UNJUNJ

Jurnal Sains GeografiJurnal Sains Geografi

Indikator untuk membangun kesetaraan pendidikan adalah tumbuhnya fasilitas pendidikan. Untuk memenuhi infrastruktur sosial, fasilitas pendidikan didistribusikan secara merata di seluruh wilayah dan terletak di lokasi-lokasi utama. Persebaran fasilitas yang merata menjadi tantangan pemerintah dalam pemenuhan fasilitas pendidikan pada kecamatan Koja. Average Nearest Neighbor Analysis atau analisis tetangga terdekat adalah suatu metode analisis yang bersifat kuantitatif dalam geografi yang bisa menentukan pola persebaran pada suatu pemukiman termasuk fasilitas pendidikan. Delapan titik SMA di Kecamatan Koja tersebar di beberapa kelurahan, seperti Kelurahan Tugu Selatan, Kelurahan Rawa Badak Utara, Kelurahan Lagoa, dan Kelurahan Tugu Utara. Pola sebaran Sekolah Menengah Atas di Kecamatan Koja termasuk dalam klasifikasi Dispersed, berdasarkan hasil analisis, yang mengandalkan hasil rasio tetangga terdekat yang diperoleh, yaitu 1,402073, dengan jarak rata-rata 595,3523 meter dan skor z 2,175608. Persebaran Sekolah Menengah Atas terhadap luas wilayah Kecamatan Koja cukup merata, namun perlu adanya penambahan fasilitas pendidikan khususnya SMA dalam menampung semua penduduk usia wajib belajar yang minat menempuh pendidikan di jenjang SMA di Kecamatan Koja.

Pola persebaran Sekolah Menengah Atas di Kecamatan Koja memiliki pola seragam atau berpencar-pencar, yang berarti setiap area berada secara renggang satu sama lain.Persebaran SMA di wilayah tersebut cukup merata, meskipun sekolah swasta lebih mendominasi dibandingkan sekolah negeri.Meskipun demikian, masih diperlukan penambahan fasilitas pendidikan khususnya SMA untuk menampung seluruh penduduk usia wajib belajar yang ingin melanjutkan ke jenjang SMA tanpa harus keluar dari kecamatan, serta mendukung kebijakan zonasi pemerintah.

Pertama, perlu diteliti bagaimana pola distribusi sekolah menengah atas dipengaruhi oleh kepadatan penduduk usia sekolah di setiap kelurahan di Kecamatan Koja, untuk mengetahui apakah persebaran SMA sudah sesuai dengan kebutuhan lokal. Kedua, penting untuk mengkaji perbandingan aksesibilitas siswa menuju sekolah negeri dan swasta menggunakan analisis jaringan jalan dan waktu tempuh, guna memahami hambatan mobilitas yang dihadapi siswa dalam konteks kebijakan zonasi. Ketiga, perlu dilakukan penelitian tentang kelayakan lokasi sekolah swasta dalam menunjang pemerataan pendidikan, termasuk kajian spasial terhadap fasilitas pendukung seperti angkutan umum, keamanan jalur, dan ketersediaan ruang publik di sekitar sekolah, agar distribusi pendidikan tidak hanya merata secara geometris tetapi juga adil secara sosial.

Read online
File size729.14 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test