UNSUNS

Journal of Biodiversity and BiotechnologyJournal of Biodiversity and Biotechnology

Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), yang disebabkan oleh virus Foot and Mouth Disease (FMDV), merupakan penyakit hewan yang menyebar cepat dan menyebabkan kerugian ekonomi besar. Pemerintah Indonesia telah menetapkan program vaksinasi sebagai upaya pengendalian PMK secara nasional pada tahun 2022. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keberhasilan dan seroprevalensi pasca vaksinasi PMK di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, serta menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan vaksinasi. Metode penelitian bersifat analitik observasional dengan pendekatan studi potong lintang. Sampel yang digunakan adalah serum sapi dan kambing yang telah divaksinasi, kemudian diuji secara serologis menggunakan SP ELISA serotipe O dan NSP ELISA. Hasil dianalisis dengan uji chi-square (X2), odds ratio (OR), risk ratio (RR), dan analisis spasial (rata-rata tetangga terdekat). Seroprevalensi kekebalan terhadap PMK di Kabupaten Tanah Laut mencapai 95,94%. Faktor-faktor yang memengaruhi pembentukan antibodi setelah vaksinasi PMK meliputi jenis hewan (OR = 3,781), umur (OR = 6,106), jenis kelamin (OR = 2,801), sistem pemeliharaan (OR = 3,848), jenis pakan (OR = 3,448), jenis vaksin (OR = 5,508), dan jumlah vaksinasi (OR = 0,109). Analisis spasial menunjukkan pola terkelompok (Nearest Neighbor Ratio = 0,005457). Seroprevalensi kekebalan pada kambing lebih tinggi dibandingkan sapi. Faktor-faktor yang memengaruhi pembentukan antibodi vaksinasi PMK adalah jenis hewan, umur, jenis kelamin, pakan, sistem pemeliharaan, jenis vaksin, dan jumlah vaksinasi.

Seroprevalensi kekebalan terhadap PMK di Kabupaten Tanah Laut mencapai 95,94%, dengan nilai lebih tinggi pada kambing dibandingkan sapi.Faktor host yang memengaruhi pembentukan antibodi meliputi jenis hewan, umur, jenis kelamin, sistem pemeliharaan, dan jenis pakan, sedangkan faktor vaksinasi meliputi jenis vaksin dan jumlah vaksinasi.Analisis spasial menunjukkan pola terkelompok dengan jarak penyebaran vaksinasi diperkirakan mencapai 13,10–39,94 km.

Pertama, perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengevaluasi efektivitas jangka panjang dua jenis vaksin (Vaksin A dan B) terhadap respons imun pada sapi dan kambing melalui studi kohort longitudinal selama lebih dari satu tahun, agar dapat diketahui durasi kekebalan yang dihasilkan. Kedua, penting untuk meneliti bagaimana kombinasi pakan fermentasi dan suplemen mikronutrien memengaruhi titer antibodi pasca vaksinasi, terutama pada hewan muda dan sistem pemeliharaan ekstensif, guna mengidentifikasi formula pakan optimal pendukung imunitas. Ketiga, diperlukan studi spasial dinamis yang memetakan pola penyebaran vaksinasi dan risiko penularan PMK secara real-time menggunakan data GIS dan model prediktif, untuk menguji efektivitas zona vaksinasi berbasis jarak 10 km dalam konteks geografis Kabupaten Tanah Laut.

  1. Seroprevalence, and Risk Factors of Post-Vaccination Antibodies for Foot and Mouth Disease in Tanah Laut... doi.org/10.20961/jbb.v3i2.74595Seroprevalence and Risk Factors of Post Vaccination Antibodies for Foot and Mouth Disease in Tanah Laut doi 10 20961 jbb v3i2 74595
Read online
File size371.63 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test