STPDIANMANDALASTPDIANMANDALA

Jurnal MagistraJurnal Magistra

Studi ini meneliti perkembangan gereja baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Tujuannya adalah untuk memahami bagaimana struktur gereja telah memengaruhi Kekristenan kontemporer. Dalam Perjanjian Lama, gereja digambarkan sebagai komunitas umat pilihan Tuhan—yang secara etnis terikat dengan Israel dan terikat oleh perjanjian dan hukum-hukumnya. Kepemimpinan bersifat turun-temurun, melibatkan para imam dan nabi yang bertindak sebagai perantara antara Tuhan dan umat. Praktik keagamaan, seperti perayaan, berfungsi sebagai simbol perjanjian kepatuhan dan identitas. Sebaliknya, Perjanjian Baru memperkenalkan pemahaman yang diubah tentang gereja sebagai komunitas umat beriman yang universal dan inklusif kepada Yesus Kristus. Identitas baru ini lebih bersifat spiritual daripada etnis atau hukum. Kepemimpinan tidak lagi bersifat turun-temurun tetapi berdasarkan karunia-karunia rohani, dengan model kolegial dan partisipatif yang menekankan pelayanan relasional dan Kristus sebagai kepala gereja. Sakramen juga didefinisikan ulang: baptisan dan perjamuan kudus menggantikan praktik ritual lama, yang menekankan kasih karunia dan persatuan rohani dengan Kristus. Alih-alih membuang tradisi Perjanjian Lama, Perjanjian Baru menafsirkan ulang dan memenuhinya, menawarkan kesinambungan dan transformasi teologis. Studi ini menyimpulkan bahwa hakikat gereja berevolusi dari lembaga nasional-keagamaan menjadi tubuh yang berpusat pada Kristus, yang bersatu secara spiritual, yang melampaui batas-batas etnis dan ritual.

Secara konseptual, Gereja dalam Perjanjian Lama berfokus pada identitas etnis sebagai umat pilihan Allah, sedangkan dalam Perjanjian Baru, Gereja dipahami secara universal sebagai tubuh Kristus yang mencakup seluruh orang percaya.Sehingga menunjukkan bahwa terdapat perbedaan mendasar namun saling berkesinambungan antara Gereja dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, baik secara konseptual, struktural, maupun sakramental.Struktur dan kepemimpinan yang semula bersifat hierarkis dan bersandar pada sistem keimaman ditransformasi menjadi kepemimpinan berbasis karunia dan pelayanan dalam komunitas yang dipimpin oleh Kristus.Dalam aspek sakramen, praktik simbolik Perjanjian Lama seperti tabut perjanjian dan kurban diaktualisasikan dalam Perjanjian Baru melalui baptisan dan perjamuan kudus yang mengandung makna rohani mendalam.Sehingga Perjanjian Baru tidak menghapus elemen-elemen Perjanjian Lama, melainkan menggenapinya melalui kehadiran dan karya Kristus.

Untuk penelitian lanjutan, dapat diusulkan beberapa ide. Pertama, bagaimana peran dan tanggung jawab pemimpin gereja dalam era modern, terutama dalam konteks pluralisme dan globalisasi. Kedua, bagaimana gereja dapat mempertahankan identitasnya sebagai komunitas iman yang inklusif dan universal, sekaligus menjaga integritas ajaran dan nilai-nilai Kristen. Ketiga, bagaimana gereja dapat memadukan tradisi dan praktik spiritual dari Perjanjian Lama dengan visi dan misi gereja dalam Perjanjian Baru, sehingga menciptakan kesatuan dan kesinambungan dalam iman Kristen. Dengan menggabungkan ketiga saran ini, penelitian dapat fokus pada pengembangan kepemimpinan gereja yang responsif terhadap tantangan zaman, serta pemahaman yang lebih dalam tentang identitas dan peran gereja dalam masyarakat kontemporer.

  1. Analisis Gereja dalam Perjanjian Lama dan Gereja dalam Perjanjian Baru : Kajian Eklesiologi | Jurnal... doi.org/10.62200/magistra.v3i1.200Analisis Gereja dalam Perjanjian Lama dan Gereja dalam Perjanjian Baru Kajian Eklesiologi Jurnal doi 10 62200 magistra v3i1 200
  2. Distingsi Teologis antara Hukum Musa dan Sepuluh Hukum Tuhan: Sebuah Kajian Reinterpretatif | Jurnal... doi.org/10.46445/jtki.v5i2.889Distingsi Teologis antara Hukum Musa dan Sepuluh Hukum Tuhan Sebuah Kajian Reinterpretatif Jurnal doi 10 46445 jtki v5i2 889
Read online
File size815.26 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test