PDGIPDGI

Journal of Indonesian Dental AssociationJournal of Indonesian Dental Association

Pendahuluan: Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RisKesDas) tahun 2018, diketahui bahwa sejumlah 47% masyarakat Lampung mengalami kerusakan gigi dan hanya 51% diantaranya yang rutin ke dokter gigi. Kebutuhan akan perawatan ortodonti cukup tinggi di kalangan pelajar. Studi epidemiologi di Jepang menemukan 40 % remaja usia 15-18 tahun membutuhkan perawatan ortodonti, 27%-36% di Inggris dengan usia 10-15 tahun sedangkan di Jakarta Selatan (2004) sebanyak 48,5%. Brook dan Shaw memperkenalkan Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN), untuk menilai kebutuhan perawatan ortodonti di Inggris. IOTN telah diaplikasikan oleh Agusni untuk mengukur kebutuhan perawatan anak perkotaan dan pedesaan di Surabaya. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi pelajar SDN di Lampung tentang Maloklusi dan kebutuhan perawatan Ortodonti yang diukur menggunakan Komponen Estetik dari IOTN. Metode: Penelitian deskriptif dengan desain potong lintang ini dilakukan pada bulan Mei 2023. Populasi penelitian yaitu pelajar SDN Bumi Agung yang memenuhi kriteria inklusi subjek penelitian yaitu berusia 9-13 tahun, belum pernah dan tidak sedang menjalani perawatan ortodonti serta bersedia mengikuti penelitian. Subjek penelitian sejumlah 130 orang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Kuesioner digunakan untuk memperoleh data sosiodemografi dan pengetahuan umum tentang Kesehatan Gigi dan Mulut serta Maloklusi. Penilaian akan kebutuhan perawatan Ortodonti diukur menggunakan komponen estetik dari IOTN oleh subjek penelitian dan operator. Hasil: 90% pelajar SDN Bumi Agung, menjawab kuesioner dengan baik, dijumpai sebanyak 42% pelajar membutuhkan perawatan Ortodonti. Uji analisis Pearson Chi Square menemukan terdapat perbedaan persepsi kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan komponen estetik IOTN oleh pelajar dan operator secara statistik (p-value <0.05). Kesimpulan: Pelajar SDN Bumi Agung - Kalianda, Lampung, memiliki pengetahuan umum tentang Kesehatan Gigi dan Mulut serta Maloklusi yang sangat baik. Namun hal ini tidak didukung dengan persepsi akan kebutuhan perawatan Ortodonti yang sesuai.

Siswa-siswi SDN Bumi Agung Kalianda, Lampung menunjukkan pengetahuan yang sangat baik (90%) tentang kesehatan gigi dan mulut.Namun, hanya 42% pelajar yang merasa memerlukan perawatan ortodonti, sedangkan 58% lainnya merasa tidak perlu, dan terdapat perbedaan signifikan antara persepsi pelajar dan residen ortodonti terkait kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan AC IOTN.Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk mengamati variabel lain serta menggunakan Dental Health Component untuk persepsi kebutuhan perawatan yang terkait dengan faktor psiko-sosial remaja di Indonesia.

Penelitian ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pengetahuan umum kesehatan gigi yang baik dan persepsi kebutuhan perawatan ortodonti di kalangan siswa SD, serta perbedaan pandangan antara siswa dan profesional. Mengembangkan temuan ini, penelitian lanjutan dapat fokus pada pemahaman mendalam tentang faktor-faktor yang membentuk persepsi tersebut. Salah satu arah penelitian yang menarik adalah studi longitudinal yang melacak bagaimana persepsi siswa terhadap maloklusi dan kebutuhan perawatan ortodonti berkembang seiring bertambahnya usia, sambil secara sistematis mengintegrasikan penggunaan Dental Health Component (DHC) dari IOTN untuk menilai keparahan klinis dan Aesthetic Component (AC) untuk evaluasi estetika. Studi ini juga bisa menggunakan metode kualitatif, seperti wawancara mendalam atau diskusi kelompok terfokus, guna menggali alasan psikososial dan motivasi tersembunyi di balik keputusan siswa untuk mencari atau menolak perawatan ortodonti. Selain itu, mengingat potensi pengaruh faktor sosial ekonomi dan budaya yang disinggung dalam pembahasan, penelitian komparatif lintas kelompok sosial ekonomi atau budaya di berbagai wilayah di Indonesia akan sangat bermanfaat. Tujuannya adalah untuk memahami bagaimana konteks sosial dan budaya mempengaruhi kesadaran, penerimaan, dan kemauan orang tua serta siswa dalam menjalani perawatan ortodonti. Terakhir, karena ditemukan pengetahuan siswa tentang maloklusi masih kurang baik, perlu dirancang dan dievaluasi program pendidikan kesehatan gigi di sekolah yang lebih spesifik, difokuskan pada pemahaman maloklusi dan dampaknya terhadap kesehatan dan psikososial. Penelitian ini akan mengukur efektivitas intervensi tersebut dalam meningkatkan persepsi diri siswa terhadap kebutuhan perawatan ortodonti. Melalui pendekatan multidimensional ini, kita dapat menciptakan strategi yang lebih efektif untuk meningkatkan kesadaran dan akses terhadap perawatan ortodonti di Indonesia.

  1. Public Elementary School Bumi Agung Lampung Students' Perceptions About Maloclusions and The Need... jurnal.pdgi.or.id/index.php/jida/article/view/1107Public Elementary School Bumi Agung Lampung Students Perceptions About Maloclusions and The Need jurnal pdgi index php jida article view 1107
Read online
File size379.84 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test