UIN ALAUDDINUIN ALAUDDIN

Sulesana: Jurnal Wawasan KeislamanSulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Penelitian ini mengkaji perkembangan pemikiran filsafat Islam dalam mengkaji pengetahuan sesungguhnya tidak terlepas dari sumbangsih pemikiran dua tokoh filsafat Islam pada masanya yakni Al-Farabi dan Ibnu Sina. Kedua tokoh inilah yang juga mengilhami masa pencerahan peradaban Eropa terutama dari segi filsafat hukum dan ilmu pengetahuan sehingga menjadi peradaban yang cukup maju hingga saat ini. Penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi pokok pemikiran filosof Al-Farabi dan Ibnu Sina. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan dengan data primer buku dan jurnal. Temuan dalam penelitian ini adalah pada filsafat hukum Al-Farabi menekankan pada jiwa sebagaimana percaya pada keberadaan jiwa rasional terpisah yang mampu mencapai kebahagiaan melalui kontemplasi terhadap realitas yang dapat dipahami. Sedangkan pemikiran Ibnu Sina percaya bahwa akal budi dapat memungkinkan kemajuan melalui berbagai tingkat pemahaman dan pada akhirnya membawa kepada Tuhan, serta kebenaran hakiki. Pada ilmu pengetahuan Al-Farabi meyakini bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui akal aktif dan intuisi intelektual. Sedangkan Ibnu Sina terhadap ilmu pengetahuan sangat luas dan berpengaruh, dan ia percaya bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui indera dan akal. Implikasi penelitian ini diharapkan kepada pembaca sebagai motivator dalam belajar ilmu-ilmu Allah, beribadah dan berlatih untuk membersihkan diri, menjaga dalam setiap perkataan, perbuatan, hati dan pikiran untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah.

Al-Farabi dan Ibnu Sina adalah filsuf Islam terkemuka yang berkontribusi pada perkembangan Islam, dengan Al-Farabi lebih banyak dipengaruhi Plato dan Ibnu Sina lebih orisinal, fokus pada filsafat Islam serta kaitannya dengan ilmu pengetahuan lain.Pemikiran Al-Farabi menitikberatkan pada jiwa rasional dan konsep emanasi yang berujung pada kebahagiaan, sementara Ibnu Sina percaya pada akal budi sebagai jalan menuju pemahaman kebenaran hakiki dan Tuhan.Dalam pendidikan Islam, Al-Farabi mengedepankan model religius-rasional yang bertujuan pada kebahagiaan melalui pemikiran, sedangkan Ibnu Sina menekankan pengembangan seluruh potensi manusia—fisik, intelektual, dan budi pekerti—untuk menciptakan insan kamil.

Penelitian selanjutnya dapat menggali lebih dalam relevansi filosofi Al-Farabi dan Ibnu Sina, terutama tentang bagaimana mereka mengintegrasikan akal dan wahyu, untuk menghadapi tantangan pendidikan Islam di era modern yang semakin sekuler dan maju secara teknologi. Misalnya, bagaimana kurikulum pendidikan Islam dapat mengadopsi pendekatan mereka untuk menghasilkan individu yang seimbang antara kecerdasan intelektual dan spiritual. Selain itu, perlu juga dilakukan analisis komparatif yang lebih terperinci mengenai perbedaan spesifik dalam konsep-konsep kunci mereka, seperti teori emanasi atau pandangan tentang jiwa, untuk memahami nuansa yang mungkin terlewat dan implikasinya terhadap pemahaman kita akan kosmologi dan metafisika Islam. Ini penting agar kita bisa melihat bagaimana kedua pemikir besar ini mungkin menawarkan jalur pemikiran yang berbeda namun sama-sama mendalam. Terakhir, sebuah studi historis yang menelusuri penerimaan dan pengembangan ide-ide Al-Farabi dan Ibnu Sina oleh para pemikir Muslim setelah mereka, termasuk dalam tradisi sufisme dan Syiah, akan sangat berharga. Hal ini akan membantu kita memahami bagaimana warisan intelektual mereka terus membentuk dan memperkaya diskursus filsafat Islam sepanjang sejarah, serta bagaimana evolusi pemikiran ini dapat menjadi inspirasi baru bagi para peneliti saat ini.

Read online
File size256.77 KB
Pages19
DMCAReport

Related /

ads-block-test