PPICURUGPPICURUG

Langit Biru: Jurnal Ilmiah AviasiLangit Biru: Jurnal Ilmiah Aviasi

Insiden penerbangan yang dipicu oleh faktor meteorologi di Indonesia telah menjadi perhatian utama dalam beberapa dekade terakhir. Untuk mengurangi risiko tersebut, diperlukan pemahaman mendalam mengenai faktor-faktor yang berkontribusi terhadap mitigasi insiden, terutama dari aspek ketersediaan instrumen yang memberikan informasi akurat secara tepat waktu. Faktor instrumen dan manusia menjadi penting dalam upaya mitigasi, namun penelitian yang mengkaji kedua aspek tersebut secara komprehensif di Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis insiden penerbangan dan mengevaluasi upaya peningkatan keselamatan penerbangan dari perspektif meteorologi dan pengendali lalu lintas udara (ATC). Metode studi literatur digunakan dengan data dari 122 laporan insiden penerbangan periode 2020–2025 yang diterbitkan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa fase penerbangan rendah lebih rentan terhadap insiden akibat faktor manusia dan fenomena cuaca tingkat rendah seperti angin arus balik (wind shear). Oleh karena itu, diusulkan pelatihan meteorologi ATC berbasis kasus dunia nyata dan simulasi, serta optimalisasi sistem pengamatan cuaca otomatis (AWOS) untuk deteksi dini angin arus balik. Dengan mengoptimalkan AWOS yang sudah ada di berbagai bandara sebagai alternatif awal dari sistem LLWAS, Indonesia dapat menghemat lebih dari 2,1 triliun IDR sekaligus meningkatkan tingkat keselamatan penerbangan melalui peringatan dini angin arus balik yang didukung oleh kapabilitas ATC melalui program pelatihan.

Fase penerbangan pada ketinggian rendah merupakan fase yang rentan terhadap risiko keselamatan, terutama karena insiden keluar landasan (runway excursion) yang sering terjadi akibat pengaruh angin arus balik.Faktor lingkungan meteorologi dan komunikasi dengan pengendali lalu lintas udara (ATC) secara bersama-sama menyumbang proporsi besar penyebab insiden.Untuk mengatasi hal ini, diusulkan program pelatihan meteorologi bagi ATC yang mencakup simulasi darat dan simulasi penuh di kokpit, serta optimalisasi sistem pengamatan cuaca otomatis (AWOS) untuk deteksi dini angin arus balik.

Pertama, perlu diteliti efektivitas pelatihan meteorologi berbasis simulasi kokpit terhadap peningkatan kesadaran situasional (situational awareness) pengendali lalu lintas udara dalam merespons kondisi cuaca ekstrem secara lebih proaktif. Kedua, perlu dikembangkan model deteksi dini angin arus balik berbasis data historis AWOS yang dianalisis secara real-time untuk memberikan peringatan otomatis di bandara tanpa sistem LLWAS. Ketiga, perlu dievaluasi integrasi sistem peringatan AWOS dengan prosedur komunikasi ATC agar informasi cuaca kritis dapat disampaikan secara tepat waktu dan jelas kepada pilot selama fase pendaratan dan lepas landas, terutama di bandara pegunungan yang rawan cuaca lokal ekstrem. Studi-studi ini penting untuk memastikan bahwa peningkatan teknologi dan pelatihan benar-benar menurunkan risiko insiden, serta dapat diterapkan secara merata di seluruh bandara di Indonesia, termasuk yang berada di wilayah terpencil. Pendekatan gabungan antara teknologi, pelatihan, dan prosedur komunikasi harus terus dikaji untuk menyesuaikan dengan dinamika operasional dan kondisi geografis unik Indonesia. Dengan demikian, keselamatan penerbangan dapat ditingkatkan secara sistematis dan berkelanjutan.

  1. Regional Economic Growth and Air Transportation in Indonesia especially outside Java: a Backward Method... doi.org/10.14710/tataloka.23.2.190-200Regional Economic Growth and Air Transportation in Indonesia especially outside Java a Backward Method doi 10 14710 tataloka 23 2 190 200
Read online
File size660.02 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test