IBRAHIMYIBRAHIMY

Samakia : Jurnal Ilmu PerikananSamakia : Jurnal Ilmu Perikanan

Kegiatan analisa kualitas air yang dilakukan petani tambak rakyat konstruksi dinding semen dan dasar tambak semen di pantai Konang Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek, belum memenuhi standar baku dalam analisa kualitas air tambak. Petani tambak hanya menganalisa pH, kecerahan dan suhu air tambak. Tujuan penelitian untuk mendapatkan informasi dan mengambarkan tentang analisa kualitas air di tambak rakyat konstruksi dinding semen dan dasar tambak semen di pantai Konang Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek. Kegiatan analisa kualitas air petak tambak rakyat konstruksi dinding semen dan dasar tambak semen di pantai Konang Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek, yang diamati berupa suhu, kecerahan dan pH, dengan luas tambak 250 m2. Kegiatan pengamatan kualitas air selama 30 hari, dalam satu hari dilakukan pengamatan kualitas air dua kali, yakni pagi hari dan sore hari. Hasil pengukuran pH didapat berkisar antara 7,4 sampai dengan 8,5 sehingga hasil pengukuran pH air di tambak rakyat Pantai koneng masih batas kewajaran atau normal. Menurut Boyd (2001) dalam Andi dan Sahabuddin (2014) mengatakan bahwa organisme air (ikan atau udang) yang memerlukan kisaran pH 6,8 – 8,5. Hasil pengukuran kecerahan dengan alat sechidisk didapat hasil pengukuran antara 25 – 40 cm. Badrudin et al., (2014) mengatakan bahwa tingkat kecerahan optimum air tambak yang dipengaruhi oleh kepadatan plankton sekitar 20 – 40 cm. Sehingga tingkat kecerahan dapat disimpulkan masih dalam kewajaran atau optimal. Suhu di tambak 24 ᴼC – 28 ᴼC, masih dalam kewajaran atau optimal. Menurut Supito (2017) mengatakan bahwa suhu tambak yang berada kisaran 28 ᴼC sampai dengan 32ᴼ C merupakan suhu yang optimal dalam pembudidayaan udang vaname.

Pertama, pergantian air tambak yang dilakukan oleh petambak Pantai Koneng sudah optimal dan efisien dalam mengelola budidaya udang, khususnya dalam pengelolaan pergantian air di tambak.Kedua, pengukuran pH di tambak rakyat Pantai Koneng memenuhi standar untuk pertumbuhan budidaya udang, dengan rata-rata pH berkisar antara 7,4 hingga 8,5 dan fluktuasi harian 0,2–0,5.Ketiga, tingkat kecerahan dan suhu di tambak berada dalam kisaran yang sesuai untuk pembesaran udang, masing-masing 25–40 cm dan 24–28 ᴼC.

Pertama, perlu diteliti bagaimana pengaruh kualitas air secara lebih lengkap—termasuk parameter kimia seperti amonia, nitrit, dan alkalinitas—terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang vaname di tambak konstruksi semen, mengingat saat ini petani hanya mengukur pH, kecerahan, dan suhu. Kedua, penting untuk mengkaji efektivitas sistem pergantian air 10–15% setiap hari dengan membandingkan pertumbuhan udang dan kualitas air antara tambak yang menerapkan pergantian air secara rutin dan yang tidak, guna menentukan frekuensi dan volume optimal yang belum dibahas secara tuntas dalam penelitian ini. Ketiga, perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh fluktuasi suhu harian di bawah ambang optimal (24–28°C) terhadap metabolisme udang dan produktivitas tambak, terutama dalam konteks perubahan iklim dan suhu lingkungan yang tidak stabil, agar dapat dikembangkan sistem pengendalian suhu mikro tambak yang sesuai untuk lokasi pesisir seperti Pantai Konang. Penelitian-penelitian ini akan melengkapi temuan kualitas air dasar dan mendukung peningkatan sistem budidaya yang lebih berkelanjutan dan produktif.

Read online
File size208.02 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test