ISI DPSISI DPS

Lekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific ArtsLekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific Arts

Karya seni rupa Indonesia secara historis menunjukkan bahwa seni pernah digunakan sebagai medium provokatif untuk kepentingan politik. Kondisi ini terjadi ketika seni hanya diposisikan dalam ranah estetika faktual tanpa diimbangi dengan kecerdasan konseptual. Pada awal abad ke-21, terjadi kebangkitan wacana seni. Institusi pendidikan seni mulai mengkaji seni secara seimbang. Penelitian kualitatif berorientasi kebijakan ini menghasilkan peta historiografis posisi seni Indonesia, yang diklarifikasi oleh kebangkitan kecerdasan nasional yang ditandai oleh keterbukaan visioner dalam lingkungan pendidikan tinggi. Fenomena tersebut menuntut adaptasi dan percepatan dari level teknis ke level strategis. Akselerasi teknologi pendidikan menghilangkan berbagai model pemantauan dan evaluasi positivistik. Penggunaan Analisis SWOT dalam bidang seni perlu ditinjau kembali. Model analisis SDCS (Superioritas, Diferensiasi, Keterhubungan, dan Keberlanjutan) menawarkan analisis yang lebih visioner dalam membangun kesadaran bahwa seluruh perguruan tinggi di Indonesia seharusnya menjadi satu mekanisme pendidikan raksasa di bawah satu visi peningkatan intelektual nasional.

Kemajuan peradaban suatu bangsa ditandai oleh seninya.Colonialisme dan neo-colonialisme selalu membangun wacana bahwa bangsa ini tidak memiliki kekayaan kreatif, hanya penerima, bukan pencipta.Pemisahan antara karya seni dan kajian seni bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari manipulasi historis untuk kepentingan politik.Kebangkitan kajian dan penelitian dalam seni rupa Indonesia menjadi arus baru yang menyeimbangkan karya dan ilmu seni, sehingga seni dapat menjadi bagian dari proyek utama mendidik bangsa dalam atmosfer akademik yang terbuka.

Pertama, perlu diteliti bagaimana penerapan model SDCS dalam kurikulum seni di perguruan tinggi daerah dapat meningkatkan keterlibatan masyarakat lokal dalam pelestarian seni nusantara, mengingat banyak seni tradisional yang terancam hilang akibat globalisasi. Kedua, perlu dikaji efektivitas kolaborasi antar perguruan tinggi seni dalam sistem satu raksasa pendidikan untuk menciptakan jaringan riset seni yang saling mendukung, terutama dalam menghadapi tantangan otonomi kampus dan disparitas sumber daya. Ketiga, penting untuk mengeksplorasi bagaimana integrasi teknologi digital dalam pendidikan seni dapat memperkuat pemahaman konseptual mahasiswa, bukan hanya keterampilan teknis, guna mencegah potensi manipulasi seni di masa depan. Penelitian ini dapat mengungkap peran pendidikan seni sebagai benteng pertahanan budaya nasional di era Society 5.0. Dengan mengevaluasi model SDCS secara empiris, pendidikan seni bisa menjadi contoh bagi bidang ilmu lain dalam membangun sistem yang inklusif, saling terhubung, dan berkelanjutan. Studi semacam ini juga dapat membantu menentukan indikator kinerja baru yang tidak bergantung pada peringkat global, tetapi pada kontribusi nyata terhadap penyelesaian masalah bangsa. Model evaluasi berbasis Superioritas, Diferensiasi, Keterhubungan, dan Keberlanjutan perlu diuji dalam konteks multidisipliner untuk melihat sejauh mana ia dapat menggantikan SWOT secara efektif. Akhirnya, penting untuk memahami bagaimana kesadaran kedaulatan seni Indonesia dapat dibangun melalui kurikulum yang menekankan sejarah dan filsafat seni lokal. Hal ini dapat mencegah dominasi wacana seni Barat yang berpotensi melemahkan identitas nasional. Penelitian lanjutan harus mampu merancang kerangka kurikulum yang menyeimbangkan inovasi global dengan akar lokal.

Read online
File size723.35 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test