UIGMUIGM

Besaung : Jurnal Seni Desain dan BudayaBesaung : Jurnal Seni Desain dan Budaya

Seperti halnya saat ini film berperan sebagai media dalam menyampaikan pesan, makna dan informasi kepada penonton. Penelitian ini dilakukan pada objek film fiksi Dua Garis Biru produksi Starvision Plus dari perspektif pemangku adat Minangkabau di Nagari Talago Gunung Kecamatan Barangin Kota Sawahlunto menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode penelitian analisis deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik analisis data dengan pendekatan analisis metode desain deskriptif (descriptive design), langkah-langkah pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagi masyarakat minangkabau Film Dua Garis Biru memberikan pesan dampak pergaulan bebas yang menghancurnya masa depan. Pergaulan bebas ini terjadi karena kurangnya peran orang tua dalam mendidik anak, namun film Dua Garis Biru tidak bisa di tonton oleh semua orang, sebab film ini berisikan adegan yang terlalu dewasa, dan film ini juga tidak sesuai dengan aturan adat Minangkabau dan ajaran agama Islam.

Berdasarkan analisis data, dapat disimpulkan bahwa film Dua Garis Biru memberikan pesan tentang dampak negatif pergaulan bebas yang dapat menghancurkan masa depan, disebabkan oleh kurangnya peran orang tua dalam mendidik anak.Pemangku adat Minangkabau berpendapat bahwa film ini tidak cocok untuk ditonton oleh semua kalangan karena mengandung adegan dewasa yang tidak sesuai dengan norma adat dan agama.Oleh karena itu, diperlukan pembatasan usia penonton dan kehati-hatian dalam menyajikan konten film yang sesuai dengan nilai-nilai budaya dan agama masyarakat Minangkabau.

Berdasarkan latar belakang, metode, hasil, dan keterbatasan penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk mengeksplorasi dampak jangka panjang dari paparan film seperti Dua Garis Biru terhadap perilaku dan pandangan remaja Minangkabau mengenai seksualitas dan hubungan. Kedua, studi komparatif dapat dilakukan dengan membandingkan persepsi pemangku adat di berbagai nagari di Minangkabau untuk memahami variasi pandangan dan nilai-nilai yang ada. Ketiga, penelitian kualitatif mendalam dapat dilakukan dengan melibatkan remaja Minangkabau sebagai partisipan untuk menggali pengalaman dan interpretasi mereka terhadap pesan-pesan yang terkandung dalam film tersebut. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang bagaimana media massa, khususnya film, berinteraksi dengan budaya dan nilai-nilai masyarakat Minangkabau, serta memberikan masukan bagi pengembangan kebijakan dan program edukasi yang relevan. Dengan demikian, diharapkan dapat tercipta lingkungan media yang lebih sehat dan bertanggung jawab, serta mampu melindungi generasi muda dari dampak negatif yang mungkin timbul.

Read online
File size196.01 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test