UNUBLITARUNUBLITAR

Journal of Science NusantaraJournal of Science Nusantara

Simpang Empat Bersinyal Kanigoro merupakan simpul transportasi utama yang menghubungkan Kabupaten Blitar dengan wilayah Kediri, Tulungagung, dan Malang. Lokasi ini berperan sebagai pusat permukiman sekaligus kawasan perdagangan, yang mengakibatkan tingginya intensitas lalu lintas terutama pada jam-jam sibuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja simpang tersebut pada kondisi eksisting, memproyeksikan kondisi lima tahun mendatang, serta merumuskan alternatif solusi penanganan. Metode analisis menggunakan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997 yang dikombinasikan dengan pendekatan sistem informasi geografis. Pengambilan data dilakukan selama dua hari weekday dan weekend dengan mencakup volume lalu lintas, kondisi geometrik, dan durasi siklus sinyal. Hasil analisis menunjukkan tundaan rata-rata yang cukup tinggi dengan tingkat pelayanan (LOS) D hingga E, baik pada hari kerja maupun akhir pekan. Proyeksi lima tahun menunjukkan peningkatan tundaan tanpa peningkatan level of service. Solusi jangka pendek yang direkomendasikan antara lain optimalisasi fase sinyal dan pembatasan kendaraan saat jam sibuk, sedangkan untuk jangka panjang disarankan pemasangan E-TLE dan pengaturan ulang jalur masuk/keluar simpang. Studi ini menegaskan pentingnya perencanaan lalu lintas berkelanjutan agar simpang tidak menjadi titik kemacetan di masa depan.

Kinerja Simpang Empat Bersinyal Kanigoro dalam kondisi eksisting menunjukkan tingkat pelayanan rendah, yaitu pada kategori LOS D hingga E, yang menandakan tundaan cukup tinggi hingga sangat terasa, terutama pada jam puncak pagi dan sore.Proyeksi lima tahun ke depan menunjukkan bahwa tanpa intervensi signifikan, tingkat pelayanan tidak akan membaik karena pertumbuhan volume lalu lintas tidak diimbangi dengan peningkatan kapasitas.Solusi jangka pendek yang paling didukung masyarakat adalah optimalisasi fase sinyal, pemasangan perlengkapan jalan, dan pembatasan kendaraan pada jam sibuk, sedangkan solusi jangka panjang mencakup pemasangan E-TLE dan penyesuaian jalur masuk-keluar simpang.

Pertama, perlu dilakukan penelitian longitudinal dengan pemantauan kinerja simpang secara berkala minimal setahun sekali untuk memahami dinamika perubahan lalu lintas dan mengevaluasi efektivitas kebijakan yang diterapkan, sehingga rekomendasi penanganan bisa lebih adaptif. Kedua, penting untuk mengembangkan model prediksi lalu lintas berbasis data aktual dengan pendekatan yang lebih mutakhir dari MKJI 1997, misalnya dengan integrasi sistem sensor atau data GPS kendaraan, agar proyeksi volume dan tundaan lebih akurat dan responsif terhadap kondisi riil. Ketiga, sebaiknya dirancang studi tentang kelayakan dan dampak sosial-ekonomi dari kebijakan pembatasan kendaraan pada jam sibuk, seperti skema ganjil-genap atau zona rendah emisi, termasuk partisipasi masyarakat, kepatuhan, dan efektivitasnya dalam mengurangi kemacetan jangka panjang di kawasan perkotaan seperti Kanigoro. Ketiga ide ini saling melengkapi untuk memperkuat perencanaan transportasi berbasis bukti dan partisipatif di masa depan.

Read online
File size457.89 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test