4141

Jurnal Perikanan TerpaduJurnal Perikanan Terpadu

Salah satu kawasan mangrove yang memiliki potensi terbaik terletak di Kota Lhokseumawe. Kawasan mangrove berfungsi sebagai daerah perlindungan di wilayah pesisir dan digunakan sebagai vegetasi yang keberadaannya harus dijaga. Upaya pelestariannya dapat dilakukan dengan memetakan distribusi kawasan hutan mangrove sebagai basis data di Kota Lhokseumawe. Pemetaan distribusi kawasan hutan mangrove dapat dilakukan dengan menggunakan penginderaan jarak jauh. Penelitian ini dilakukan pada Oktober-November 2022 di Kota Lhokseumawe. Metode yang digunakan adalah interpretasi visual citra penginderaan jarak jauh dan survei lapangan. Teknik interpretasi visual digunakan untuk mengetahui luas informasi dari citra satelit tahun 2022 yang telah dikoreksi secara geometrik mengenai hutan mangrove. Survei lapangan diperlukan untuk mendapatkan hasil data yang lebih akurat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas hutan mangrove di Kota Lhokseumawe adalah sekitar 65,74 Ha. Luas tersebut diperoleh dari 49 poligon yang tersebar di Kota Lhokseumawe. Nilai kerapatan vegetasi mangrove di Kota Lhokseumawe memiliki tingkat kerapatan jarang, sedang, dan rapat. Berdasarkan hasil analisis, kerapatan mangrove di Kecamatan Muara Satu memiliki nilai 0,32 m2 dan termasuk ke dalam kategori tingkat kerapatan jarang. Kerapatan ekosistem mangrove di Kecamatan Banda Sakti, Muara Dua, dan Blang Mangat juga termasuk dalam kategori jarang dengan nilai sebesar 0,32 m2. Secara keseluruhan, kerapatan hutan mangrove di Kota Lhokseumawe termasuk ke dalam kategori jarang.

Berdasarkan hasil citra penginderaan jarak jauh, luas vegetasi mangrove di Kota Lhokseumawe adalah sekitar 65,74 Ha.Tingkat kerapatan vegetasi mangrove di Kota Lhokseumawe yang terletak di empat kecamatan, yaitu Kecamatan Muara Satu, Banda Sakti, Muara Dua, dan Blang Mangat, memiliki tingkat kerapatan dominan jarang dengan nilai 0,32 m2.Kerapatan vegetasi mangrove yang jarang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti gangguan manusia, invasi spesies asing, pencemaran lingkungan, dan perubahan aliran air.Perubahan ini dapat mengganggu pertumbuhan dan keberlanjutan mangrove, sehingga diperlukan upaya perlindungan dan pemeliharaan hutan mangrove dari tekanan manusia dan faktor lainnya.

Untuk penelitian lanjutan, dapat dilakukan studi lebih mendalam tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kerapatan vegetasi mangrove di Kota Lhokseumawe. Penelitian ini dapat berfokus pada identifikasi dan analisis dampak gangguan manusia, invasi spesies asing, pencemaran lingkungan, dan perubahan aliran air terhadap kesehatan dan keberlanjutan ekosistem mangrove. Selain itu, penelitian dapat mengeksplorasi strategi dan intervensi yang efektif untuk melindungi dan memulihkan ekosistem mangrove, termasuk upaya konservasi dan restorasi. Dengan demikian, penelitian lanjutan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam upaya pelestarian mangrove di Kota Lhokseumawe dan meningkatkan pemahaman tentang dinamika ekosistem mangrove secara keseluruhan.

Read online
File size602.07 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test