UMBUMB

Jurnal PASTI (Penelitian dan Aplikasi Sistem dan Teknik Industri)Jurnal PASTI (Penelitian dan Aplikasi Sistem dan Teknik Industri)

ATMK merupakan salah satu industri kecil menengah (IKM) yang juga menjalankan optimasi metode kerja. Penanganan material oleh IKM sebagian besar dilakukan secara manual sehingga dikhawatirkan akan mempengaruhi kesehatan dan keselamatan kerja karyawan. Hal tersebut dapat diatasi dengan melakukan analisis postur kerja karyawan (operator) dengan menggunakan metode quality exposure check (QEC). Penelitian diawali dengan mengamati postur kerja operator setiap stasiun kerja, pengumpulan data dengan pengisian lembar kuesioner oleh observer dan operator. Langkah berikutnya merekapitulasi data kuesioner dalam lembar skor QEC; menentukan exposure score dengan metode QEC; penghitungan exposure level. Langkah tersebut dilakukan untuk setiap operator stasiun kerja. Maka diperoleh exposure level tertinggi pada operator stasiun kerja amplas mesin dengan presentase 62%, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut dan dilakukan rancangan perbaikan postur kerja yang disarankan untuk perubahan. Usulan memperhatikan faktor risiko penting, seperti punggung tidak membungkuk, posisi tangan, kemudian frekuensi saat memutar tangan serta kekuatan tangan dan untuk bagian leher agar lebih rileks.

Exposure level tertinggi terdapat pada stasiun kerja amplas mesin dengan nilai 62%, sehingga perlu dilakukan perbaikan postur kerja pada operator di stasiun tersebut.Semua stasiun kerja di ATMK memiliki exposure level di atas ambang risiko, sehingga seluruhnya memerlukan perbaikan.Faktor risiko utama meliputi postur membungkuk, posisi tangan tidak ergonomis, frekuensi gerakan berulang, dan ketegangan pada leher.

Pertama, perlu dilakukan penelitian terhadap desain ulang meja dan kursi kerja di stasiun amplas mesin untuk menyesuaikan dengan antropometri pekerja, agar postur punggung dan leher lebih netral selama bekerja. Kedua, perlu dikaji penggunaan alat bantu ergonomis seperti penyangga tangan atau mesin amplas dengan getaran rendah untuk mengurangi beban pada pergelangan tangan dan frekuensi gerakan berulang. Ketiga, sebaiknya diteliti penerapan rotasi kerja antar stasiun dengan mempertimbangkan pola beban kerja fisik, untuk mengetahui pengaruhnya terhadap penurunan risiko gangguan muskuloskeletal secara menyeluruh. Penelitian-penelitian ini dapat membuka arah baru dalam optimalisasi sistem kerja yang tidak hanya fokus pada satu stasiun, tetapi juga mempertimbangkan interaksi antar stasiun dan faktor manusia secara holistik. Dengan pendekatan tersebut, diharapkan dapat diperoleh solusi yang berkelanjutan dan mudah diterapkan di industri kecil menengah serupa. Studi lanjutan juga perlu mengevaluasi efektivitas pelatihan ergonomi yang dikombinasikan dengan modifikasi fasilitas kerja terhadap kesadaran dan perilaku pekerja. Hal ini penting karena perubahan fisik tanpa dukungan perilaku mungkin tidak memberikan hasil optimal. Selain itu, perlu dieksplorasi penerapan metode QEC secara berkala untuk memantau perubahan risiko seiring waktu. Kombinasi antara evaluasi rutin, intervensi teknis, dan pendekatan perilaku dapat menjadi model pencegahan yang komprehensif. Penelitian semacam ini sangat relevan mengingat keterbatasan sumber daya di IKM, sehingga solusi yang efisien dan terukur sangat dibutuhkan.

Read online
File size2.83 MB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test