STAINUSANTARASTAINUSANTARA

Jurnal Ikhtibar NusantaraJurnal Ikhtibar Nusantara

Kesadaran sebagai fungsi mental utama terus diteliti dalam kaitannya dengan religiusitas dalam pembentukan kepribadian. Religiusitas, dalam arti ketekunan dalam menjalankan praktik keagamaan dalam Islam, secara khusus dibahas dalam tasawuf sebagai disiplin spiritual. Makalah ini menghadirkan kesadaran beragama dalam membentuk kepribadian sehubungan dengan tasawuf. Dalam tasawuf, pembentukan kepribadian melibatkan tahapan takhalli (pelepasan sifat negatif), tahalli (pengisian sifat positif), dan tajalli (internalisasi sifat positif). Diskusi ini menggabungkan data kepustakaan dengan data lapangan dari praktisi tasawuf yang berafiliasi dengan tarekat Naqsyabandiyah di kawasan pesisir utara Aceh. Tasawuf di kalangan masyarakat Aceh, khususnya di wilayah pesisir utara, tetap menjadi rujukan utama dalam memahami dan memperkuat religiusitas, sebagaimana terbukti dari referensi keagamaan yang digunakan di pesantren (dayah) dan di kalangan pengikut tarekat. Referensi-referensi tersebut secara eksplisit menjelaskan relevansi dan pentingnya menjalankan syariat, tarekat, dan hakikat sebagai kesatuan yang tak terpisahkan. Tasawuf, melalui referensi dan praktik lapangannya, diketahui mampu meningkatkan kesadaran beragama dalam membentuk kepribadian Islami.

Pendekatan tasawuf sebagai studi spiritualitas Islam memiliki korelasi dengan kesadaran religiusitas dalam membentuk kepribadian.Aspek-aspek religiusitas seperti kepercayaan, praktik keagamaan, pengalaman, pengetahuan, dan konsekuensi saling mendukung untuk mewujudkan religiusitas sebagai dasar pembentukan kepribadian.Perspektif tasawuf menunjukkan adanya keterkaitan antara tahapan takhalli, tahalli, dan tajalli dengan aspek religiusitas dalam membentuk kepribadian ideal (insan kamil).

Pertama, perlu diteliti bagaimana tahapan takhalli, tahalli, dan tajalli dalam praktik tarekat Naqsyabandiyah memengaruhi perkembangan emosional dan moral remaja di lingkungan pesantren, mengingat usia tersebut merupakan masa penting pembentukan identitas. Kedua, penting untuk mengeksplorasi peran simbol-simbol ekspresif dalam ritual tasawuf, seperti zikir dan wirid, dalam membangun kesadaran religius di kalangan generasi muda yang cenderung lebih terhubung dengan media digital daripada tradisi lisan. Ketiga, sebaiknya dilakukan penelitian tentang efektivitas pendekatan tasawuf dalam konteks modern, seperti di lingkungan perkotaan atau kampus, untuk melihat apakah nilai-nilai tasawuf masih relevan dalam membentuk kepribadian di tengah pengaruh globalisasi dan individualisme. Penelitian-penelitian ini dapat mengungkap potensi tasawuf sebagai alternatif pendidikan karakter yang berbasis spiritualitas Islam. Selain itu, hasilnya bisa menjadi dasar pengembangan modul pelatihan kepribadian yang memadukan nilai tasawuf dengan psikologi kontemporer. Fokus pada kelompok usia dan konteks sosial yang berbeda akan memberikan gambaran komprehensif tentang adaptabilitas ajaran tasawuf. Dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif, peneliti dapat mengukur perubahan sikap dan perilaku sebelum dan sesudah intervensi berbasis praktik tasawuf. Hal ini juga membuka peluang untuk membandingkan efektivitas antar tarekat atau antar komunitas. Dengan demikian, penelitian lanjutan tidak hanya memperdalam pemahaman akademik, tetapi juga memberikan kontribusi praktis bagi pembangunan karakter bangsa yang religius dan beretika.

Read online
File size239.33 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test