ISI SURAKARTAISI SURAKARTA

OrnamenOrnamen

Motif batik di Indonesia akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan dan kemajuan industri di Indonesia. Hal ini merupakan hal yang baik karena akan mendorong masyarakat luas untuk lebih mencintai batik dan mendukung setiap kegiatan untuk melestarikan batik. Batik kontemporer merupakan salah satu perkembangan batik yang menyesuaikan kebutuhan masyarakat modern, dengan bentuk dan gaya corak kain masa kini serta kemungkinan gagasan yang tidak terbatas. Metode perancangan yang digunakan adalah metode milik SP Gustami, yang terdiri dari tiga tahap: eksplorasi, perancangan, dan perwujudan karya. Tujuan dari perancangan ini adalah menghasilkan produk batik kontemporer menggunakan bahan dasar kain primisima dengan mengolah visual garis ekspresif yang dipadukan dengan motif klasik untuk dijadikan tekstil pakaian. Selain itu, produk tersebut menampilkan kesan kekinian melalui penggunaan warna-warna kontemporer. Hasil perancangan berupa delapan desain batik kontemporer yang kemudian menghasilkan dua produk berupa lembaran kain batik, menggunakan bahan katun primisima dengan teknik pewarnaan memakai zat pewarna remasol.

Pengembangan tekstil melalui perancangan motif batik kontemporer memiliki potensi yang besar sebagai inovasi produk.Motif yang digunakan terinspirasi dari garis-garis abstrak ekspresif yang dipadukan dengan motif bidang serta motif klasik seperti kawung dan poleng, dengan komposisi yang seimbang.Perancangan ini bertujuan untuk melestarikan batik sekaligus menarik minat berbagai generasi melalui perpaduan unsur klasik dan modern, sehingga produk akhir dapat dikenakan oleh berbagai gender dan usia.

Pertama, perlu dilakukan penelitian mengenai pengaruh kombinasi motif klasik dan garis ekspresif kontemporer terhadap preferensi estetika generasi muda dan tua, untuk memahami bagaimana perpaduan tersebut memengaruhi daya tarik batik di berbagai kelompok usia. Kedua, diperlukan kajian lebih lanjut tentang penerapan teknik tutup celup dengan pewarna remasol pada kain primisima dalam skala industri kecil, untuk mengevaluasi efisiensi waktu, biaya, dan konsistensi kualitas produk secara berkelanjutan. Ketiga, perlu dikembangkan studi tentang variasi sumber ide dari lingkungan sekitar, seperti budaya lokal atau bentuk alam, yang dapat diolah menjadi motif batik kontemporer dengan karakter unik, agar inovasi desain tidak hanya estetis tetapi juga bermakna secara kultural dan relevan dengan identitas daerah penghasil batik.

  1. Reproduksi Budaya Batik Milenial: Upaya Pelestarian dan Inovasi Batik Tradisional di Identix Batik Semarang... ejurnal.unima.ac.id/index.php/paradigma/article/view/8046Reproduksi Budaya Batik Milenial Upaya Pelestarian dan Inovasi Batik Tradisional di Identix Batik Semarang ejurnal unima ac index php paradigma article view 8046
Read online
File size896.5 KB
Pages17
DMCAReport

Related /

ads-block-test