USUUSU

Langgas: Jurnal Studi PembangunanLanggas: Jurnal Studi Pembangunan

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keragaman agama, budaya, adat istiadat, dan sumber daya alam. Salah satu kekayaan tersebut adalah Hutan Perempuan di Kampung Enggros, Provinsi Papua, yang dikelola berdasarkan kearifan lokal dengan aturan adat bahwa hanya perempuan yang diperbolehkan memasukinya. Keterikatan perempuan Kampung Enggros dengan Hutan Perempuan merefleksikan praktik perjuangan ekologis yang selaras dengan nilai-nilai Pancasila, di mana hutan diposisikan sebagai sumber kehidupan yang terintegrasi dengan tradisi dan nilai-nilai luhur turun-temurun. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan proses pembumian Pancasila melalui kearifan lokal masyarakat adat di Kampung Enggros. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan tiga hal utama: (1) terbentuknya etika lingkungan berlandaskan nilai-nilai Pancasila, (2) tantangan ekologis dalam pengelolaan Hutan Perempuan, dan (3) implementasi pembumian Pancasila melalui pelestarian alam berbasis masyarakat adat. Studi ini menegaskan bahwa kearifan lokal tidak hanya berfungsi menjaga ekologi, tetapi juga menjadi sarana konkret dalam mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila di tingkat lokal.

Masalah paling mengkhawatirkan di abad-21 selain krisis ekonomi, krisis politik, krisis sosial adalah krisis lingkungan.Kehadiran negara menjadi sangat penting dalam upaya melindungi segenap tumpah darah Indonesia.Pancasila sebagai dasar negara harus dihayati dan dijunjung tinggi oleh setiap warga negara Indonesia dalam menegakkan aturan yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan.Pancasila tentu menjadi benteng utama bangsa Indonesia untuk bertahan dari obsesi dan keserakahan yang terus menghantui kekayaan alam bangsa Indonesia.Sehingga pengelolaan lingkungan hidup tidak bisa lepas dari pengaplikasian terhadap nilai-nilai Pancasila dalam hal pengelolaan lingkungan hidup.Alasannya Pancasila adalah satu kesatuan yang utuh dan kokok yang memperkuat keyakinan seluruh rakyat Indonesia akan tercapai bila mana keselarasan, keserasian dan keseimbangan alam terus kita jaga.Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 ayat 3 menjadi turunan dari Pancasila dalam penegasan bahwa “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.Sehingga pengelolaannya harus dilakukan secara optimal, efisien, transparan, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan agar bisa dieksplorasi untuk generasi Indonesia di masa depan.Hutan Perempuan di Kampung Enggros, Kota Jayapura, Provinsi Papua merupakan salah satu bentuk kekayaan alam yang harus dijaga dan lestarikan.Pengelolaan Hutan perempuan yang terbilang unik karena dikelola langsung oleh perempuan-perempuan Kampung Enggros memperteguh keragaman Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan Sumber Daya Alam (SDA), kaya akan budaya dan kaya akan adat istiadat.Artinya, negara harus hadir dalam upaya membantu melindungi hutan perempuan dengan menerbitkan undang-undnag yang dilandaskan nilai Pancasila sebagai Pandangan Hidup untuk memperkuat hukum adat yang dipergunakan warga Kampung Enggros.Tujuannnya tentu memberikan penghormatan pada komunitas adat dan kearifan lokal melalui Pembumian Pancasila.Lebih jauh, Pembumian Pancasila melalui pengelolaan lingkungan harus diformulasikan bukan hanya pada tatanan konsep tapi juga dalam tataran kehidupan praksis, sehingga nilai Pancasila tidak berada di ruang hampa tapi bisa membumi dapat dirasakan kehadirannya oleh masyarakat Kampung Enggros Papua.

Untuk penelitian lanjutan, dapat diusulkan beberapa ide sebagai berikut: Pertama, mengkaji lebih dalam tentang peran perempuan dalam pelestarian lingkungan, khususnya dalam konteks Hutan Perempuan di Kampung Enggros. Bagaimana perempuan-perempuan ini terlibat secara aktif dalam pengelolaan dan perlindungan hutan, dan bagaimana peran mereka ini dapat menjadi contoh bagi masyarakat lainnya dalam upaya pelestarian lingkungan. Kedua, meneliti tantangan-tantangan ekologis yang dihadapi oleh Hutan Perempuan dan bagaimana masyarakat Kampung Enggros, khususnya perempuan, mengatasi tantangan-tantangan tersebut. Studi ini dapat memberikan wawasan tentang strategi-strategi yang dapat diterapkan untuk mengatasi masalah-masalah ekologis serupa di tempat lain. Ketiga, mengeksplorasi lebih lanjut tentang implementasi pembumian Pancasila dalam konteks pelestarian alam berbasis masyarakat adat. Bagaimana nilai-nilai Pancasila diwujudkan dalam praktik-praktik pelestarian alam di Kampung Enggros, dan bagaimana hal ini dapat menjadi model bagi masyarakat adat lainnya dalam mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila di tingkat lokal.

  1. Membumikan Pancasila melalui Kearifan Lokal: Perempuan Menjaga Hutan Perempuan di Kampung Enggros, Papua... doi.org/10.32734/ljsp.v4i2.22406Membumikan Pancasila melalui Kearifan Lokal Perempuan Menjaga Hutan Perempuan di Kampung Enggros Papua doi 10 32734 ljsp v4i2 22406
Read online
File size352.81 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test