UBHARAJAYAUBHARAJAYA

Journal of Engineering Environtmental Energy and ScienceJournal of Engineering Environtmental Energy and Science

Potensi geothermal di Indonesia sangat besar, namun saat ini pemanfaatannya dalam bauran energi nasional masih jauh dari harapan. Dari data terbaru Badan Geologi, potensi panas bumi Indonesia adalah sebesar 23,9 Giga Watt (GW) sampai tahun 2019. Adapun pemanfaatannya berdasarkan data dari Direktorat Panas bumi baru sekitar 8,9% atau 2.130,6 MW yang sudah berproduksi dan dikembangkan. Biaya eksplorasi yang tinggi, juga biaya pada saat pengembangan menjadi kendala investasi tersendiri, karena memerlukan biaya yang sangat besar. Dari komponen biaya-biaya tersebut, yang paling dominan adalah biaya pemboran, sehingga efisiensi dan efektivitas operasi pemboran menjadi sangat penting. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana teknologi metode slim hole drilling bisa membantu dalam upaya mengembangkan potensi energi panas bumi di Indonesia, melalui efisiensi biaya pemboran. Metode slim hole drilling adalah metode pengeboran sumur dengan diameter lebih kecil dari yang digunakan pada sumur konvensional di daerah tersebut. Diameter yang lebih kecil membantu mengurangi waktu dan biaya rig serta mengurangi biaya pipa. Slim hole drilling memiliki kelebihan seperti biaya operasi yang lebih rendah dibandingkan dengan conventional drilling dan tidak perlu membangun infrastruktur (jalan, suplai air), sehingga dihasilkan total well cost biaya pemboran yang lebih murah. Jadi dengan menggunakan metode ini diharapakan potensi energi panas bumi di indonesia bisa dapat di manfaatkan dengan baik dalam masa yang akan datang. Dibutuhkan juga komitmen investasi yang besar agar bisa dapat menjangkau potensi panas bumi dalam lokasi reservoir panas bumi yang sulit dijangkau.

Berdasarkan data terbaru dari Badan Geologi, Indonesia memiliki potensi panas bumi sebesar 23,9 Giga Watt.Namun dalam pemanfaatannya berdasarkan data dari Direktorat Panas Bumi baru sekitar 8,9% nya saja.Selain itu, biaya eksplorasi dan pemboran yang sangat tinggi juga menjadi salah satu kendala yang dihadapi dalam pengembangan potensi panas bumi di Indonesia.Oleh karena itu dibutuhkan adanya efisiensi dalam biaya pemboran untuk menekan biaya operasional pemborannya.Berdasarkan data dari penelitian di atas, dapat dilihat bahwa efisiensi biaya teknologi Slim Hole Drilling lebih tinggi daripada teknologi drilling lainnya yaitu sekitar US$ 400 – 1,000/meter dan membutuhkan lebih sedikit peralatan lainnya.Jadi dapat disimpulkan bahwa untuk efisiensi biaya, teknologi Slim Hole Drilling merupakan teknologi yang tepat untuk digunakan dalam pengembangan potensi panas bumi di Indonesia.

Berdasarkan latar belakang mengenai biaya eksplorasi dan pengembangan energi panas bumi yang tinggi, serta keterbatasan infrastruktur di beberapa lokasi, penelitian lanjutan dapat difokuskan pada pengembangan metode pemetaan reservoir panas bumi secara non-invasif yang lebih akurat dan efisien. Selain itu, perlu dilakukan studi komparatif mendalam mengenai efektivitas biaya dan dampak lingkungan dari metode slim hole drilling dibandingkan dengan metode pengeboran konvensional, dengan mempertimbangkan berbagai kondisi geologi dan geofisika di Indonesia. Terakhir, penelitian dapat diarahkan untuk mengembangkan material dan teknologi pengeboran yang lebih tahan terhadap kondisi ekstrem di reservoir panas bumi, seperti suhu dan tekanan tinggi, serta fluida korosif, guna meningkatkan efisiensi dan umur pakai sumur.

Read online
File size725.88 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test