STFXAMBONSTFXAMBON

Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius AmbonFides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Makalah ini menguraikan gagasan tanggung jawab yang melekat pada sikap keterbukaan dan pelayanan terhadap yang lain. Menjadi responsif berarti menembus tembok kenyamanan dan ketidakpedulian, terbuka terhadap seruan akan keadilan di tengah ketidakadilan, serta menyadari bahwa eksistensi bukan hanya untuk diri sendiri. Kehadiran sosial terwujud dalam pertemuan langsung dengan Yang Lain dalam bentuk konkret sehari-hari, bukan sebagai abstraksi atau objek studi belaka.

Ketidakpedulian muncul dari sikap egosentris yang mengedepankan kenyamanan dan keamanan diri sendiri, sehingga mengabaikan seruan dari yang lain.Menjadi manusia berarti hidup dalam relasi, yaitu merespons panggilan yang lain dengan tanggung jawab tanpa pamrih.Kebenaran kemanusiaan terwujud dalam pembukaan diri terhadap kemiskinan dan penderitaan orang lain sebagai bentuk pengakuan terhadap keadilan.

Pertama, perlu diteliti bagaimana rutinitas kerja dalam institusi memengaruhi kemampuan individu untuk merespons panggilan kemanusiaan secara spontan, khususnya di lingkungan yang sangat birokratis. Kedua, penting untuk mengkaji bentuk-bentuk ketidakpedulian baru dalam masyarakat digital, di mana interaksi dengan Yang Lain semakin tidak langsung dan termediasi oleh teknologi. Ketiga, perlu dikembangkan penelitian tentang strategi pendidikan etika berbasis pengalaman langsung yang dapat menumbuhkan sikap responsif dan mengurangi mekanisme penghindaran terhadap penderitaan orang lain di lingkungan akademik dan profesional. Penelitian-penelitian ini dapat mengungkap akar struktural dan psikologis dari ketidakpedulian modern, sekaligus merancang intervensi yang menyentuh aspek konkret kehidupan sehari-hari. Dengan memahami bagaimana kenyamanan dan sistem kerja membentuk sikap apatis, kita bisa menciptakan model pendidikan dan organisasi yang mendorong keterbukaan terhadap yang lain. Selain itu, eksplorasi terhadap pengalaman langsung — seperti program wajib pengabdian masyarakat bagi tenaga profesional — bisa menjadi sarana transformasi kesadaran etis. Studi tentang cara individu mengenali Yang Lain dalam format digital juga penting, mengingat banyak interaksi sosial kini terjadi secara maya. Akhirnya, pendekatan interdisipliner yang menggabungkan filsafat, psikologi, dan sosiologi diperlukan untuk memahami secara utuh dinamika antara identitas diri, sistem sosial, dan tanggung jawab moral.

Read online
File size111.46 KB
Pages5
DMCAReport

Related /

ads-block-test