ISBIISBI

Pascasarjana ISBI Bandung Conference SeriesPascasarjana ISBI Bandung Conference Series

Suku Dayak Bumi Segandu adalah sebuah komunitas yang menganut aliran kepercayaan kejawen yang bebas tidak memiliki identitas, karena mempunyai keyakinan tersendiri, komunitas ini berada di Kecamatan Losarang Kabupaten Indramayu terbentuk sejak tahun 1970, Takmad adalah pendiri komunitas ini. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana mengenai kehidupan dan kepercayaan ritual yang dianutnya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif pendekatan studi kasus, untuk pengumpulan data penelitian diperoleh melalui studi pustaka, studi dokumentasi, observasi ke lapangan, dan wawancara terhadap pihak-pihak terkait. Filosofi kehidupannya bahwa inti ajaran dalam hidup adalah alam. Ritual yang dilakukan seperti kumkum dan mepe ini bertujuan untuk mendekatkan diri pada alam. Pulau Jawa dikuasai oleh Dewi-dewi, oleh sebab itu aliran kejawen disimbolkan dengan wanita seperti Nyi Roro Kidul (Penguasa Laut Kidul), Nyi Blorong (Penguasa Gunung Bromo), Dewi Sri (Dewi Padi) dan lain-lain. Sehingga Takmad sangat menghormati wanita. Ritual kepercayaan yang dianut Takmad ini adalah aliran Kepercayaan Kejawen, seperti melakukan kumkum dan mepe dengan tujuan mendekatkan diri pada alam dan tidak makan daging (vegetarian).

Suku Dayak Bumi Segandu adalah komunitas unik di Losarang, Indramayu, yang bukan etnis Dayak Kalimantan, melainkan kelompok dengan ajaran dan gaya hidup khas berbasis kejawen.Komunitas ini menekankan penghormatan terhadap alam dan perempuan, tercermin dari kepercayaan terhadap Nyi Dewi Ratu sebagai sumber kehidupan.Meskipun tidak mengaku beragama resmi, mereka menjalankan ritual Islami seperti tahlil dan maulid, menunjukkan sinkretisme dalam praktik keagamaan mereka.

Pertama, perlu penelitian lebih lanjut mengenai bagaimana generasi muda dalam komunitas Suku Dayak Bumi Segandu memaknai identitas kepercayaan mereka, terutama ketika terpapar pendidikan formal dan nilai-nilai masyarakat umum, untuk melihat apakah ajaran ini akan bertahan atau mengalami transformasi. Kedua, penting untuk mengkaji dampak psikologis dan sosial dari ritual kumkum dan mepe terhadap anggota komunitas, termasuk aspek ketahanan fisik, kesehatan mental, dan ikatan sosial, guna memahami fungsi ritual tidak hanya secara budaya tetapi juga dari sudut pandang kesejahteraan individu. Ketiga, perlu studi mendalam tentang dinamika gender dalam komunitas ini, khususnya bagaimana konsep penghormatan pada perempuan diwujudkan dalam praktik sehari-hari dan apakah ada ketegangan atau perubahan seiring waktu, untuk menilai sejauh mana filosofi matriarkal ini benar-benar hidup dalam struktur sosial komunitas.

Read online
File size895.25 KB
Pages25
DMCAReport

Related /

ads-block-test