelitian ini dilakukan dengan pencabutan strobilus jantan yang sedang mekar pada ranting batang pohon melinjo yang diperoleh dari pohon melinjo milik warga. Pengamatan karakter morfologis polen melinjo menggunakan metode asetolisis, dan diamati menggunakan mikroskop cahaya. Pengamatan karakter ultrastruktur polen melinjo menggunakan Scanning Electron Microscopy. Fertilitas polen melinjo diuji menggunakan satu tetes larutan tetrazolium 25% selama 30 menit, dan diamati polen yang mengalami perubahan warna menjadi merah di bawah mikroskop cahaya. Polen melinjo memiliki karakter morfologi antara lain monad, panjang polar 15,41 µm, panjang equatorial 15,65 µm, dalam satu individu berbentuk oblate spheroidal, prolate, prolate spheroidal, dan suboblate, bertipe isopolar, serta simetri radial. Sedangkan karakter ultrastruktur antara lain microechinus, dan inaperturate. Fertilitas per satuan luas bidang pandang 0,0289 mm2 diperoleh tertinggi 18,18%, dan terendah 0%.

memiliki karakteristik polen monad, isopolar, simetri radial, dengan panjang polar 15,41 µm dan panjang equatorial 15,65 µm, serta bentuk yang bervariasi sesuai rasio panjang polar dan equatorial.Karakteristik ultrastruktur polennya mencakup microechinus dan tidak memiliki apertura (inaperturate).Uji fertilitas menggunakan larutan tetrazolium 25% selama 30 menit menunjukkan tingkat fertilitas tertinggi sebesar 18% dan terendah 0% per satuan luas bidang pandang 0,0289 mm2.

Pertama, perlu diteliti bagaimana pengaruh kondisi lingkungan seperti suhu dan kelembapan terhadap morfologi dan viabilitas polen melinjo di berbagai lokasi tumbuh, untuk memahami adaptasi reproduktifnya secara lebih luas. Kedua, penting untuk mengkaji peran struktur microechinus dan dinding eksin yang tipis dalam proses penyerbukan dan perkecambahan polen, mengingat polen tersebut tidak memiliki apertura yang umum ditemukan pada tumbuhan lain. Ketiga, perlu dilakukan studi tentang pengaruh nutrisi tanah terhadap tingkat fertilitas polen melinjo, mengingat adanya dugaan bahwa kekurangan unsur hara berkontribusi terhadap rendahnya fertilitas, sehingga dapat dikembangkan upaya pemupukan yang mendukung produktivitas biji secara berkelanjutan.

  1. Pollen viability and its effect on fruit set of oil palm (Elaeis guineensis Jacq.) | Biodiversitas Journal... doi.org/10.13057/biodiv/d090109Pollen viability and its effect on fruit set of oil palm Elaeis guineensis Jacq Biodiversitas Journal doi 10 13057 biodiv d090109
  2. CHROMOSOMAL ABERRATIONS IN RYE POPULATIONS - MUNTZING - 1941 - Hereditas - Wiley Online Library. chromosomal... doi.org/10.1111/j.1601-5223.1941.tb03261.xCHROMOSOMAL ABERRATIONS IN RYE POPULATIONS MUNTZING 1941 Hereditas Wiley Online Library chromosomal doi 10 1111 j 1601 5223 1941 tb03261 x
  3. CHROMOSOMAL ABERRATIONS IN RYE POPULATIONS - MUNTZING - 1941 - Hereditas - Wiley Online Library. chromosomal... doi.wiley.com/10.1111/j.1601-5223.1941.tb03261.xCHROMOSOMAL ABERRATIONS IN RYE POPULATIONS MUNTZING 1941 Hereditas Wiley Online Library chromosomal doi wiley 10 1111 j 1601 5223 1941 tb03261 x
Read online
File size465.26 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test