RIAURIAU

IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan InovasiIPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi

Durian, yang dikenal sebagai Raja Buah di Asia Tenggara, memiliki nilai ekonomi yang penting di Indonesia, khususnya di Provinsi Riau. Buah ini tidak hanya menjadi hidangan lokal yang disukai tetapi juga memiliki potensi untuk diekspor dan dikembangkan sebagai objek wisata pertanian. Namun, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Riau menunjukkan adanya fluktuasi luas lahan perkebunan dan tingkat produksi dari tahun 2019 hingga 2022, dengan penurunan luas lahan perkebunan tetapi tingkat produksi yang bervariasi, mencapai puncaknya pada tahun 2022. Fluktuasi ini mempengaruhi pembentukan limbah kulit durian, yang menimbulkan kekhawatiran lingkungan. Studi awal menyarankan bahwa praktik pengelolaan limbah saat ini masih kurang optimal meskipun ada potensi untuk mengubah kulit durian menjadi produk yang berguna seperti pupuk organik atau bahan bakar nabati. Studi ini bertujuan untuk menganalisis luas lahan perkebunan, tingkat produksi, dan pembentukan limbah kulit durian di Riau sambil mengevaluasi sikap dan perilaku konsumen terkait pengelolaan limbah. Studi ini menggunakan metode kuantitatif, seperti pengumpulan data dan survei lapangan, serta metode primer dengan kuesioner melalui google form dengan responden yang berdomisili di Provinsi Riau, dilakukan pada bulan Agustus 2023. Analisis meliputi statistik deskriptif dan uji ANOVA untuk menilai perbedaan pembentukan limbah di berbagai lokasi penjualan. Temuan menunjukkan fluktuasi signifikan dalam luas lahan perkebunan dan produksi, dengan Kabupaten Kampar memimpin dalam kedua kategori tersebut. Tingkat pembentukan limbah yang tinggi menekankan perlunya strategi pengelolaan yang lebih baik. Meskipun survei konsumen menunjukkan kesadaran akan masalah limbah, implementasi praktis masih tertinggal. Penelitian ini memberikan wawasan tentang optimalisasi produksi durian dan pengelolaan limbah, dengan tujuan untuk seimbang antara manfaat ekonomi dan keberlanjutan lingkungan di Provinsi Riau.

Penelitian ini menunjukkan fluktuasi signifikan dalam luas lahan perkebunan dan produksi durian di Provinsi Riau selama periode 2019–2022, dengan Kabupaten Kampar sebagai daerah terbesar dalam produksi dan luas lahan, sedangkan Kabupaten Indragiri Hilir terendah.Laju timbulan limbah kulit durian tergolong tinggi, dan uji ANOVA menegaskan adanya perbedaan signifikan dalam jumlah limbah di berbagai lokasi penjualan.Meskipun konsumen menunjukkan kesadaran yang baik terhadap pengelolaan limbah, implementasi di lapangan masih kurang, sehingga diperlukan strategi pengelolaan yang lebih efektif untuk menjaga produktivitas dan keberlanjutan lingkungan.

Pertama, perlu dilakukan penelitian mengenai efektivitas berbagai teknologi pengolahan limbah kulit durian menjadi pupuk organik di tingkat petani skala kecil, untuk mengetahui metode yang paling sesuai dengan kondisi lokal di Riau. Kedua, perlu dikaji perilaku konsumen dan pedagang dalam memilah limbah durian, termasuk faktor sosial dan ekonomi yang memengaruhi partisipasi mereka, agar dapat dirancang kebijakan insentif yang lebih tepat sasaran. Ketiga, perlu dieksplorasi potensi ekonomi dari skema ekonomi sirkular berbasis limbah kulit durian, seperti model bisnis daur ulang limbah menjadi produk bernilai tambah yang dapat dipasarkan secara lokal maupun nasional, untuk mendorong keterlibatan pelaku usaha mikro dan koperasi di daerah penghasil durian.

Read online
File size509.35 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test