STTSAPPISTTSAPPI

http://ojs.sttsappi.ac.id/index.php/tedeum/indexhttp://ojs.sttsappi.ac.id/index.php/tedeum/index

Di Gereja Santapan Rohani Indonesia, Majelis Jemaat dan Pejabat Gereja (Pendeta dan Guru Injil) cenderung mengikuti pendapat tokoh-tokoh tertentu dalam Jemaat Mandiri. Hal ini menyebabkan tidak adanya keseragaman dalam penggunaan istilah Penatua. Penelitian ini bertujuan mengkaji fungsi kepenatuaan berdasarkan 1 Timotius 3:1-7 sebagai sebuah pekerjaan yang indah dalam konteks gereja tersebut. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif investigatif untuk memahami perspektif jemaat dan sinode tentang penatua sebagai panggilan yang mulia. Analisis data dilakukan dengan langkah-langkah verifikasi untuk memastikan akurasi, generalisasi, dan kemungkinan replikasi studi oleh peneliti lain. Hasil wawancara memberikan data yang kemudian didekomposisi dan dijabarkan secara deskriptif menjadi konstruksi yang representatif. Penatua dipahami sebagai pribadi yang dengan sukarela menginginkan tugas yang indah dan terhormat, melayani jemaat sesuai dengan kehendak Allah. Dengan demikian, kepenatuaan merupakan panggilan mulia dalam kehidupan bergereja.

Berdasarkan data yang telah dianalisa, dapat disimpulkan bahwa Paulus menggunakan istilah Penatua untuk merujuk kepada jemaat yang mendidik gereja, sementara juga menyebutkan peran gereja dalam membina kesatuan di antara para pemimpinnya.Paulus memperkenalkan bahwa orang menginginkan pekerjaan Penatua/penilik menginginkan pekerjaan yang bagus/indah.Bagi Penatua adalah hal yang perlu dimiliki agar dapat berperan, berfungsi, dan bertanggung jawab di tengah-tengah jemaat yang dilayani, yaitu karakteristik sesuai dengan Firman Tuhan.

Penelitian ini membuka cakrawala pengertian dan pemahaman secara biblika fungsi Penatua sebagai pekerjaan yang indah dalam sistem pemerintahan Presbiterial Sinodal di Gereja Santapan Rohani Indonesia. Ditemukan efektifitas pelayanan yang dinamis dalam satu tim kemajelisan yang diberikan tugas pelayanan sesuai karunia dan kapasitasnya masing-masing. Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi lebih lanjut penerapan konsep kepenatuaan dalam realitas gereja lokal di Indonesia, terutama dalam sistem gereja Presbiterial Sinodal yang dianut oleh Gereja Santapan Rohani Indonesia. Selain itu, penelitian juga dapat fokus pada pengembangan model kepemimpinan yang efektif dan relevan dengan konteks gereja lokal, serta mengkaji peran dan tanggung jawab Penatua dalam memelihara iman sejati dan melawan ajaran sesat.

  1. Peran Majelis Gereja dalam Pertumbuhan Rohani Jemaat: Analisis 1 Timotius 3:8-13 | Halawa | Immanuel:... doi.org/10.46305/im.v5i2.322Peran Majelis Gereja dalam Pertumbuhan Rohani Jemaat Analisis 1 Timotius 3 8 13 Halawa Immanuel doi 10 46305 im v5i2 322
Read online
File size425.8 KB
Pages21
DMCAReport

Related /

ads-block-test