INSCHOOLINSCHOOL

GHMJ (Global Health Management Journal)GHMJ (Global Health Management Journal)

Kopi adalah salah satu komoditas ekspor utama Indonesia yang menjadikan Indonesia sebagai negara pengekspor kopi terbesar keempat di dunia (Lisdayanti & Anwar, 2018; Sunarharum, Fibrianto, Yuwono & Nur, 2019). Hal ini tidak terlepas dari kisah sejarah kolonialisme Belanda pada abad ke-17 di mana biji kopi yang dibawa dari Malabar (India) ditanam di Pulau Jawa. Kualitasnya sangat baik dibandingkan dengan yang dibudidayakan di Eropa. Oleh karena itu, untuk memenuhi meningkatnya permintaan kopi dari Eropa, pemerintah kolonial Belanda memperluas areal perkebunan kopi ke pulau Sumatera, Sulawesi, dan Bali (Tim Karya Mandiri, 2018). Di Kalimantan, tanaman kopi diperkenalkan pada tahun 1980-an oleh transmigran Jawa.. . Di Provinsi Kalimantan Tengah, Desa Gandang Barat merupakan salah satu desa penghasil kopi gambut yang paling terkenal. Desa ini terletak di Kabupaten Pulang Pisau. Meskipun vegetasinya didominasi oleh lahan gambut, kopi masih dapat tumbuh dan memiliki cita rasa yang unik. Ada dua jenis kopi yang dibudidayakan di Kalimantan Tengah, yaitu Robusta dan Liberika. Sesuai dengan namanya, kopi Robusta (Coffea canephora) dikenal sebagai kopi yang kuat terhadap hama dan lingkungan yang keras (Tim Karya Mandiri, 2018). Ukuran biji kopi Robusta lebih kecil, oleh karena itu petani setempat menyebutnya dengan sebutan “kopi kecil. Namun, rasanya lebih pahit daripada kopi Arabika (Coffea arabica) karena mengandung lebih banyak kafein (Chindapan, Soydok & Devahastin, 2019).. . Di sisi lain, biji kopi Liberika (Coffea liberica) lebih besar, oleh karena itu dikenal sebagai kopi besar‟. Karena rasanya yang didominasi asam, pecinta kopi mengidentifikasi rasanya seperti rasa sayuran (Duaja, Simatupang & Kartika, 2019). Kalimantan Tengah merupakan salah satu dari tiga wilayah penghasil kopi Liberika di Indonesia. Baik kopi Robusta maupun Liberika dapat tumbuh di lahan gambut karena karakteristiknya yang mudah tumbuh di dataran rendah (tidak lebih tinggi dari 200 m) dengan tingkat kelembapan yang tinggi (Martini, Riyandoko & Roshetko, 2017). Menurut Kementerian Pertanian Republik Indonesia, 2.828 hektar wilayah Kalimantan Tengah telah ditanami kopi (Kementerian Pertanian, 2020). Sayangnya, hingga saat ini belum ada perhitungan kapasitas produksi kopi tahunan di Desa Gandang Barat (Badan Restorasi Gambut, 2018).. . Di desa Gandang Barat, produksi kopi dapat dikelola secara individu maupun berkelompok. Salah satu kelompok usaha kopi yang telah mendapat dukungan pemerintah adalah “Kelompok Usaha Kopi Bersama Bisa, yang didirikan pada tahun 2018. Kelompok ini beranggotakan 7 orang wanita dan dibantu oleh seorang tenaga pendamping kelompok tani dari Badan Restorasi Gambut (BRG).. . Kelompok usaha kopi ini menampung sekitar 30 petani kopi dengan rata-rata produksi sekitar 500 kg kopi hijau setiap tahunnya. Karena kelompok usaha kopi ini dikelola dengan baik dan menawarkan harga yang lebih wajar, sebagian besar petani kopi di desa Gandang tidak lagi menjual kopinya ke tengkulak. Produk utama kelompok usaha ini adalah kopi sangrai dan kopi bubuk dengan merek Sahep Gadabar. Sahep berarti lahan gambut dalam bahasa setempat, sedangkan Gadabar adalah singkatan dari Gandang Barat, desa mereka.. . Selama dua tahun terakhir, kelompok ini telah memasok biji kopi ke beberapa kafe dan usaha kecil di wilayah Kalimantan Tengah dan Selatan. Selain itu, pelanggan setia dari Jawa, Sumatera, dan Sulawesi juga menyukai cita rasa unik kopi gambut. Salah satu pemilik usaha kecil yang menggunakan bahan baku kopi gambut ini adalah Ibu Heni. Ibu Heni mencampurkan kopi gambut dengan rempah-rempah asli Dayak, antara lain bawang Dayak (Eleutherine bulbosa), sintuk madu (Cinnamomum sintoc), dan pasak bumi / longjack (Eurycoma longifolia). Rempah-rempah asli ini dipercaya memberikan manfaat kesehatan bagi konsumennya (Yuanita, Sunarti, Wahyuni & Suthama, 2019; Hendrawan, Herdiningsih, Maharani & Hawa, 2019; Khanijo & Jiraungkoorskul, 2016). Jenis kopi yang diproduksi oleh Ibu Heni ini bermerek Copasme.. . Selain menambah nilai jual, kopi gambut yang diinovasi dengan rempah-rempah lokal tentunya menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen. Ini sebenarnya merupakan potensi besar yang dapat dieksplorasi lebih dalam dan berpeluang menjadi produk ekspor. Namun, tentu saja, penelitian lebih lanjut diperlukan terutama untuk memberikan klaim kesehatan yang mungkin ditawarkan dari produk lokal ini. Di atas itu, hal penting dalam mengembangkan potensi kopi lahan gambut untuk menjadi komoditas ekspor adalah dengan membangun sistem sertifikasi yang berkelanjutan (Ibnu, Offermans & Glasbergen, 2018). Oleh karena itu, kerja sama yang sinergis antara pemerintah, pemilik bisnis, petani kopi, investor, dan sektor terkait sangat dibutuhkan.

Kopi gambut yang diinovasi dengan rempah-rempah lokal memiliki potensi besar sebagai produk ekspor, namun memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memberikan klaim kesehatan yang valid.Pengembangan potensi ini juga membutuhkan sistem sertifikasi berkelanjutan dan kerjasama sinergis antara pemerintah, pelaku bisnis, petani kopi, investor, dan sektor terkait.Dengan demikian, kopi gambut dapat menjadi komoditas ekspor yang bernilai tambah dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.

Penelitian lanjutan mengenai kopi gambut dapat difokuskan pada beberapa aspek penting. Pertama, perlu dilakukan studi mendalam untuk mengidentifikasi dan menguji senyawa bioaktif dalam kopi gambut serta rempah-rempah lokal yang berpotensi memberikan manfaat kesehatan, sehingga klaim kesehatan dapat divalidasi secara ilmiah. Kedua, penelitian dapat diarahkan untuk mengembangkan metode sertifikasi yang berkelanjutan dan terpercaya bagi kopi gambut, termasuk penelusuran asal-usul, praktik pertanian yang ramah lingkungan, dan standar kualitas yang jelas, guna meningkatkan kepercayaan konsumen dan daya saing di pasar internasional. Ketiga, studi komparatif mengenai efektivitas berbagai model kerjasama antara pemerintah, pelaku bisnis, petani kopi, dan investor dapat dilakukan untuk mengidentifikasi praktik terbaik dalam pengembangan rantai nilai kopi gambut yang inklusif dan berkelanjutan, serta mendorong inovasi dan diversifikasi produk turunan kopi gambut.

  1. Strengthening Group: Entrepreneurship Reorientation Toward Development of Liberica Coffee - IOPscience.... doi.org/10.1088/1755-1315/391/1/012060Strengthening Group Entrepreneurship Reorientation Toward Development of Liberica Coffee IOPscience doi 10 1088 1755 1315 391 1 012060
  2. Effect of ultrasonic assisted extraction on Dayak onion powder extraction (Eleutherine palmifolia) -... doi.org/10.1088/1755-1315/475/1/012015Effect of ultrasonic assisted extraction on Dayak onion powder extraction Eleutherine palmifolia doi 10 1088 1755 1315 475 1 012015
  3. Review Ergogenic Effect of Long Jack, Eurycoma Longifolia | Pharmacognosy Reviews. review ergogenic effect... doi.org/10.4103/0973-7847.194041Review Ergogenic Effect of Long Jack Eurycoma Longifolia Pharmacognosy Reviews review ergogenic effect doi 10 4103 0973 7847 194041
  1. #diversifikasi produk#diversifikasi produk
  2. #asuransi jiwa#asuransi jiwa
Read online
File size1.56 MB
Pages5
Short Linkhttps://juris.id/p-Ww
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test