JQWHJQWH

Journal for Quality in Women's HealthJournal for Quality in Women's Health

Kehamilan remaja di bawah usia 20 tahun merupakan masalah kesehatan reproduksi remaja yang menjadi perhatian di berbagai kalangan saat ini, disebabkan oleh adanya perilaku seksual sebelum menikah, sehingga menambah angka kematian ibu yang terjadi di dunia maupun di Indonesia. Oleh karena itu, perlu bagi tenaga kesehatan untuk memberikan pendidikan kesehatan kepada remaja mengenai kesehatan reproduksi remaja terhadap pengetahuan dan sikap seksual pranikah. Penelitian pre-eksperimental ini menggunakan rancangan one group pretest-posttest design dengan jumlah sampel 171 responden yang dipilih menggunakan teknik random sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner tentang kesehatan reproduksi remaja yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Data dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji paired t-test untuk mengetahui perbedaan pengetahuan dan sikap sebelum dan sesudah diberikan edukasi melalui media audio visual. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan signifikan dalam pengetahuan dan sikap sebelum dan sesudah intervensi dengan nilai p-value 0,000 < α = 0,05.

Berdasarkan hasil penelitian, terdapat perbedaan signifikan pada pengetahuan dan sikap remaja sebelum dan sesudah diberikan edukasi menggunakan media audio visual dengan nilai p-value 0,000 < α = 0,05.Hal ini menunjukkan bahwa edukasi tentang kesehatan reproduksi remaja berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan dan perbaikan sikap terhadap perilaku seksual pranikah.Dengan demikian, intervensi pendidikan kesehatan melalui media audio visual efektif dalam membentuk pemahaman dan sikap positif remaja di SMP Yayasan Pendidikan Cisarua Bogor tahun 2021.

Pertama, perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengevaluasi efektivitas media audio visual dibandingkan dengan metode edukasi lain seperti diskusi kelompok atau media digital interaktif dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan reproduksi remaja, sehingga dapat diketahui metode mana yang paling efektif dalam konteks sekolah. Kedua, perlu dikaji dampak jangka panjang dari edukasi tersebut terhadap perilaku nyata remaja, misalnya apakah peningkatan pengetahuan dan perubahan sikap berdampak pada penurunan perilaku seksual pranikah dalam waktu lebih dari enam bulan setelah intervensi. Ketiga, perlu diteliti faktor-faktor penghambat dan pendukung dalam penerimaan edukasi kesehatan reproduksi di tingkat sekolah menengah, termasuk peran guru, orang tua, dan norma sosial budaya, agar materi edukasi dapat dirancang lebih kontekstual dan berkelanjutan. Ketiga saran ini dapat menjadi dasar pengembangan program edukasi kesehatan reproduksi yang tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membentuk perilaku sehat yang berkelanjutan di kalangan remaja.

Read online
File size307.62 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test