UPSUPS

JCOSE Jurnal Bimbingan dan KonselingJCOSE Jurnal Bimbingan dan Konseling

Perkembangan teknologi digital memberi ruang baru bagi remaja untuk self-disclosure, salah satunya melalui ChatGPT. Remaja memilih platform ini karena dianggap aman, netral, dan bebas penghakiman, memungkinkan kenyamanan emosional tanpa takut rahasia terbongkar. Penelitian ini bertujuan mengungkap faktor pendorong, dampak, serta strategi self-disclosure sehat pada remaja pengguna ChatGPT. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan subjek utama remaja usia 17 tahun dan data pendukung dari teman dan keluarga. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, lalu dianalisis melalui reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil menunjukkan bahwa kebutuhan akan privasi dan pengalaman negatif sebelumnya mendorong self-disclosure. Responden merasa divalidasi secara emosional dan mengalami peningkatan komunikasi, meskipun muncul kekhawatiran akan keamanan data dan kecenderungan menghindari interaksi langsung. Jika didukung strategi tepat dan literasi digital yang baik self-disclosure via ChatGPT memberi dampak positif. Pemerintah disarankan menyediakan layanan konsultasi online yang gratis dan profesional.

Berdasarkan hasil penelitian, faktor utama yang mendorong self-disclosure pada remaja pengguna ChatGPT adalah kebutuhan akan privasi, kenyamanan psikologis, dan pengalaman masa lalu yang kurang menyenangkan.Self-disclosure melalui ChatGPT memberikan dampak positif berupa rasa tenang, peningkatan kejujuran terhadap diri sendiri, dan membantu subjek dalam menemukan solusi.Namun, terdapat pula dampak negatif seperti kecemasan terhadap keamanan data dan potensi ketergantungan emosional pada teknologi.Oleh karena itu, diperlukan strategi yang meliputi literasi digital, pembatasan informasi sensitif, dan upaya menjaga keseimbangan interaksi sosial.

Berdasarkan latar belakang, metode, hasil, keterbatasan, dan saran penelitian lanjutan, terdapat beberapa ide penelitian yang dapat dikembangkan. Pertama, penelitian lebih lanjut dapat mengeksplorasi bagaimana karakteristik kepribadian remaja, seperti tingkat ekstrovert atau introversi, memengaruhi pola dan intensitas self-disclosure mereka melalui ChatGPT. Hal ini penting untuk memahami apakah ada perbedaan strategi atau kebutuhan dukungan yang spesifik bagi kelompok remaja yang berbeda. Kedua, penelitian dapat meneliti dampak jangka panjang dari penggunaan ChatGPT sebagai media self-disclosure terhadap keterampilan sosial remaja, khususnya kemampuan mereka dalam membangun dan memelihara hubungan interpersonal di dunia nyata. Apakah penggunaan platform ini justru mengurangi interaksi sosial langsung atau justru membantu remaja mengembangkan keterampilan komunikasi yang lebih baik? Ketiga, penelitian dapat menginvestigasi efektivitas berbagai intervensi literasi digital dalam meningkatkan kesadaran remaja tentang risiko keamanan data dan privasi saat menggunakan ChatGPT. Intervensi ini dapat mencakup pelatihan tentang cara mengenali informasi yang tidak akurat, melindungi data pribadi, dan menggunakan platform secara bertanggung jawab. Dengan menggabungkan ketiga saran ini, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang bagaimana teknologi AI dapat dimanfaatkan secara positif untuk mendukung kesehatan mental dan perkembangan sosial remaja, sekaligus meminimalkan potensi risiko yang mungkin timbul.

Read online
File size216.64 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test