UIN Ar-RaniryUIN Ar-Raniry

Jurnal AdabiyaJurnal Adabiya

Penelusuran sejarah Aceh melalui jejak peradaban yang dibangun mulai dari masa Kerajaan Aceh Darussalam telah terekam dalam catatan sejarah dan juga dokumentasi berbentuk foto dan gambar peta. Penelusuran eksisting bangunan dan benda lain dari hasil karya budaya manusia masa lalu perlu dilakukan untuk menjelaskan keberadaan peradaban yang diciptakan dari kedua periodesasi sejarah Aceh. Adapun metode yang digunakan adalah analisis deskriptif. Puncak kejayaan Sultan Iskandar Muda 1607-1636 berhasil membangun Aceh sebagai bandar dagang internasional menyebabkan pendapatan berlimpah, kehidupan rakyat sejahtera dan terciptalah peradaban yang gemilang. Hal itu menyebabkan Belanda datang dengan mengobarkan peperangan. Akibat peperangan menyebabkan peradaban Aceh menjadi banyak yang musnah. Bergantinya pemerintahan memunculkan peradaban baru dan dengan gaya baru (gaya Eropa). Pada tahun 1994, sebuah peta Belanda mendeskripsikan pembangunan dan dikategorikan menjadi 3 (tiga) bagian yaitu bangunan publik, perkantoran sekaligus rumah gubernur dan penguatan militer. Namun pembangunan tidak berjalan seperti di daerah lain seperti di pulau Jawa karena pemerintahan Belanda tidak tenang akibat seringnya mendapat gangguan dari rakyat Aceh. Dengan demikian, harapannya bahwa jejak sejarah berupa hasil karya masa lalu perlu dilestarikan sebagai bukti kejayaan Aceh.

Penelitian menemukan bahwa sejarah Aceh menyimpan jejak peradaban dalam bentuk teks dan dokumen visual dari masa Kerajaan Aceh Darussalam hingga masa kolonial Belanda.Puncak kejayaan Aceh terjadi pada abad ke-17 di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, namun peradaban tersebut banyak musnah akibat agresi Belanda sejak 1873.Perubahan pemerintahan membawa transformasi infrastruktur, dengan Belanda membangun fasilitas administratif dan militer, meskipun terbatas karena perlawanan rakyat Aceh.

Pertama, perlu penelitian arkeologis melalui ekskavasi di Banda Aceh untuk mengungkap struktur bangunan dan tata ruang ibu kota Kerajaan Aceh Darussalam secara lebih akurat, mengingat sumber tertulis saja tidak cukup menjelaskan bentuk fisik peradaban masa lalu. Kedua, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menganalisis jejak infrastruktur kolonial Belanda seperti rel kereta api dan jalan, terutama di wilayah pegunungan seperti Takengon dan Gayo, guna memahami dampak pembangunan kolonial terhadap mobilitas dan ekonomi masyarakat lokal. Ketiga, perlu dikaji secara komprehensif transformasi budaya material dari masa Aceh Darussalam ke masa kolonial melalui studi komparatif makam, masjid, dan benteng, untuk melihat bagaimana pergantian kekuasaan membentuk identitas urban dan sosial masyarakat Aceh. Penelitian-penelitian ini akan melengkapi narasi sejarah Aceh yang selama ini lebih mengandalkan sumber teks asing, dengan data arkeologis dan analisis lokal yang lebih mendalam.

Read online
File size305.68 KB
Pages20
DMCAReport

Related /

ads-block-test