POLTEKKES PALEMBANGPOLTEKKES PALEMBANG

Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM)Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM)

Keterbatasan yang dimiliki anak tunanetra menjadi salah satu hambatan untuk memperoleh pengetahuan tentang kebersihan gigi dan mulut. Anak tunanetra membutuhkan media yang tepat untuk meningkatkan pengetahuan kebersihan gigi dan mulut. Salah satunya menggunakan braille dan audio. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan penyuluhan dental braille education (DBE) dan dental audio education (DAE) terhadap pengetahuan oral hygiene pada penyandang tunanetra di SDLB A Pajajaran Bandung. Metode penelitian ini menggunakan quasy eksperimen dengan rancangan one group pretest posttest design. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik proposional sampling sehingga jumlah responden sebanyak 50 siswa. Teknik analisis data menggunakan uji wilcoxon untuk mengetahui pengaruh dari masing-masing kelompok media dan uji mann whitney untuk mengetahui perbedaan dari dua kelompok media. Hasil penelitian menunjukan terdapat perbedaan tingkat pengetahuan yang signifikan dengan nilai p=0,000 (p<0,05) penyuluhan pada media dental braille education (DBE) dan dental audio education (DAE). Dapat disimpulkan, penyuluhan menggunakan media dental audio education (DAE) lebih efektif dalam meningkatkan pengetahuan kebersihan gigi dan mulut daripada media dental braille education (DBE).

Terdapat peningkatan pengetahuan antara sebelum dan sesudah diberikan media dental braille education (DBE) maupun media dental audio education (DAE) pada penyandang tunanetra di SLB A Pajajaran Bandung.Terdapat perbedaan signifikan dalam efektivitas kedua media, dengan media audio lebih efektif daripada media braille dalam meningkatkan pengetahuan kebersihan gigi dan mulut.Nilai signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05) mendukung temuan bahwa dental audio education lebih unggul dibandingkan dental braille education.

Pertama, perlu diteliti efektivitas kombinasi media braille dan audio secara bersamaan dalam satu intervensi edukasi untuk melihat apakah sinergi kedua media dapat memberikan pemahaman yang lebih utuh dan tahan lama bagi anak tunanetra dibandingkan penggunaan media terpisah. Kedua, penting untuk mengembangkan dan menguji model edukasi interaktif berbasis audio yang memungkinkan siswa tunanetra untuk berlatih dan memberikan respons verbal atau suara, sehingga proses belajar menjadi dua arah dan lebih melibatkan daya ingat serta imajinasi mereka. Ketiga, diperlukan penelitian lanjutan untuk mengevaluasi pengaruh modifikasi konten edukasi berbasis pengalaman sehari-hari anak tunanetra, seperti simulasi suara aktivitas menyikat gigi atau percakapan dokter gigi, dalam meningkatkan pemahaman dan kemandirian menjaga kebersihan gigi dan mulut.

  1. Hubungan Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Dengan Status Kebersihan Gigi dan Mulut pada Penyandang... doi.org/10.35790/eg.6.2.2018.20855Hubungan Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Dengan Status Kebersihan Gigi dan Mulut pada Penyandang doi 10 35790 eg 6 2 2018 20855
  2. Effectiveness of Different Educational Methods on Oral Health in 7-13-year-old Visually Impaired Children... doi.org/10.5812/compreped.112406Effectiveness of Different Educational Methods on Oral Health in 7 13 year old Visually Impaired Children doi 10 5812 compreped 112406
Read online
File size349.28 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test