UMDUMD

Jurnal Ilmiah CakrawartiJurnal Ilmiah Cakrawarti

Miskin atau pra sejahtera (selanjutnya disebut miskin sebagai lawan dari kaya atau sejahtera) jelas bukan cita-cita apalagi tujuan hidup. Gempuran iklan dan sinema elektronik yang menampilkan ketimpangan tajam antara kaya dan miskin membuat kemakmuran tampak lebih menarik. Fantasi kehidupan seperti pria kaya yang jatuh cinta pada wanita miskin, meski alur ceritanya mudah ditebak, justru menonjolkan hasrat menjadi kaya dalam tayangan televisi. Karakter kaya dikaitkan dengan kepemilikan, sedangkan miskin dikonotasikan dengan ketiadaan. Di televisi Indonesia, dua identitas sosio-ekonomi ini kerap dibenturkan dan menjadi pemicu konflik mikro. Memiliki fasilitas lengkap diasosiasikan dengan kemudahan, ketenaran, dan elit, sementara si miskin sering kali bukan tokoh utama. Film Keluarga Cemara menjadi pengecualian yang mengganggu narasi dominan konfrontasi kaya-miskin, dengan menampilkan kehidupan sederhana Abah dan keluarganya yang penuh kekurangan. Muncul pertanyaan: sejauh mana kemiskinan dijual sebagai tontonan di televisi? Atau secara lebih teknis, bagaimana kemiskinan dapat dijual di televisi?.

Acara bedah rumah mereproduksi kekerasan halus terhadap masyarakat pra sejahtera melalui konstruksi narasi kemiskinan yang dikonsumsi sebagai tontonan.Tayangan ini menggeser orientasi hidup dari menjadi—yang menekankan pada nilai kemanusiaan, ketahanan, dan kesederhanaan—kepada memiliki, yang berorientasi pada konsumsi dan simbol status.Dengan demikian, televisi tidak hanya menayangkan kemiskinan, tetapi juga memperkuat budaya konsumerisme sebagai tolok ukur kesejahteraan.

Pertama, perlu diteliti bagaimana penonton dari berbagai lapisan sosial memaknai tayangan bedah rumah, khususnya apakah mereka memandangnya sebagai bentuk empati atau eksploitasi, agar dapat dipahami efek sosial dari narasi kemiskinan yang dikomersialisasi. Kedua, penting untuk mengkaji dampak jangka panjang terhadap penerima bantuan dalam acara tersebut, seperti perubahan pola pikir, tekanan sosial, atau trauma akibat kontras ekstrem antara kehidupan sebelum dan sesudah tayangan, untuk menilai etika representasi kemiskinan di ruang publik. Ketiga, perlu dikembangkan penelitian tentang alternatif format tayangan yang menampilkan kemiskinan tanpa eksploitasi, misalnya dengan fokus pada narasi ketahanan, solidaritas komunitas, atau solusi berkelanjutan, sehingga media dapat menjadi sarana pemberdayaan, bukan sekadar hiburan berbasis kesenjangan sosial. Penelitian-penelitian ini dapat membuka ruang kritis terhadap budaya konsumerisme dan merekonstruksi makna kesejahteraan yang lebih manusiawi di tengah dominasi media arus utama.

Read online
File size72.27 KB
Pages4
DMCAReport

Related /

ads-block-test